Dark
Light
Dark
Light

Gen Z dan Daya Tarik Koleksi Barang Bekas Impor

Gen Z dan Daya Tarik Koleksi Barang Bekas Impor

Jakarta, Arina.id— Barang bekas di pasaran dikenal dengan berbagai istilah, antara lain antik, vintage, dan preloved. Kebiasaan membeli barang bekas disebut thrifting dan kini semakin digemari.

Fenomena thrifting telah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z. Mereka melihat busana bekas bukan sekadar barang sisa, melainkan wujud keberlanjutan (sustainability) dalam dunia mode. 

Menurut data statistik tahun 2023, generasi muda senang membeli pakaian bekas karena harganya murah. Apalagi, dengan gaji pas-pasan, membeli pakaian bekas memungkinkan mereka tetap tampil bergaya tanpa membuat kantong jebol.

Adzkia (20) mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengaku doyan thrifting lantaran barang thrift memiliki desain atau pola yang unik dan sering kali sudah tidak diproduksi lagi.

"Iya, karena modelnya biasanya klasik dan biasanya jarang ada yang sama jadi lebih merasa limited," kata Adzkia ditemui di Pasar Baru, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Ia mengakui banyak mengkoleksi baju bekas impor meski tidak meninggalkan produk lokal. "Koleksi baju saya sejauh ini tetap masih banyak dari produk lokal tetapi memang beberapa baju impor juga mengoleksi," jelasnya.

Menurutnya, daya tarik utama baju impor itu ada beberapa hal. Pertama dari segi kualitas, banyak konsumen yang percaya bahwa baju impor memiliki kualitas bahan dan jahitan yang lebih baik. 

Kedua, dari segi desain yang lebih eksklusif dan mengikuti tren fashion internasional, jadi mereka merasa lebih stylish dan berbeda dari yang lain. 

Ketiga, ada faktor prestise menggunakan produk impor memberikan kepuasan tersendiri dan menunjukkan status sosial. Plus, variasi model dan warna yang ditawarkan baju impor juga lebih beragam dan inovatif.

Motif lingkungan juga menjadi faktor pendorong. Agam (25) warga asal Jakarta Selatan mengungkapkan bahwa pemilihan pakaian bekas berkontribusi pada pengurangan limbah tekstil dan mendukung praktik keberlanjutan. 

"Thrifting merupakan salah satu cara untuk turut serta dalam upaya pengurangan limbah tekstil," jelasnya.

Ia menyadari dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri mode cepat (fast fashion). Industri ini dikenal boros dan memakan banyak sumber daya.

"Belanja baju bekas (thrifting) menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan, karena memungkinkan pakaian didaur ulang dan digunakan kembali," kata Agam.

Berbeda dengan Sintia (23) Mahasiswa Unusia Jakarta mengaku lebih menyukai produk lokal meskipun baju bekas juga pernah ditujunya.

"Kalau saya pribadi, lebih banyak koleksi baju lokal. Saya merasa produk lokal sekarang kualitasnya sudah bagus dan tidak kalah dengan produk impor, tapi dengan harga yang lebih terjangkau," katanya.

"Selain itu, saya juga ingin support brand lokal karena mereka punya desain yang menarik dan cocok dengan iklim Indonesia, tapi saya juga punya baju impor kok hanya saja beberapa doang," jelasnya.

Survei terbaru oleh lembaga basis data e-dagang ECDB menemukan bahwa 67 persen generasi muda itu membeli pakaian bekas. Mengikuti selera ini, jenama-jenama terkenal pun mulai membuka layanan pakaian bekas.

Chiara Menage, salah satu pendiri situs jual beli pakaian bekas, Menage Modern Vintage, mengatakan, sejak 2018 tren pakaian bekas telah menjadi arus utama. Dasarnya kesadaran akan keberlanjutan lingkungan.

"Hal ini berkontribusi besar terhadap alasan orang lebih menyukai barang bekas dan barang antik. Tujuan saya menawarkan alternatif lebih baik yang 100 persen ramah lingkungan dibandingkan dengan membeli barang-barang baru," katanya seperti dikutip The Guardian.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo