Arina.id - Di era teknologi yang serba canggih ini, daikui atau tidak, hampir setiap hari kita dijejali berbagai macam informasi, mulai dari berita terkini, tren viral velocity, hingga kajian Islam yang begitu mudah diakses. Hanya dengan satu klik, kita bisa menonton ceramah dari ulama ternama, membaca artikel keislaman, atau bahkan mengikuti kelas ngaji online. Ilmu agama pun semakin dekat dan mudah didapatkan.
Namun, ada satu tantangan yang acapkali menjadi sebuah keresahan dan masalah utama bagi para pecinta kajian islam yakni terkait mengamalkan ilmu yang telah didapat. Entah karena kesibukan, rasa malas, atau bahkan lupa, akhirnya ilmu yang didapat hanya tersimpan sebagai wawasan, bukan menjadi kebiasaan.
Lantas, apakah berarti kita tidak bisa mendapatkan pahala dari ilmu tersebut? Jangan khawatir, ada cara agar kita tetap mendapat keberkahan dan pahala meski belum mampu mengamalkannya sepenuhnya! simak penjelasannya!
Pentingnya Mengamalkan Ilmu dan Amalan yang Telah Didapat
Dalam literatur Islam, mengamalkan ilmu atau amalan yang telah diperoleh merupakan bagian yang sangat penting. Sebab, seseorang tidak bisa meraih derajat mulia sebagai pencari ilmu, seperti didoakan oleh makhluk di lautan atau dinaungi oleh sayap malaikat sebagai bentuk penghormatan tanpa mengamalkan ilmunya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad berikut:
وَاعْلَمْ أَنَّ العَالِمَ الَّذِي لَا يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ مَسْلُوبُ الفَضِيلَةِ، فَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَغْتَرَّ بِمَا وَرَدَ عَنِ اللَّهِ وَعَنْ رَسُولِهِ فِي فَضْلِ العِلْمِ، وَيُوهِمَ نَفْسَهُ أَنَّهُ دَاخِلٌ فِي ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ العِلْمِ مِنْ غَيْرِ عَمَلٍ
Artinya: ”Penting untuk diketahui bahwa seorang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya akan kehilangan keutamaannya. Jangan sampai tertipu dengan keutamaan ilmu yang disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, lalu merasa sudah termasuk di dalamnya hanya karena tahu banyak hal, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan.”(An Nasaih ad-Diniyyah Wa al-Wasaya al-Imaniyyah, [Dar al-Hawi, 1999] hal. 100)
Lebih lanjut Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan bahwa seseorang yang tidak mengamalkan ilmunya, maka Allah tidak akan menerimanya sampai orang tersebut mengamalkan ilmunya.
وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَعَلَّمُوا مَا شِئْتُمْ، فَوَاللهِ لَا يَقْبَلُ مِنْكُمْ حَتَّى تَعْمَلُوا بِهِ
Artinya: ”Rasulullah SAW pernah bersabda:”Pelajarilah apa saja yang kalian kehendaki, demi Allah, ilmu itu tidak akan diterima dari kalian sampai kalian mengamalkannya.” (An Nasaih ad-Diniyyah wa al-Wasaya al-Imaniyyah, [Dar al-Hawi, 1999] hal. 100)
Solusi Agar Tetap Mendapat Pahala Meski Belum Sempat Mengamalkan
Dalam kitab Al-Manhaj As-Sawi dijelaskan bahwa seseorang yang belum mampu, atau sebenarnya mampu namun harus menunda suatu amal kebaikan karena sedang mengerjakan amal lain, tetap bisa mendapatkan pahala jika ia meniatkan dan bertekad untuk melakukannya di waktu lain.
مَهْمَا سَمِعْتَ بِفَضِيلَةٍ مِنَ الفَضَائِلِ أَوْ عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ الخَيْرِ، لَا تَسْتَطِيعُ العَمَلَ بِهِ، أَوْ تَسْتَطِيعُهُ وَلَكِنْ لَا تَتَمَكَّنُ مِنْهُ إِلَّا بِتَرْكِ مَا أَنْتَ قَائِمٌ بِهِ وَمُلَابِسٌ لَهُ مِنْ خَيْرٍ آخَرَ هُوَ أَوْلَى لَكَ وَأَصْلَحُ فِي حَقِّكَ، فَيَنْبَغِي لَكَ أَنْ تَنْوِيَ ذَلِكَ الخَيْرَ وَتَعْزِمَ عَلَى فِعْلِ ذَلِكَ الفَضْلِ أَوْ العَمَلِ الصَّالِحِ مَهْمَا تَمَكَّنْتَ مِنْهُ وَفَرَغْتَ لَهُ، فَتَكُونَ بِنِيَّتِكَ الصَّالِحَةِ فِي جُمْلَةِ العَامِلِينَ وَالمُقِيمِينَ لَهُ. وَنِيَّةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ، وَيَبْلُغُ بِهَا مَا لَا يَبْلُغُ بِالعَمَلِ. انْتَهَى
Artinya: ”Apa pun kebaikan yang engkau dengar, baik itu keutamaan atau amalan kebajikan, tetapi engkau tidak mampu mengerjakannya, atau sebenarnya engkau mampu tetapi tidak bisa melaksanakannya kecuali dengan meninggalkan kebaikan lain yang sedang engkau lakukan dan lebih utama serta lebih bermanfaat bagimu, maka hendaknya engkau tetap berniat untuk melakukan kebaikan tersebut dan bertekad untuk mengerjakannya kapan pun engkau mampu dan memiliki waktu. Dengan niat yang baik, engkau akan termasuk dalam golongan orang-orang yang mengamalkan dan menegakkan kebaikan tersebut. Sesungguhnya, niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya, dan dengan niat yang tulus, seseorang dapat meraih pahala yang mungkin tidak bisa dicapai dengan perbuatan.” Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


