Dark
Light
Dark
Light

Penderita Gangguan OCD pada Anak dan Upaya Pemulihan ala Al-Balkhi

Penderita Gangguan OCD pada Anak dan Upaya Pemulihan ala Al-Balkhi

Bagi orang awam penderita gangguan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) biasanya tidak menyadari karena dari sisi fisik, tidak ada perubahan yang mencolok. Pun, atas perilakunya yang dinilai sebagai suatu kewajaran alami.

Saat ini penderita OCD mulai banyak terjadi hanya saja hal itu tidak mudah disadari. Sejumlah selebriti pun pernah mengisahkan jika dirinya didiagnosa sebagai penderita OCD. Mantan vokalis Dewa 19, Ari Lasso, misalnya, dia didianosis mengalami OCD Perfectionist yang membuatnya susah tidur. Ia mengaku, sebelum berkonsultasi ke dokter, dirinya sampai harus minum alkohol agar bisa ngantuk dan dapat tertidur. Bahkan, hal ini sampai membuatnya disebut alkoholik oleh anaknya.

“Gue ke dokter akhirnya. Ternyata yang menjadi masalah itu bukan tidur gue, tau nggak gue dikasih obat apa, obat anxiety (kecemasan). Gue tuh dibaca sebagai OCD Perfeksionis," ungkap Ari, dikutip dari birlik.net.

Gangguan mental jenis OCD ini bertumpu pada kesulitan dalam mengontrol kecemasan atau overthinking sehingga dihinggapi kegelisahan tanpa henti. Saking parahnya kecemasan yang melanda, ada pula yang berperilaku agresif sehingga mengejutkan orang-orang di sekitarnya.

Pada dasarnya kondisi cemas merupakan hal alamiah yang bisa dialami oleh banyak orang, termasuk remaja dan anak-anak. Namun, kecemasan yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi gangguan mental serius. Perilaku berlebihan yang ditunjukkan oleh penderitanya dapat meresahkan dirinya dan mengganggu orang-orang di sekitarnya. 

Lantas bagaimana terjadinya gangguan obsesi mental pada anak dan remaja? Bagaimana pula terapi gangguan tersebut dengan pendekatan perilaku islami yang dikenalkan oleh ulama ahli psikoterapi di dalam kitabnya?

Penderita gangguan mental ini disebut mengalami gangguan obsesi karena untuk mengatasi kegelisahannya, dia menunjukkan tindakan yang berlebihan. Ketika hal ini dilihat oleh orang lain, maka orang lain memandang bahwa penderita terobsesi untuk melakukan sesuatu yang intensitasnya ada di luar kewajaran (kompulsif). Di dalam terminologi kitab klasik, gangguan ini juga dikenal dengan waswasah.

Dalam kitab Masalihul Abdan wal Anfus karya Abu Zayd Al-Balkhi, disebutkan bahwa gangguan waswasah bisa berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal. Pembawaan sifat sejak lahir atau faktor genetik, dan kondisi humoral yang menjadi karakter seseorang merupakan faktor internal yang dapat beresiko terhadap kerentanan gangguan obsesi. Sedangkan pengaruh lingkungan dan godaan setan (dari perspektif Islam) menjadi faktor eksternal munculnya waswasah (Al-Balkhi, 1424 H, Mashalihul Abdan wal Anfus, Markaz Malik Faishal lil Buhuts wa Dirasat Islamiyah Saudi Arabia: Hal 146-147).

Menurut Al-Balkhi, pembawaan lahir akan menampakkan resiko gangguan obsesi pada usia anak-anak. Hal ini seiring dengan penelitian tentang gangguan obsesi mental pada anak-anak dan remaja yang dipublikasikan di jurnal psikologi. Faktor internal tersebut saat ini dikenal sebagai faktor genetik dan akan terkait dengan perwujudan gejalanya pada proses pertumbuhan seorang anak.

Aspek psikologis OCD telah dikaitkan dengan aspek perkembangan anak. Menurut penelitian, individu dengan OCD, saat masih anak-anak, memiliki rasa tanggung jawab yang terlalu besar atau sebaliknya, yaitu rasa tanggung jawab yang terlalu kecil. Selain itu, kemunculannya juga dapat terjadi akibat paparan terhadap aturan yang kaku atau ekstrem.

