Dark
Light
Dark
Light

Sunah Makan Bersama dalam Satu Wadah

Sunah Makan Bersama dalam Satu Wadah

Arina.id - Islam mengajarkan umatnya berbagai adab dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal makan. Salah satu adab yang diajarkan Rasulullah SAW adalah makan bersama-sama dalam satu wadah, seperti menggunakan nampan besar. Tradisi ini tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga sarat dengan hikmah sosial, kebersamaan, dan keberkahan.

Di Indonesia, hal ini lumrah dilakukan meskipun sebagian dari kita kurang mengetahui atau abai dalam memahami bahwa ada kesunahan di dalamnya. Tradisi makan bersama dalam satu wadah ini kerap kita temui dalam cara makan anak-anak di pesantren atau di perjamuan kenduri yang mengundang makan banyak orang.

Tradisi ini ada juga di desa-desa wilayah Pasundan yang biasa menyebutnya dengan ngaliwet, di mana banyak orang berkumpul makan bersama dengan nasi liwet sebagai menu utama yang dihamparkan dalam daun pisang. Konon katanya makan dengan cara semacam ini akan menambah keakraban dan rasanya jauh lebih nikmat meskipun hanya dengan lauk sambel, lalapan, dan ikan asin.

Dalil Hadis tentang Makan Bersama

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits tentang keutamaan makan bersama dalam satu wadah sebagai berikut:

عن وحشي بن حرب رضي الله عنه أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع ؟ قال: فلعلكم تفترقون قالوا: نعم قال فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه رواه أبو داود

Artinya: “Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, "(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah kalian makan sendiri-sendiri?" Mereka menjawab, "Ya (kami makan sendiri-sendiri)". Rasulullah pun menjawab, "Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua."

Tradisi inilah yang tetap dipegang oleh beberapa kalangan ulama khususnya di Nusantara, dimana sebagian dari mereka akan enggan makan bila tidak bersama dalam satu tempat dengan alasan agar tetap menjaga kesunahan.

Bahkan, terdapat pula sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu makan bersama meskipun tidak menegaskan selalu dalam wadah yang sama:

وقال أنس رضى الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يأكل وحده وقال صلى الله عليه وسلم خير الطعام ماكثرت عليه الأيدى

Artinya: “Sahabat Anas RA. berkata bahwasannya Rasulullah SAW tidak pernah makan sendirian. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan.”

Dari kedua hadits ini kita bisa menyimpulkan bahwa salah satu bisa memperoleh keberkahan makanan adalah dengan makan bersama yang indikasinya adalah semakin banyak tangan yang mengambil suapan dari makanan tersebut maka keberkahannya akan semakin banyak.

Nabi Tak Suka Piring Kecil

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah menggunakan piring kecil saat makan. Kemungkinan besar beliau selalu makan bersama dengan para sahabat atau keluarga beliau dalam satu wadah bersama (nampan).

Sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari, j. IX, h. 607:

عَنْ أنَس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَا عَلِمْتُ النبي صلى الله عليه وسلم أكَلَ عَلَى سُكُرُّجَةٍ قَطُّ، ولا خُبِزَ لَهُ مُرَقَّقٌ قَطُّ، ولا أكَلَ على خِوَان قَطُّ قِيلَ لقتادَةَ فَعَلَى مَا كانُوا يَأكلُونَ؟ قَالَ: عَلى السُّفَرِ

Artinya: “Dari Anas RA., beliau berkata: ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi SAW makan menggunakan piring kecil, tidak makan roti halus, tidak makan menggunakan tempayan’. Ditanyakan pada Qatadah: ‘lantas mereka makan menggunakan apa?’ ia berkata: ‘menggunakan nampan dari kulit hewan’.”

Dalam kitab Zaadul Ma’ad juga disebutkan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Nabi pernah berkata:

كلوا جميعاً ولا تفترقوا ؛ كلوا جميعاً ولا تفترقوا ؛ فإن طعام الواحد يكفي الاثنين، وطعام الاثنين يكفي الأربعة، وطعام الأربعة يكفي الثمانية

Artinya: “Makanlah kalian dengan berkelompok dan jangan berpisah-pisah. Karena Makanan porsi satu orang sebenarnya cukup untuk dua orang, makanan dua orang sebenarnya cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan orang.”

Secara logika, porsi makan bersama nampaknya tidak akan mengenyangkan banyak orang, namun nyatanya Nabi mengatakan bahwa itu mengenyangkan. Penulis menduga bahwa kenyang tersebut berasal dari nikmatnya kebersamaan dan keberkahan yang ada dalam makan bersama.

Hikmah Makan Bersama dalam Satu Wadah

Berkaca pada beberapa riwayat hadis ini, ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari makan bersama dalam satu wadah, yakni:

  1. Menumbuhkan rasa kebersamaan. Makan bersama mengajarkan nilai persaudaraan, solidaritas, dan kesetaraan antar sesama. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, semua duduk setara di hadapan makanan.
  2. Melatih kepekaan sosial. Saat makan bersama, seseorang akan belajar untuk berbagi, menghormati orang lain, dan tidak serakah dalam mengambil makanan.
  3. Mendatangkan keberkahan. Dengan menyebut nama Allah dan makan secara bersamaan, keberkahan makanan akan bertambah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits.
  4. Mengurangi pemborosan, karena makan dalam satu wadah dapat mengurangi penggunaan peralatan makan berlebih, mengajarkan hidup sederhana dan hemat.
  5. Menumbuhkan adab dan akhlak mulia. Dalam makan bersama, seseorang diajarkan untuk tidak mengambil bagian orang lain, makan dari bagian terdekat, dan menjaga sopan santun.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa makan bersama dalam satu wadah merupakan sunah Nabi Muhammad SAW yang penuh hikmah. Selain mempererat ukhuwah (persaudaraan) antar sesama, kebiasaan ini juga mengajarkan adab mulia dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Di tengah kehidupan modern saat ini, menjaga tradisi sunah seperti ini bisa menjadi sarana mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkan nilai-nilai Islami dalam keluarga maupun masyarakat. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo