Apa pun masalahnya, bangku Indomaret solusinya.
Seberat apapun beban hidupmu, masih ada kursi besi Indomaret menunggu.
Kalimat di atas bertebaran di sosial media. Rata-rata unggahan yang mengangkat perihal kesehatan mental dan Indomaret dibanjiri ribuan like dan komentar. Tagline seperti itu meskipun terdengar seperti iklan, sebenarnya merupakan fenomena pop culture yang berasal dari celotehan warganet di platform X lalu merambah ke Instagram.
Misalnya, pada unggahan di Instagram @tutusthomson. Akun itu mengunggah seorang laki-laki duduk di kursi Indomaret dengan sebotol kopi kemasan, melamun, diiringi musik, ditambah tagline: 'Psikolog mahal, makanya Indomaret nyediain kursi besi di depan'. Unggahan itu per tanggal 9 Februri 2026 sudah di-like 110.000 orang, 5.101 komentar, 13.400 kali dibagikan, dan diputar lebih dari dua juta kali.
Celetukan itu telah berkembang luas dan menjadi semacam kalimat sakti yang punya makna mendalam. Kursi di depan minimarket seperti Indomaret kini menjadi simbol ‘tempat pelarian” juga “kontemplasi” bagi mereka yang membutuhkan waktu untuk merenung atau beristirahat secara emosional.
Asal muasal dan maksud awal unggahan demikian tidak diketahui pasti. Tapi, kini ternyata masyarakat merasa relate dengan unggahan tersebut. Kursi Indomaret dimaknai bukan sekadar tempat duduk setelah belanja atau istirahat sejenak dari perjalanan jauh. Lebih dari itu, kursi Indomaret menjadi tempat untuk merenungkan masalah, mencari solusi, hingga beristirahat dari riuhnya pekerjaan atau lingkungan.
Selain duduk di kursi Indomaret, fenomena pop culture lainnya adalah yapping. Di kalangan Ge-z cara ini dipercaya mampu meredakan stres bagi sebagian orang. Merujuk pada Merriam Webster, kata yapping berasal dari kata yap yang berarti menyalak. Yapping merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang memiliki arti bicara terus-menerus, sering kali dalam konteks yang dianggap mengganggu, tidak penting, atau terlalu banyak. Yapping tidak hanya dilakukan di dunia nyata tetapi juga maya.
Yapping telah menjadi tren budaya internet, khususnya kalangan Gen-Z di media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter (X). Misalnya video yap session kreator konten TikTok yang membuat video panjang berisi ocehan tentang suatu topik secara mendetail, sering kali sarkastik atau tidak penting. Mengirimkan voice notes (VN) berdurasi panjang ke teman atau grup chat juga masuk dalam yapping hingga mengetik panjang di kolom komentar.
Fenomena pop culture yang digandrungi anak muda ini sebenarnya mengandung maksud banyak hal. Karena biaya terjangkau dan aksesnya yang tidak rumit banyak orang mudah mempraktikkannya untuk menghilangkan stres. Namun, di balik viralnya cara ini, secara tidak langsung, kursi Indomaret dan yapping menjadi isyarat kritik kurangnya dukungan dari pemerintah dan sistem kesehatan mental bagi masyarakat yang merasa tertekan oleh ketidakpastian hidup.
Kompas (22/3/2024) melaporkan menurut World Happiness Report 2024 Indonesia menjadi negara paling bahagia ranking ke-80 dari 143 negara. Ranking ini berada di bawah negara-negara Asia lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang juga masuk dalam cakupan penelitian.
Di Asia, Singapura menduduki urutan ke-30, Taiwan ke-31. Setelah itu Uzbekistan (47), Kazakhstan (49), Jepang (51), Korea Selatan (52), Filipina (53), Vietnam (54), Thailand (58), Malaysia (59), China (60), Kirgistan (75), dan Mongolia (77). Kemudian Indonesia menduduki peringkat ke-80.
Laporan yang sama juga menampilkan hasil penelitian indikator kebahagiaan anak muda usia di bawah 30 tahun dari tahun 2021 hingga 2023. Indonesia menduduki peringkat ke-75 dari 143 negara, kalah dengan negara kawasan Asia lainnya seperti Malaysia yang berada di peringkat ke-64, Vietnam peringkat ke-65, dan Singapura peringkat ke-54.
Lalu, dilihat dari Indikator bahagia orang dewasa usia 60 tahun ke atas dari tahun 2021 hingga 2023, Indonesia menduduki peringkat ke-79 dari 143 negara. Peringkat ini di bawah negara Asia lainnya, seperti Laos (77), Nepal (76), Hong Kong (74), dan Malaysia (77).
Peneliti di Research Center of Population Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanu Endar Prasetyo, dalam liputan Kompas, berpendapat bahwa jika melihat pencapaian Singapura, mengurangi kesenjangan upah bisa berdampak pada kebahagiaan individu. Strategi ini berhasil karena mampu menurunkan stres dan kecemasan yang secara tidak langsung menjadi faktor meningkatkan kebahagiaan warga Singapura.
Indonesia, selain ranking upah minimum yang cenderung rendah dibanding negara lain, juga memiliki masalah serius terkait kesenjangan upah antargender baik di perdesaan maupun perkotaan. Masalah ini memicu meningkatnya rasa stres dan kelelahan mental yang dirasakan masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan stereotip seputar gangguan mental dan tingginya biaya konseling.
Tidak dipungkiri, stereotip terhadap gangguan mental masih berkembang di Indonesia. Seseorang yang memilih untuk pergi ke psikolog melakukan sesi konseling sering dilabeli gila atau lemah. Banyak orang yang beranggapan bahwa pergi ke psikolog berarti tidak normal atau tidak mampu mengendalikan diri. Media yang kurang pengetahuan juga kerap menimbulkan stereotip bahwa orang dengan gangguan mental berbahaya, padahal kenyataannya mereka lebih sering menjadi korban dari pada pelaku. Selain itu juga masih ada anggapan bahwa memiliki masalah mental adalah aib keluarga atau pribadi sehingga orang enggan terbuka.
Alasan ekonomi turut memperkuat. Bagi orang-orang dengan gaji UMR menyisihkan sebagian uang untuk ke psikolog atau psikiater adalah kemewahan. Berdasarkan sundayinsurance.co.id tarif psikiater di Indonesia cukup beragam, rata-rata harga konsultasi mulai dari Rp150.000 sampai dengan Rp700.000 per sesi (-+60 menit). Biaya itu tidak bisa dianggap enteng bagi seseorang dengan penghasilan rendah.
Pada akhirnya, walaupun duduk di kursi Indomaret maupun yapping dipercayai bisa meredakan stres, cara ini jika dilakukan berlebihan dan tanpa henti bisa dianggap mengganggu. Jika stres yang dirasakan sangat berat dan tidak kunjung hilang, pendekatan lain seperti relaksasi, pergi ke alam, atau berbicara dengan ahlinya agaknya lebih efektif untuk dilakukan.
Editor: Kendi Setiawan