Remaja atau anak yang mengalami OCD juga mendapatkan pengalaman kejadian di mana tindakan mereka menyebabkan kemalangan yang serius. Kejadian itu membawa mereka secara keliru berasumsi bahwa pikiran atau tindakan mereka menyebabkan kemalangan yang serius (Salkovskis dkk, 1999, Multiple Pathways to Inflated Responsibility Beliefs in Obsessional Problems: Possible Origins and Implications for Therapy and Research, Behaviour Research and Therapy, Vol.37: Hal 1055-1072).

Beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk kondisi OCD adalah terapi perilaku dan pengembangan kognisi secara islami. Acuan yang digunakan oleh peneliti muslim dalam merekomendasikan kedua terapi tersebut di antaranya berasal dari ulama klasik yaitu Al-Balkhi dan Al-Ghazali. Kedua ulama tersebut merekomendasikan pendekatan spiritual melalui zikir sebagai pencegahan maupun terapi gangguan obsesi (Keshavarzi dkk, 2020, Islamically Integrated Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder Scrupulosity [Waswasa] in Muslim Patients, The Center for Values Education Press, Istanbul: Hal 246).

Al-Balkhi secara khusus menyebutkan beberapa upaya sederhana lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi OCD. Dalam kitab yang beliau tulis, disebutkan bahwa berkumpul dan bersosialisasi dengan orang lain merupakan hal yang bermanfaat untuk penderita OCD. Menurutnya, ketika seseorang terlibat diskusi dalam interaksi sosial dengan orang lain, hal itu akan mengurangi pengaruh dari kecemasan internal yang merupakan pemicu OCD.

Diskusi yang terarah dengan orang lain hendaknya dipilih berdasarkan sifat positif dari teman yang diajak berdiskusi. Dengan demikian, solusi akan diperoleh oleh penderita OCD ketika menghadapi suatu permasalahan atau setidaknya beban kecemasannya berkurang. Hal ini sangat penting bagi remaja karena saat ini banyak remaja yang cenderung mengalami kesepian dalam kehidupannya sehingga enggan mencari partner diskusi dalam menghadapi permasalahannya.

Menurut Al-Balkhi, kesepian dan kesendirian justru akan menguatkan pikiran negatif dan menstimulasi waswasah yang berbahaya pada orang dengan kecenderungan gangguan obsesi. Jiwa atau mental seseorang itu akan selalu aktif secara internal maupun eksternal. Secara eksternal, kondisi mental akan sibuk ketika terlibat dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang lain sedangkan secara internal jiwa seseorang akan selalu aktif ketika berfikir, mengingat, dan melakukan refleksi.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan oleh remaja atau anak untuk mengantisipasi gangguan obsesi adalah dengan refreshing berupa aktivitas yang menyenangkan. Anak atau remaja yang statusnya pelajar bisa saja mengalami kejenuhan dalam kegiatan studi yang sarat dengan aktivitas berpikir dan mengerjakan tugas akademik. Oleh karena itu, kesehatan mental bisa dijaga dengan menikmati kuliner berupa makanan atau minuman yang menyenangkan, mendengarkan musik positif, maupun melihat pemandangan yang indah.

Menurut Beliau, aktivitas yang menyenangkan seperti di atas akan menjauhkan dari pikiran-pikiran negatif yang datang berulang dan menghindarkan dari gangguan obsesi. Namun, ada hal unik tentang frekuensi dalam menjalankan aktivitas yang menyenangkan bagi penderita OCD. Aktivitas menyenangkan tersebut tidak boleh dilakukan terlalu sering karena penderita OCD juga memiliki kecenderungan untuk cepat bosan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan kebutuhan anak atau remaja yang memiliki gangguan obsesi agar orang tua atau orang-orang di sekelilingnya dapat bersikap yang terbaik. Ada kalanya penderita membutuhkan bantuan dari orang-orang terdekatnya sehingga mereka mendapatkan perhatian yang sepantasnya. Di sisi lain, orang-orang yang membantunya juga harus meningkatkan literasi agar dapat memberikan solusi yang proporsional.

Selayaknya bagi anak-anak maupun remaja menggunakan waktu luang di antara padatnya kegiatan belajar untuk aktivitas positif yang menyenangkan sehingga dapat terhindar dari OCD. Hal lain yang tidak kalah penting adalah membiasakan berzikir secara rutin di antara aktivitas sehari-hari sehingga tidak terjebak pada bisikan setan yang dapat pula menjerumuskan mental seseorang ke dalam gangguan obsesi. 
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo