Dark
Light
Dark
Light

Fenomena 'War Takjil' di Media Sosial, Keberhasilan Literasi Digital Bangun Toleransi Antarumat Beragama

Fenomena 'War Takjil' di Media Sosial, Keberhasilan Literasi Digital Bangun Toleransi Antarumat Beragama

Fenomena perang takjil atau lazim disebut war takjil menjadi salah satu tren yang disorot pada Ramadhan 1445 H atau 2024 tahun ini. Dalam video yang beredar di media sosial, banyak umat non-Islam, yang kerap disebut nonis, berlomba-lomba untuk berburu atau belanja takjil bersama Muslim yang hendak berbuka puasa. 

Mereka berbondong-bondong menuju penjual takjil dan memborong seluruh dagangannya serta meliput kegiatannya. Alhasil, tak jarang warga Muslim yang biasanya membeli takjil pada jam 5 sore tak kebagian. Alih-alih marah, justru harmonis berbalut kejenakaan di dunia maya.

Misalnya saja pendeta Marcel yang menyerukan ke jamaat agar mulai perang takjil di jam 3 sore, karena pada saat umat Muslim sedang lemas-lemasnya. Sontak saja, video tersebut menuai reaksi kocak dari warganet. 

"Jam 3 mereka masih lemas, kita sudah standbay,” ujar pendeta Marcel, yang disambut gelak tawa jemaatnya.

"Tapi kata teman saya, oke kalian ya sekarang boleh menang, tapi nanti Paskah kami balas dendam, nanti pas Paskah telur-telur kami borong semuanya, supaya Paskah kalian pakai kinderjoy,” ujar pendeta itu, diunggah dalam akun instagram Habib Ja'far.

"Dalam agama memang kita toleran, tapi soal log in kita duluan,” timpal Habib Ja’far yang turut mengomentari war takjil  pendeta Marcel.

Tidak hanya itu, ada pula yang memberikan surat terbuka bagi penjual takjil untuk menerapkan aturan dengan memperlihatkan KTP terlebih dahulu sebelum warga dapat membeli takjil.

"Kepada penjual takjil yang terhormat tolong terapkan aturan memperlihatkan KTP sebelum membeli, saya capek war takjil kayak war tiket konser," candaan @faryangga pada akun TikToknya, Jumat (16/3/2024).

War takjil dan pengaruh digital
Takjil bukan lagi sekadar pelengkap Ramadhan. Aneka kudapan itu mampu meluruhkan sekat suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Bahkan, war takjil membuat suasana lebih adem setelah berbagai perang politik usai gelaran Pemilu. 

Sekretaris Siber Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Mabrur L. Banuna mengatakan perubahan perilaku konsumsi dan tradisi keagamaan masyarakat selama Ramadhan sangat terpengaruh oleh perkembangan dunia digital. Bahkan, kehidupan beragama juga tak lepas dari pengaruh dunia digital.

 

"Karena itu, seringkali terjadi perdebatan yang tidak didasari ilmu," kata dia. 

Ketika media sosial melakukan perang di media sosial, sering membawa nama agama. Namun, kata Mabrur, dengan adanya war takjil, suasana jadi lebih mencair dan no heart feeling. 

"War takjil justru berbicara persoalan inti dalam beragama. Karena berbicara soal rangkaian ibadah puasa. Dan ternyata umat beragama di Indonesia bisa cair kalau gak bawa-bawa agama ke politik," ujar Mabrur. 

Ibob Tarigan, seorang kreator konten mengatakan takjil menjadi salah satu bentuk keberhasilan literasi digital dan telah merambah masyarakat untuk bisa lebih santai menanggapi isu di sosial media. Masyarakat telah mengerti mana konten yang dapat dinikmati sebagai ilmu dan mana yang harus dinikmati secara santai.

War takjil sebagai sesuatu yang diperlukan saat ini di seluruh dunia. Jika ada istilah make peace not war, maka war takjil menjadi fenomena yang menguntungkan berbagai pihak baik pedagang maupun pembeli. 

"War takjil menjadi sebuah cara komunikasi penuh kedamaian sebagai ciri budaya dari Indonesia," kata dia dalam Obral Obrol Literasi Digital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tema yang diangkat adalah Budaya Ramadan: War Takjil di Sosial Media.

Rahmi Kamila, kreator digital dan Psikolog menilai, banyak peluang baru dalam media sosial untuk memperkuat hubungan antar komunitas. 

Media sosial tak hanya menciptakan peluang untuk belajar hal baru, tapi juga menjadi peluang untuk meningkatkan mengembangkan bisnis.Karena itu, media sosial merupakan salah satu sarana untuk menciptakan kebaikan.

Manusia memiliki eskalasi atau selalu memiliki keinginan lebih, contohnya jika membagikan sesuatu yang baik dan mendapatkan tanggapan positif maka ingin melakukan lagi hal tersebut.

"Apalagi di momen Ramadan itu menurut aku satu sisi yang memang hukum untuk tarik menarik kebaikan itu cukup besar banget," ungkap Rahmi.

Meningkatkan UMKM 
Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Rusydan Fathy mengatakan berburu takjil memang menjadi tradisi masyarakat Indonesia ketika memasuki bulan suci Ramadhan. Biasanya menjelang Maghrib memunculkan kelompok sosial yang tidak teratur yakni kerumunan sosial.

Tradisi ini memunculkan kerumunan yang bersifat spontan dan melampaui batasan-batasan kelompok sosial teratur dan formal seperti afiliasi agama. War takjil menjadi wujud integrasi alih-alih gesekan yang jenaka antara kedua kelompok berbeda dalam memperebutkan takjil. 

Pada akhirnya war takjil menjadi simbol yang meneduhkan hubungan antara kelompok masyarakat dan menyelematkan ekonomi masyarakat kelas bawah.

Perluasan makna
Kata 'takjil' tak bisa dimaknai sebatas makanan ringan atau makanan kecil untuk berbuka puasa. Bila menelusuri Kamus Besar Bahasa Indonesia sejak edisi kesatu, makna takjil di Indonesia telah mengalami perluasan makna.

Dilansir dari Litbang Kompas, Asal-usul, Makna, dan Tradisi Takjil di Indonesia, keberadaan takjil di Indonesia sudah ada sejak berabad-abad silam. Pada abad ke-15, Walisongo menggunakan takjil sebagai proses untuk berdakwah. Pada abad ke-18, setelah mengunjungi Aceh pada tahun 1891–1892, Snouck Hurgonje dalam De Atjeher mencatat bahwa masyarakat Aceh telah mengadakan buka puasa di masjid beramai-ramai dengan ie bu peudah atau bubur pedas.

Meski sudah ada sejak dulu, takjil di Indonesia sifatnya hanya sebatas kebudayaan lokal. Menurut Profesor Munir Mulkhan dalam buku Kiai Ahmad Dahlan–Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010), Muhammadiyah berperan besar mempopulerkan takjil.

Pada masa awal Muhammadiyah menggelar takjil untuk menyegerakan umat Islam berbuka, banyak tudingan miring. Ahmad Dahlan yang membawa ajaran Islam Muhammadiyah sempat ditentang dan dituduh sebagai 'Kiai Kafir' oleh kelompok tradisional. Para pengikut Muhammadiyah dicap sebagai tidak tahan lapar.

Kini kegiatan-kegiatan yang dipopulerkan Muhammadiyah termasuk takjil sudah menjadi tradisi keagamaan yang dilakukan oleh umat Islam di Indonesia.

Tradisi takjil
Pembagian takjil di Indonesia memiliki beraneka ragam tradisi. Salah satu tradisi takjil yang cukup unik adalah kisah kolak ayam di Gresik. Tradisi ini selalu menarik dibahas karena sudah berusia sekitar 500 tahun. Tradisi ini berada di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada setiap malam ke-23 bulan Ramadhan. Para peserta tidak hanya dari Desa Gumeno, tetapi dari berbagai daerah yang ingin mencicipi hasil masakan para pria Desa Gumeno.

Kisah kolak ayam dimulai saat Sunan Dalem, putra kedua dari Sunan Giri, selesai membangun masjid pada tahun 1451. Pada waktu itu Sunan Dalem sakit dan mendapat petunjuk dari Allah swt lewat shalat istikharah agar membuat suatu masakan obat. Sunan Dalem kemudian meminta para santri mengumpulkan berbagai bahan dan membuat masakan salah satunya kolak atau dikenal sanggring.

Pada malam ke-22 Ramadhan, Sunan Dalem dan penduduk makan bersama saat buka puasa. Sesudah memakan kolak, Sunan Dalem sembuh. Sebagai ungkapan rasa syukur sejak itu penduduk Gumeno membuat kolak ayam dan menikmatinya bersama-sama pada setiap malam ke-23 bulan Ramadhan. Sejak tahun 1451 tradisi sudah dilaksanakan lebih dari 500 kali.

Bukber dan ngabuburit
Berbagai tradisi takjil berkembang menjadi fenomena budaya saat Ramadhan tiba. Menjelang buka puasa, di berbagai kota di Indonesia, lazim diadakan acara buka bersama atau bukber. Kegiatan buka bersama bisa di mana saja. Bisa berkumpul di rumah teman atau keluarga, berkumpul komunitas, atau berbagi dengan anak yatim. Salah satu tempat favorit bukber adalah Mal karena praktis. Mal menyediakan aneka pilihan makanan dan area parkir yang rata-rata luas.

Para pebisnis, politisi, dan karyawan banyak memanfaatkan peluang bukber untuk bertemu, entah sekadar reuni atau urusan lobi-lobi. Acara bukber dianggap strategis untuk mengakomodasi bermacam-macam kepentingan sehingga pejabat, politisi, dan instansi negara tak ketinggalan menggelar acara bukber.

Budaya bukber biasanya diiringi budaya ngabuburit. Aktivitas ini merupakan kegiatan ringan dan santai untuk menghabiskan waktu menunggu buka. Ngabuburit berasal dari kalimat bahasa Sunda ngalantung ngadagoan burit, yang artinya bersantai sambil menunggu waktu sore. Kata 'ngabuburit' sudah masuk ke dalam KBBI yang berarti menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada bulan Ramadhan.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo