Dark
Light
Dark
Light

Menikah dengan Orang Bertakwa: Pilihan Tepat Meski Tanpa Cinta pada Pandangan Pertama

Menikah dengan Orang Bertakwa: Pilihan Tepat Meski Tanpa Cinta pada Pandangan Pertama

Maskawin yang sesungguhnya bukanlah apa yang kau terima di awal pernikahan, akan tetapi apa yang kau rasakan di dalam perjalanan mengarungi kehidupan rumah tangga. Maka pilihlah laki laki yang bertakwa kepada Allah.

Arina.id - Kiranya begitulah pesan yang disampaikan KH Afifuddin Muhajir, seorang kiai yang menjabat sebagai Wakil Rais 'Aam PBNU. Dawuh (nasihat) ini tak sengaja penulis temukan di sebuah postingan instagram akun @aisnu. Tanpa berpikir panjang, jari ini langsung menekan tombol save agar postingan ini bisa penulis baca di lain waktu.

Jika dipikir dan direnungkan, dawuh (nasihat) beliau memang benar adanya. Memilih pasangan yang bertakwa kepada Allah adalah pilihan yang tepat. Menikah dengan seseorang yang bertakwa berarti memilih seseorang yang akan menjalankan perintah Tuhan secara totalitas. Hal ini tentu berdampak positif pada perilakunya terhadap pasangan. Ia akan memenuhi hak pasangannya dan tidak akan menyakiti hatinya. Meskipun pernikahan mereka tak didasari dengan cinta pada pandangan yang pertama. 

Imam Hasan Al-Bashri, dalam kitab Nuzhatun-Nazhirin, pernah memberikan solusi kepada orang tua yang bingung memilih calon suami untuk putrinya. Saat itu, sang putri dilamar oleh banyak laki-laki, ia menyarankan agar memilih calon yang bertakwa kepada Allah. 

قَالَ رَجُلٌ لِلْحَسَنِ: قَدْ خَطَبَ ابْنَتِي جَمَاعَةٌ، فَمِمَّنْ أُزَوِّجُهَا؟ قَالَ: مِمَّنْ يَتَّقِي اللهَ، فَإِنَّهُ إِنْ أَحَبَّهَا أَكْرَمَهَا، وَإِنْ أَبْغَضَهَا لَمْ يَظْلِمْهَا. وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَنْ زَوَّجَ كَرِيمَتَهُ مِنْ فَاسِقٍ فَقَدْ قَطَعَ رَحِمَهَا

Artinya: ”Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Al-Hasan (Al-Bashri): "Banyak orang melamar putriku. Kepada siapa aku harus menikahkannya?" Imam Hasan Bashri menjawab:”Nikahkanlah dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Karena jika dia mencintainya, dia akan memuliakannya; dan jika dia tidak mencintainya, dia tidak akan menzaliminya. Rasulullah SAW juga bersabda: "Barangsiapa menikahkan anak perempuannya dengan orang yang fasik (banyak bermaksiat), maka sungguh dia telah memutus hubungan rahim (kekerabatan) dengannya.”

Poin ini menjadi sangat penting, terutama di era digital seperti sekarang, di mana banyak hubungan pernikahan kandas karena berbagai masalah kehidupan. Mulai dari faktor ekonomi hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering menjadi pemicu. Memilih pasangan yang bertakwa bisa menjadi solusi untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan penuh berkah, bahkan sekali lagi penulis katakan meskipun tidak didasari cinta pada pandangan pertama.

Sebab bukankah ada pepatah jawa mengatakan Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta itu karena terbiasa, cinta akan tumbuh seiring berlalunya waktu. Cinta juga bisa dibangun melalui proses, kesabaran, dan kebiasaan. Bahkan cinta dapat tumbuh kendatipun awalnya adalah sebuah bahan candaan. Bukankah banyak terjadi hubungan cinta yang awalnya bercanda?. 

Sebagaimana dawuh Ibnu Hazm dalam kitabnya Thauq al-Hamamah fi al-Ulfah wal Ullaf berikut;

الْحُبُّ – أَعَزَّكَ اللهُ – أَوَّلُهُ هَزْلٌ وَآخِرُهُ جِدٌّ. دَقَّتْ مَعَانِيهِ لِجَلَالَتِهَا عَنْ أَنْ تُوصَفَ، فَلَا تُدْرَكُ حَقِيقَتُهَا إِلَّا بِالْمُعَانَاةِ. وَلَيْسَ بِمُنْكَرٍ فِي الدِّيَانَةِ وَلَا بِمَحْظُورٍ فِي الشَّرِيعَةِ، إِذِ الْقُلُوبُ بِيَدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Artinya: ”Cinta awalnya adalah canda, tetapi akhirnya adalah keseriusan. Makna cinta begitu dalam dan agung sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hakikat cinta hanya bisa dirasakan melalui pengalaman. Cinta tidak dianggap tercela dalam agama maupun dilarang dalam syariat, karena hati manusia berada di tangan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.”

Sebagai penutup, bagi kawula muda yang sedang menjalani episode terberat dalam hubungan asmara misalnya, sudah menjalin cinta sejak lama namun tak berakhir di KUA, tak perlu berputus asa dan berlarut larut dalam kesedihan. Apalagi sampai merasa hidup ini runtuh hanya karena tidak bisa menikah dengan "si dia".

Masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh. Carilah pasangan baru, dan jangan lupa, pilihlah seseorang yang bertakwa agar rumah tanggamu kelak langgeng hingga usia senja. Soal cinta, ia bisa dibangun kembali seiring waktu. Dengan kesabaran, saling pengertian, dan kasih sayang, cinta akan tumbuh pada waktunya. Percayalah, setiap kisah ada hikmahnya. Wallahu a’lam bish shawab


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo