Dark
Light
Dark
Light

Siapakah Ulama Itu? Ini Definisi, Ciri, dan Klasifikasinya

Siapakah Ulama Itu? Ini Definisi, Ciri, dan Klasifikasinya

Arina.id - Ulama memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Mereka bukan hanya pewaris ilmu, melainkan juga teladan moral dan pembimbing spiritual. KH Ali Maksum Krapyak, salah seorang ulama besar Indonesia, dalam buku berjudul Ajakan Suci (1995), memberikan penjelasan yang mendalam mengenai pengertian ulama, ciri-cirinya, serta klasifikasinya.

Secara etimologis, kata ulama dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari alim, yang berarti orang yang berilmu. Oleh karena itu, ulama sering dimaknai sebagai "orang-orang yang luas ilmunya". Dalam al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa hanya ulama yang benar-benar memiliki rasa takut (khasyyah) kepada-Nya:

 اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ  

Artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir: 28)

Menurut KH Ali Maksum, dari ayat ini dapat dipahami bahwa ulama bukan sekadar orang yang memiliki keluasan ilmu, tetapi juga orang yang dengan ilmunya itu mencapai tingkat ketakwaan dan khasyyah kepada Allah SWT.

Para ulama tafsir juga memberikan pandangan serupa. Imam Ibnu Katsir, misalnya, menegaskan bahwa orang alim adalah mereka yang merasa takut kepada Allah, mencintai hal-hal yang diridhai-Nya, serta menjauhi segala sesuatu yang mendatangkan murka-Nya. Imam lain menjelaskan, cukup tanda kealiman seseorang ialah rasa takutnya kepada Allah, dan cukup tanda kebodohan seseorang ialah merasa bangga dengan amalnya sendiri.

Dengan demikian, inti dari keulamaan adalah ketakwaan. Ilmu menjadi landasan yang melahirkan ketakwaan tersebut. Tanpa ilmu agama yang memadai, seseorang tidak mungkin mencapai rasa khasyyah yang sejati kepada Allah.

Jenis-jenis Ulama

Merujuk pandangan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, KH Ali Maksum membagi ulama ke dalam dua kategori besar yakni ulama dunia dan ulama akhirat.

Ulama dunia adalah mereka yang menjadikan ilmu sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan duniawi. Orientasi mereka bukanlah mendekatkan diri kepada Allah, melainkan untuk mendapatkan kedudukan, popularitas, atau kekayaan.

Al-Qur’an dalam Surat Ali Imran: 187 menggambarkan golongan ini sebagai orang-orang yang diberi amanat ilmu namun mengkhianatinya dengan menyembunyikan kebenaran dan menukarkannya dengan keuntungan yang sedikit. Jika diukur dari hakikat keulamaan, maka ulama dunia sejatinya tidak layak disebut ulama. Sebab, sifat utama ulama adalah ketakwaan, dan hal itu telah hilang dari diri mereka.

Sebaliknya, ulama akhirat adalah ulama sejati. Mereka menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membimbing umat menuju jalan-Nya. Imam al-Ghazali menyebutkan beberapa tanda ulama sejati, antara lain sebagai berikut:

  • Mengutamakan kepentingan akhirat daripada kepentingan dunia.
  • Menyelaraskan ucapan dan perbuatan. Tidak pernah memerintahkan kebaikan kecuali telah melaksanakannya terlebih dahulu.
  • Bersungguh-sungguh menuntut ilmu yang bermanfaat untuk akhirat.
  • Hidup sederhana, tidak tamak terhadap dunia.
  • Menghindari kedekatan yang berlebihan dengan penguasa.
  • Berhati-hati dalam memberikan fatwa.
  • Fokus pada pembinaan akhlak mulia, termasuk muhasabah dan mujahadah.
  • Memperkuat keyakinan agama dalam hati.
  • Memancarkan ketenangan, kerendahan hati, dan kewibawaan yang membuat orang lain ingat kepada Allah.
  • Menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah dan hal-hal yang dapat merusak iman.

Prilaku dan Penampilan Ulama

Penampilan ulama sejati akan tampak dari perilaku mereka sehari-hari. Ulama adalah insan berilmu yang konsekuen, suri teladan bagi masyarakat, serta mampu membangun mental umat.

Fatwa yang mereka keluarkan bersifat hati-hati, penuh pertimbangan, dan pertama-tama ditujukan untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, fatwa ulama sejati mudah diterima dan diamalkan masyarakat, sebab lahir dari hati yang tulus.

Ilmu mereka bermanfaat karena dipancarkan dengan kesucian hati, disampaikan secara sederhana dan obyektif, serta tercermin dalam perilaku hidupnya. Dengan demikian, ulama sejati bukan hanya guru ilmu, tetapi juga pembimbing rohani yang membawa umat menuju kebaikan dan ketakwaan.

Dengan pemahaman ini, kita diingatkan untuk tidak hanya menghormati ulama karena ilmunya, tetapi lebih penting lagi karena ketakwaannya. Ulama sejati adalah mereka yang dengan ilmunya menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan membimbing umat menuju kehidupan yang diridhai-Nya. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo