Tren cek khodam di TikTok telah menjadi fenomena viral yang menarik perhatian banyak pengguna. Khodam dikenal sebagai entitas atau makhluk halus yang dipercaya dapat berkomunikasi dengan manusia atau memberikan bantuan. Dalam tren ini, pengguna TikTok mencoba berbagai metode untuk "memeriksa" atau "mengidentifikasi" keberadaan khodam yang mungkin terkait dengan mereka.
Lantas bagaimana Islam merespons persoalan ini? Apakah diperbolehkan meminta bantuan dan berteman dengan jin?
Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Sya’rawi, Jilid I, halaman 496, Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan tentang bahaya meminta bantuan kepada jin. Beliau menegaskan bahwa tindakan ini bukan hanya terlarang, tetapi juga membawa dampak negatif bagi pelakunya.
Meskipun pada awalnya, seseorang yang meminta bantuan jin mungkin terlihat bahagia dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, kebahagiaan ini hanya bersifat sementara. Pada akhirnya, mereka akan mengalami kehidupan yang penuh dengan kesulitan, kesengsaraan, dan dosa.
Syekh Mutawalli Sya’rawi mengutip ayat Al-Qur’an [Al-Jin: 6] yang menjelaskan bahwa orang yang meminta bantuan jin akan semakin tersesat dan mendapatkan siksaan. Hal ini karena jin pada hakikatnya adalah makhluk jahat yang hanya ingin menjerumuskan manusia ke dalam kesengsaraan
{وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الإنس يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الجن فَزَادُوهُمْ رَهَقاً} [الجن: 6] أي أن الذي يستعين بالجن ينقلب عليه ويذيقه ألوانا من العذاب.
Artinya: "[Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat], maksudnya, orang yang meminta bantuan jin akan berbalik merugikan dirinya sendiri dan mengalami berbagai macam siksaan."
Oleh karena itu, Syekh Mutawalli Sya’rawi memperingatkan manusia untuk tidak mencari bantuan dari jin. Beliau menegaskan bahwa semua orang yang memohon bantuan jin tidak akan meninggal dunia kecuali setelah mengalami kesulitan dan kesengsaraan dalam hidup mereka.
Lebih lanjut, dalam kitab Qawa’id al-A’qaid min Kitab Ithafu as Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya ‘Ulumiddin, halaman 555, Sayyid Muhammad al-Husaini al-Jabidi mengatakan, meminta tolong pada jin untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi [ghaib] adalah dilarang keras. Hal ini dianggap sebagai bentuk kesyirikan karena mengesampingkan kepatuhan yang semestinya hanya kepada Allah swt. Memiliki ketergantungan semacam itu pada jin dipandang sebagai penyimpangan dari tauhid yang murni dan keyakinan akan kekuasaan Allah yang mutlak.
لا بأس بالرقى ما لم تكن شركا، ولا يجوز الاستعانة بالجن في قضاء حوائجه وامتثال أوامره وإخباره بشيء من المغيبات ونحو ذلك، واستمتاع الجني بالأنسي هو تعظيمه إياه واستقامته و خضوعه له .
Artinya: "Tidak mengapa untuk meruqyah selama tidak ada syirik, dan tidak boleh meminta bantuan kepada jin untuk memenuhi kebutuhan dan mematuhi perintahnya serta memberitahukan hal-hal yang tersembunyi kepada mereka dan sejenisnya. Dan menuntut mendengar jin dengan manusia adalah pengagungan mereka terhadap manusia dan ketaatan mereka kepadanya." [ Sayyid Muhammad al-Husaini al-Jabidi, Qawa’id al-A’qaid min Kitab Ithafu as Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya ‘Ulumiddin [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah,1971], halaman 555]
Selanjutnya, Syekh Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsir as-Sam’ani, jilid VI, halaman 66 menjelaskan bahwa berlindung kepada jin mendatangkan beban tambahan bagi manusia, bahkan akan menimbulkan dua akibat. Pertama, meminta bantuan dan jin akan membuat kesombongan bagi jin. Manusia yang berlindung kepada jin dianggap sombong karena mereka seolah-olah merasa superior. Hal ini memperlihatkan ketergantungan manusia kepada jin, yang seharusnya tidak terjadi.
Kedua, dosa bagi manusia. Berlindung kepada jin adalah perbuatan syirik, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tindakan ini menambah dosa bagi manusia karena melibatkan mereka dalam perbuatan yang dilarang oleh agama.
فِيهِ قَولَانِ: أَحدهمَا: إِلَّا أَن الْإِنْس زادوا الْجِنّ رهقا أَي: عَظمَة فِي أنفسهم، كَأَن الْإِنْس لما استعاذوا بالجن ازدادوا الْجِنّ فِي أنفسهم عَظمَة. وَالْقَوْل الثَّانِي: هُوَ أَن الْإِنْس ازدادوا رقها بالاستعاذة من الْجِنّ.
Artinya: "Terdapat dua pendapat: Yang pertama, manusia menambah rasa kebanggaan pada jin, yaitu: kebanggaan dalam diri mereka. Seakan-akan ketika manusia berlindung kepada jin, jin menjadi semakin merasa hebat dalam diri mereka. Pendapat kedua: manusia semakin bertambah ketakutannya dengan berlindung kepada jin,". [Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsir as-Sam’ani, jilid VI, [Riyadh, Darul Wathan, 1997], hal. 66].
Meskipun demikian, di sisi lain, terdapat pendapat ulama yang memperbolehkan meminta bantuan jin dalam hal-hal yang mubah, selama terhindar dari kejahatan, bahaya, dan kemusyrikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah berikut;
ومنهم من يستخدمهم في أمور مباحة ، إما إحضار ماله أو دلالة على مكان فيه مال ليس له مالك معصوم ، أو دفع من يؤذيه ونحو ذلك ، فهذا كاستعانة الإنس بعضهم ببعض في ذلك .
Artinya: "Di antara mereka ada yang menggunakan jin dalam urusan yang dibolehkan, semisal untuk menghadirkan harta mereka atau menunjukkan tempat di mana ada harta yang tidak memiliki pemilik yang terjamin, atau mengusir orang yang menyakitinya dan sejenisnya. Ini seperti manusia saling membantu satu sama lain dalam hal itu." [Ibnu Taymiyah, Majmu’ al-Fatawa, Jilid XIII, halaman 87]
Dengan demikian, sejatinya berhubungan dengan jin merupakan interaksi dengan makhluk ghaib yang memiliki potensi besar untuk menipu. Meskipun jin mengaku sebagai Muslim dan ingin membantu, kebenaran klaim mereka sulit dipastikan dan risiko tertipu tetap ada. Bahkan dalam hubungan antarmanusia, banyak orang yang tertipu dan terjebak dalam situasi yang merugikan. Oleh karena itu, bijaksana untuk menjauhi interaksi dan pergaulan dengan jin, mengingat kompleksitas dan potensi risiko yang terkait dengan hubungan semacam itu.
Editor: Muhammad Faizin


