Dark
Light
Dark
Light

Tarawih Tak Sampai Selesai, Apakah Bernilai Pahala?

Tarawih Tak Sampai Selesai, Apakah Bernilai Pahala?

Arina.id - Di antara amalan sunnah yang sangat identik dengan Ramadhan adalah sholat Tarawih berjamaah. Sholat Tarawih dilaksanakan pada malam-malam Ramadhan setelah sholat Isya dan sebelum sholat Witir. Hukumnya sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.

Ibadah tersebut memiliki keutamaan besar sebab amalan ini tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya, lalu dilanjutkan oleh para sahabat serta umat Islam setelah beliau wafat.

Adapun jumlah rakaat sholat Tarawih, menurut pendapat mayoritas kalangan Syafi’iyyah adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam sebagaimana termaktub pada redaksi hadits berikut:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ 

Artinya: “Sungguh Nabi Muhammad SAW melakukan sholat di bulan Ramadhan tanpa berjamaah sebanyak 20 rakaat dan (ditambah) sholat Witir.” (HR. Al-Baihaqi)

Meski begitu, dalam praktiknya tidak semua orang mampu mengikuti sholat Tarawih hingga selesai 20 rakaat. Ada yang terpaksa berhenti akibat kelelahan, kondisi kesehatan, tuntutan pekerjaan, atau alasan lainnya yang mengharuskan mereka menghentikan sholat Tarawih sebelum genap 20 rakaat.

Lalu, apakah seseorang yang tidak dapat menyelesaikan seluruh rakaat sholat Tarawih tetap memperoleh pahala?

Berdasarkan sejumlah literatur fiqih mazhab Syafi’i, diterangkan bahwa seseorang tetap mendapatkan pahala Tarawih sesuai dengan jumlah rakaat yang ia kerjakan, meskipun tidak genap 20 rakaat. Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’isyan Ad-Dau’ani (wafat 1270 H) dalam kitabnya menjelaskan:

وَلَوْ صَلَّى مَا عَدَا رَكْعَةَ الْوِتْرِ أُثِيبَ عَلَيْهِ ثَوَابَ الْوِتْرِ، وَكَذَا مَنْ أَتَى بِبَعْضِ التَّرَاوِيحِ أُثِيبَ عَلَى مَا أَتَى بِهِ ثَوَابَ التَّرَاوِيحِ، كَمَا فِي التُّحْفَةِ. زَادَ الرَّشِيدِيُّ: وَإِنْ قَصَدَ الِاقْتِصَارَ عَلَيْهِ

Artinya: “Seandainya seseorang melaksanakan sholat selain satu rakaat Witir, maka ia tetap mendapatkan pahala Witir atas rakaat yang ia kerjakan. Demikian pula, siapa yang mengerjakan sebagian dari sholat Tarawih, maka ia akan memperoleh pahala Tarawih atas bagian yang ia kerjakan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah. Imam Ar-Rasyidi menambahkan: meskipun ia memang berniat mencukupkan diri hanya dengan sebagian itu.” (Busyra Al-Karim Bi Syarh Masail At-Ta’lim [Jeddah: Dar Al-Minhaj], vol. 1, h. 312)

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Syekh Ali bin Ahmad bin Sa’id Bashabirin (wafat 1304 H). Ia menegaskan bahwa orang yang melaksanakan sebagian rakaat Tarawih tetap memperoleh pahala Tarawih. Walaupun sebagian ulama ada yang mengarahkan permasalahan tersebut sebagai pembahasan tentang kesempurnaan pahala, namun hal ini dianggap jauh: 

مَنْ أَتَى بِبَعْضِ التَّرَاوِيحِ أُثِيبَ عَلَيْهِ ثَوَابَ التَّرَاوِيحِ، كَمَا فِي التُّحْفَةِ. زَادَ الرَّشِيدِيُّ: وَإِنْ قَصَدَ الِاقْتِصَارَ عَلَيْهِ، وَمِثْلُهُ سم عَلَى شَرْحَيِ الْمِنْهَاجِ وَالْبَهْجَةِ اسْتِظْهَارًا مِنْهُ .لَكِنْ فِي شَرْحِ الْبَهْجَةِ وَفَتْحِ الْجَوَادِ وَفَتْحِ الْمُعِينِ مَا يُخَالِفُ ذلِكَ، لَكِنْ حَمَلَ سم مَا فِي فَتْحِ الْجَوَادِ عَلَى حِيَازَةِ الْأَكْمَلِ، وَهُوَ بَعِيدٌ، فَالْعُهْدَةُ عَلَيْهِ

Artinya: “Barang siapa melaksanakan sebagian dari sholat Tarawih, maka ia akan mendapatkan pahala Tarawih sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah. Imam Ar-Rasyidi menambahkan: meskipun ia berniat mencukupkan diri hanya dengan sebagian itu. Pendapat serupa juga disebutkan oleh Imam Ibn Qasim Al-‘Ubbadi dalam syarah Minhaj dan Al-Bahjah sebagai suatu penguatan darinya. Namun, dalam Syarh Bahjah, Fathul Jawad, dan Fathul Mu’in terdapat keterangan yang bertentangan dengan hal tersebut. Akan tetapi, Imam Ibn Qasim Al-‘Ubbadi menafsirkan keterangan dalam Fathul Jawad sebagai maksud memperoleh pahala yang paling sempurna, meskipun penafsiran itu dinilai jauh (kurang kuat). Maka tanggung jawab pendapat itu berada padanya.” (Itsmid Al-A’inain Fi Ba’di Ikhtilaf Asy-Syaikhain [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah], h. 394)

Walhasil, sholat Tarawih yang tidak ditunaikan hingga genap dua puluh rakaat hukumnya tetap sah dan pelakunya mendapatkan pahala sesuai dengan jumlah rakaat yang ia kerjakan. Kendati demikian, menyempurnakan 20 rakaat tentu lebih utama serta mendekati kesempurnaan pahala bagi yang mampu.

Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan sholat Tarawih hingga akhir. Namun, apabila seseorang memiliki uzur atau keterbatasan sehingga tidak mampu menuntaskan keseluruhan rakaat, maka tak perlu berkecil hati. Lantaran, setiap rakaat yang dikerjakan dengan keikhlasan tetap bernilai ibadah dan menjadi bagian dari amal kebaikan di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo