Arina.id -- Salah satu tradisi khas dalam lingkungan NU (Nahdlatul Ulama) adalah shalawatan, sembari bermain rebana kecil atau terbangan. Para pemain terbang kemudian disebut penerbang.
Hal ini lantas membuat Gus Dur kerap menyampaikan humor plesetan terkait hal ini.
“NU itu seperti AURI (Angkatan Udara RI). Punya banyak penerbang, tapi tak ada pesawat terbangnya”, ucap Gus Dur.
Humor Gus Dur kali ini dikutip dari buku berjudul “Gitu Aja Kok Repot” karya Abdur Rahman, terbitan Noktah (Diva Press Group) pada 2020.
Tradisi shalawatan memang kental di lingkungan masyarakat Nahdliyin. Hal ini dilakukan sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam bershalawat kerap diiringi lantunan musik tradisional, seperti: hadrah, rebana, dan qosidah.
Salah satu alat musik yang digunakan adalah rebana. Berbentuk bundar layaknya tamburin yang berasal dari kawasan Arab atau Timur Tengah. Rebana kemudian berkembang luas di Indonesia dan wilayah negara lain yang terpengaruh tradisi Islam.
Sebagian masyarakat di Tanah Air juga menyebut aktivitas bermain rebana dengan istilah terbangan. Dengan demikian para pemain alat musiknya lantas disebut sebagai penerbang.
Hal ini tentu saja menjadi homonim (sama ejaan dan bunyi, namun beda arti) terhadap istilah penerbang, yang mengacu kepada pilot pesawat terbang.
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tercatat sebagai Presiden ke-4 Indonesia, yang menjabat pada 20 Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001.
Selain menjadi pribadi yang senantiasa menjunjung nilai-nilai toleransi, Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang menyenangkan dan kerap melempar humor untuk menghidupkan suasana.
Gus Dur lahir di Jombang pada 7 Setember 1940, kemudian wafat pada 30 Desember 2009 di Jakarta.
Editor: A. Sentosa


