Rangkaian perjalanan ibadah jemaah haji Indonesia di Arab Saudi dipusatkan di dua Tanah Suci yakni Makkah dan Madinah. Di Kota Makkah, jemaah melaksanakan rangkaian rukun dan wajib haji seperti wukuf, mabit di Muzdalifah dan Mina, melempar jamrah, tawaf, sai, dan tahallul. Inilah inti dari ibadah haji yang harus dikerjakan jemaah.
Sementara di Kota Madinah, jemaah diberi kesempatan untuk melaksanakan berbagai macam kesunnahan yang tidak terkait dengan pelaksanaan ibadah haji. Mereka melaksanakan ibadah yang dipusatkan di Masjid Nabawi, masjid suci ke dua umat Islam di dunia yang menjadi pusat dakwah Rasulullah.
Di antara ibadah yang bisa dilakukan yakni ziarah ke makam Rasulullah dan sahabat serta keluarganya, ibadah di Raudlah, shalat di Masjid Nabawi dan ibadah-ibadah lainnya. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat dari Sahabat Abu Hurairah:
صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلاَّ المَسْجِدَ الحَرَامَ
Artinya: "Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram." (HR. al-Bukhari).
Keutamaan inilah yang memotivasi jemaah untuk beribadah di Masjid Nabawi. Dan ibadah yang 'diburu' jemaah adalah melaksanakan sholat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi yang sering disebut Arba'in.
Kata Arba'in atau arba'un sendiri dalam bahasa Arab berarti empat puluh. Ibadah ini dilakukan dengan berjamaah 40 waktu tanpa tertinggal takbiratul ihram. Ini artinya, jemaah melaksanakan Arbain selama 8 hari berturut-turut sesuai alokasi jumlah hari yang dijadwalkan pemerintah untuk jemaah tinggal di Madinah.
Ibadah Arbain diyakini sebagai ibadah yang bisa membebaskan jemaah dari siksa api neraka dan juga kemunafikan. Hal ini didasarkan pada hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda:
مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ
Artinya: "Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan." (HR. Ahmad)
Dalam Kitab Fatawa Dar Al-Ifta' Al-Misriyyah, Syekh 'Athiyah Shaqr menjelaskan bahwa jika seseorang dalam kondisi bebas, dalam arti tidak ada kendala sama sekali, saat berada di Madinah dan dalam perjalanan hajinya, maka yang lebih utama ia melaksanakan sholat arba’in,
Namun jika ia dalam keadaan terbatas waktu untuk melakukan perjalanan berikutnya sebelum melaksanakan Arba'in, maka tidak melaksanakan sunnah arbain tidak menjadi masalah. Shalat arba'in ini adalah perkara sunah, bukan wajib. Harapan besar Allah akan tetap memberikan pahala besar itu pada jemaah, jika mereka sangat berkeinginan melaksanakan namun karena ada penghalang eksternal di luar keinginannya.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra dari Nabi saw: "Barangsiapa berniat untuk mengerjakan amal kebaikan namun belum terlaksana, maka Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna."
Dari penjelasan ini bisa disimpulkan bahwa belum melakukan kebaikan atas niatan sendiri akan dicatat sebagai kebaikan walaupun yang bersangkutan tidak melakukannya. Namun, jika ia tidak melakukannya atas keinginannya sendiri, maka ia tidak mendapat pahala.
Terkait dengan ibadah arbain ini juga bukan merupakan rangkaian dari rukun dan wajib haji. Sehingga keabsahan dari haji tidak terkait dengan arbain. Jemaah yang memang secara fisik dan kesempatan berhalangan untuk meraih kesempurnaan arbain tidak boleh memaksakan diri. Jika memaksakan diri, maka akan ada aspek lain yang lebih penting harus dikorbankan seperti kesehatan dan keselamatan jiwa.
Pemerintah Indonesia pun gencar memberikan imbauan pada jemaah untuk menjaga kesehatan dengan menyiapkan stamina untuk puncak ibadah haji. Ibadah-ibadah sunnah seperti sholat berjamaah bisa dilakukan di hotel, khususnya bagi mereka yang masuk kategori lansia dan risti.
Termasuk sunnah arbain, pemerintah juga mengimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri. Bagi jemaah haji gelombang pertama diimbau tidak menghabiskan tenaga di Madinah dan bagi jemaah gelombang kedua tetap jaga stamina setelah melewati puncak ibadah haji di Makkah.
Terlebih cuaca di Arab Saudi sangat panas di musim-musim pelaksanaan haji. Cuaca ekstrem bisa sewaktu-waktu datang seperti panas di atas 40 derajat dan angin serta badai diikuti dengan hujan.
Terkait dengan stamina dan kondisi fisik jemaah ini, ada beberapa negara yang tidak lagi memasukkan Arbain di agenda perjalanan haji mereka. Di antaranya adalah Malaysia yang sejak 2018 tidak menerapkan Arbain disamping menekan biaya yang harus dikeluarkan.
Editor: Muhammad Faizin


