Dark
Light
Dark
Light

Maulid dan Ragam Ekspresi Cinta pada Nabi Muhammad

Maulid dan Ragam Ekspresi Cinta pada Nabi Muhammad

Bulan Rabiul Awal yang dikenal dengan bulan Maulid atau bulan kelahiran Nabi Muhammad tentu memberikan kegembiraan dan harapan bagi umat manusia. Sebab Nabi Muhammad merupakan kunci syafaat, penyempurna, dan pamungkas dari para Nabi sebelumnya.

Hari kelahiran Nabi Muhammad bagi umat Islam dirayakan dengan ragam ekspresi sesuai adat yang berlaku. Tak terkecuali umat Islam di Indonesia memperingatinya dengan aneka ragam bentuk dan ciri khas tersendiri.

Ekspresi kegembiraan di hari kelahiran Nabi Muhammad yang diisi dengan kegiatan positif bermanfaat sangat dianjurkan. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitab Mafahim Yajibu an Tusahhah halaman 308-309 mengatakan:

ان الاجتماع لاجل المولد النبوي الشريف ما هو الا امر عادي وليس من العبادة في شيء وهذا ما نعتقده

Artinya: "Sesungguhnya pertemuan untuk perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ hanyalah perkara biasa dan bukanlah bagian dari ibadah, dan inilah yang kami yakini."

Sayyid Muhammad menekankan meskipun maulid adalah amrun adiyun atau kegiatan yang ditradisikan dan bukan ibadah akan tetapi dalam kegiatan tersebut mencakup sejumlah manfaat kebaikan yang dianjurkan oleh agama.

وَالْحَاصِلُ اَنّ الْاِجْتِمَاع لِاَجْلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ اَمْرٌ عَادِيٌّ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْعَادَاتِ الْخيَرَةِ الصَّالِحَةِ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَي مَنَافِعَ كَثِيْرَةٍ وَفَوَائِدَ تَعُوْدُ عَلَي النَّاسِ بِفَضْلٍ وَفِيْرٍ لِاَنَّهَا مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا بِافرادِهَا. 

Artinya: "Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi merupakan suatu tradisi dari beberapa tradisi yang baik dan mengandung banyak manfaat dan faidahnya, yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Karena itulah kemudian dianjurkan dalam agama."

Berkenaan dengan kegiatan baik dalam memperingati Maulid yang ditradisikan di Indonesia bisa dilihat dari acara Maulid Nabi yang dilakukan di lingkungan Keraton Yogjakarta dan Surakarta. Kegiatan ini biasanya diisi dengan Grebeg Maulid tepat tanggal 12 Rabiul Awwal.

Menurut KBBI kata Grebeg berasal dari kata gumrebeg, yang memiliki arti perayaan hari besar Islam. Sejarah Grebeg adalah warisan penyebaran Islam di Jawa yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga dan Raden Patah.

Grebeg Maulud berawal dari inisiasi Sunan Kalijaga mengadakan tabligh akbar di Kerajaan Demak. Sunan Kalijaga berhasil menggaet beberapa pihak kerajaan dan masyarakat luas untuk hadir di acara tersebut.

Dilansir dari beberapa sumber seperti budaya.blog.unisbank.ac.id, Grebeg Maulud adalah salah satu tradisi adat masyarakat Yogyakarta yang diselenggarakan tiap tahun. Grebeg Maulud diadakan untuk memperingati hari kelahiran dan peninggalan ajaran-ajaran Nabi Muhammad.

Grebeg Maulud memiliki arti wujud syukur dari Keraton Yogyakarta atas berkah kemakmuran yang dapat dinikmati bersama masyarakat. Grebeg Maulud identik dengan gunungan berupa kumpulan makanan atau bahan makanan yang disusun sedemikian rupa hingga menyerupai gunung. Pada saatnya gunungan ini akan dibawa keluar untuk diperebutkan masyarakat.

Ditinjau dari sudut pandang keagamaan, prosesi grebeg dan gunungan seperti ini mencerminkan ekspresi kegembiraan yang diluapkan oleh semua kalangan. Laki-laki, perempuan, anak-anak, dewasa berebut mengharap luruhan berkah.

Dengan demikian, kemeriahan perayaan Maulid Nabi di sejumlah daerah sejatinya ekspresi cinta kepada Nabi. Rasulullah bersabda:

 لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku (Nabi Muhammad) lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya."

Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa merayakan Maulid Nabi Muhammad adalah bagian dari ekspresi kegembiraan dan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad. 


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo