Dark
Light
Dark
Light

Lengkap! Ini Amalan-amalan Sunah dalam Ibadah Haji

Lengkap! Ini Amalan-amalan Sunah dalam Ibadah Haji

Arina.id - Dalam setiap ibadah, Islam tidak hanya menetapkan rukun dan kewajiban, tetapi juga menyertakan sejumlah amalan yang disunahkan, baik sebelum maupun sesudah ibadah tersebut dilaksanakan. Demikian pula halnya dengan ibadah haji dan umrah.

Ada banyak sunah yang dianjurkan untuk dilakukan, terutama bagi jamaah yang masih berusia muda. Dengan tenaga yang masih kuat dan semangat yang tinggi, mereka memiliki peluang lebih besar untuk menghidupkan sunah-sunah ini dibandingkan dengan mereka yang sudah lanjut usia.

Habib Hasan Bin Ahmad Bin Muhammad Bin Salim Al Kaff dalam kitabnya Taqrir As Sadidah menuliskan secara lengkap sunah-sunah yang bisa dilakukan saat ibadah haji maupun umrah. Namun di sini hanya akan dijelaskan sunah yang berkaitan dengan rukun haji.

a. Amalan Sunah ketika Melaksanakan Ihram

Saat melakakukan ihram setidaknya ada 11 sunah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Memotong kumis dan menyisir rambut janggut
  2. Mencabut bulu ketiak 
  3. Memotong kuku
  4. Mencukur bulu kemaluan
  5. Mandi dengan niat untuk melaksanakan ihram
  6. Memakai kain ihram (izar atau rida’) yang baru, berwarna putih, dan telah dicuci
  7. Melaksanakan sholat dua rakaat ihram, dalam sholat tersebut disunahkan membaca surah Al-Ikhlash
  8. Memakai wewangian pada tubuh atau badan, tidak pada pakaian ihram
  9. Memakai alas kaki atau sandal
  10. Mengucapkan niat ihram dan talbiyah pertama secara lirih
  11. Berniat ihram saat mulai bepergian dengan menghadap kiblat

b. Amalan Sunah ketika Wukuf di Arafah

Ketika melakukan wukuf (berdiam) di tanah Arafah ada 9 sunah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Mandi untuk melaksanakan wukuf
  2. Tiba di tanah Arafah setelah matahari tergelincir (setelah masuk waktu zuhur) 
  3. Menjamak takdim shalat Zuhur dan Asar
  4. Memperbanyak zikir; tasbih, tahlil, membaca Al Qur’an, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan berdoa sembari menangis
  5. Menghadap kiblat dalam keadaan suci (berwudhu)
  6. Menggabungkan waktu siang dan malam, dalam artian hadir di Arafah baik siang maupun malam, dan ini dapat dilakukan jika berada di Arafah saat matahari terbenam.
  7. Berada di tempat terbuka, di bawah terik matahari, di dekat Jabal Rahmah
  8. Berniat menjamak takhir sholat Maghrib dan Isya jika yakin bisa melaksanakannya di Muzdalifah sebelum berakhirnya waktu ikhtiyar bermalam di Muzdalifah yakni sepertiga malam pertama, pendapat lain setengah malam)
  9. Bergerak menuju Muzdalifah setelah hilangnya warna kuning di langit (setelah benar benar masuk malam) 

c. Amalan Sunah ketika Melakukan Thawaf

Saat melakukan thawaf ada 14 amalan sunah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Berjalan tanpa alas kaki dan melangkah dengan langkah pendek
  2. Melakukan ar-ramal; berjalan cepat sembari menggerakkan kedua bahu dan merapatkan langkah, dilakukan pada tiga putaran thawaf, dan hanya disunahkan jika thawaf tersebut diikuti oleh sa’i
  3. Idhtiba’; menyelipkan bagian tengah kain ihram di bawah ketiak kanan dan kedua ujungnya diletakkan di atas bahu kiri. Disunahkan dalam thawaf yang diserta ramal
  4. Mendekat ke Ka’bah jika memungkinkan untuk ramal, jika tidak bisa maka boleh dari jauh
  5. Tenang, khusyuk dan tidak banyak bicara
  6. Mengangkat tangan ketika berdoa
  7. Melakukan thawaf secara berurutan (tidak diselingi hal lain)
  8. Membaca zikir-zikir yang disunahkan dengan hati yang khusyuk
  9. Mengusap Hajar Aswad dan menciumnya, menempelkan dahi ke Hajar Aswad dan mencium tangan setelah itu.
  10. Mengusap rukun Yamani dan mencium tangan setelahnya 
  11. Sholat dua rakaat setelah thawaf dengan membaca jahr (suara keras) di belakang maqam Ibrahim, jika tidak memungkinkan di dalam Hijr Ismail. Jika tidak juga memungkinkan, maka di manapun di dalam masjid.
  12. Berdoa di Multazam, yaitu area antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Bukan di pintunya, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.
  13. Berdoa di Al-Hatim, yaitu area antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim.
  14. Minum dan mengisi perut dengan air Zamzam, serta meniatkan agar hajat-hajatnya terpenuhi, baik urusan agama maupun dunia.

d. Amalan Sunah ketika Sa’i 

Ketika melakukan sa’i di antara bukit Shafa dan Marwa ada 9 sunah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Naik ke atas bukit Shafa dan Marwah setinggi kira-kira satu tinggi badan laki-laki.
  2. Berzikir dan berdoa di setiap putaran (saat berada di atas Shafa dan Marwah).
  3. Berjalan dengan tenang selama sa’i, dan berlari-lari kecil (harwalah) antara dua lampu hijau (dua tanda batas) khusus untuk laki-laki, tidak untuk perempuan.
  4. Melakukan sa’i secara berurutan (terus-menerus) tanpa jeda yang lama.
  5. Dalam keadaan suci dari hadas dan najis.
  6. Tidak ada jeda panjang antara thawaf, dua rakaat setelah thawaf, menyentuh Hajar Aswad, dan memulai sa’i.
  7. Membaca doa-doa yang dianjurkan selama sa’i.
  8. Menutup aurat antara pusar dan lutut, dan menutupi bagian kemaluan secara khusus, terutama jika sedang bersama orang lain di area sa’i. Jika sendirian, cukup menutup aurat biasa.
  9. Menggunakan idhtibā’ (menyelipkan kain ihram seperti saat thawaf) sebagaimana dijelaskan dalam sunah thawaf.

e. Amalan Sunah Ketika Mencukur Rambut (Tahalul)

Ketika melakukan Tahalul ada 7 sunah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  1. Menunda mencukur rambut hingga setelah melempar Jumrah ‘Aqabah dan setelah menyembelih hadyu (hewan kurban). Hal ini dilakukan pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).
  2. Memulai mencukur dari sisi kanan kepala dan menghadap kiblat.
  3. Cukur habis (halaq) untuk laki-laki, dan memotong sebagian rambut (taqshir) untuk perempuan, serta meratakan potongan pada seluruh kepala.
  4. Berdoa saat awal dan akhir cukur. Saat memulai cukur dianjurkan membaca:

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُمَّ هٰذِهِ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، فَاجْعَلْ لِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ نُورًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahumma hâdzihi nâshiyati bi yadika, faj‘al li bi kulli sya‘ratin nûran ilâ yaumil qiyâmah, waghfir lî dzunûbî.

Artinya: “Ya Allah, ini ubun-ubunku ada di tangan-Mu. Maka jadikanlah setiap helai rambut sebagai cahaya hingga hari kiamat, dan ampunilah dosaku”

Saat mengakhiri cukur dianjurkan membaca:

اللَّهُمَّ آتِنِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً، وَامْحُ عَنِّي سَيِّئَةً، وَارْفَعْ لِي بِهَا دَرَجَةً، وَاغْفِرْ لِي وَلِلْمُحَلِّقِينَ وَالْمُقَصِّرِينَ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ

Allahumma âtinî bi kulli sya‘ratin hasanah, wamhu ‘annî sayyi’ah, warfa‘ lî bihâ darajah, waghfir lî wa lil-muhalliqîn wa al-muqashshirîn wa lijamî‘i al-muslimîn.

Artinya: “Ya Allah, berikanlah aku satu kebaikan untuk setiap helai rambut ini, hapuskanlah satu dosa, angkatlah satu derajat, dan ampunilah aku, orang-orang yang mencukur dan memendekkan rambut, serta seluruh kaum Muslimin”.

  1. Tidak membuat kesepakatan upah terlebih dahulu antara orang yang dicukur dan tukang cukur.
  2. Mengubur rambut di tempat yang tidak dilalui orang.
  3. Bagi yang tidak memiliki rambut, tetap disunahkan mengusap kepala dengan pisau cukur (sebagai bentuk simbolik).

Demikian sunah-sunah yang berkaitan dengan rukun haji, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo