Arina.id - Ribuan aktivis dari Afrika menggelar Konvoi Perlawanan Maghreb menuju Gaza Palestina untuk mendesak Israel agar segera mencabut blokade militernya. Mereka merupakan aktivis dari Aljazair, Tunisia, Maroko, Mauritinia dan Libya yang menginginkan blokade dicabut agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke sana.
Para aktivis itu juga menentang genosida besar-besaran yang dilakukan para serdadu Israel selama kurang lebih tiga tahun ini. Selain itu, para aktivis juga mendesak pemerintahan Arab di Timur Tengah agar bersatu membantu Palestina mengusir penjajah Israel.
Konvoi yang terdiri dari sekitar 2.000 aktivis itu, seperti dilaporkan Anadolu, merupakan bagian dari kampanye internasional yang lebih besar untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza dan meningkatkan tekanan terhadap Israel agar mencabut blokade.
Konvoi tersebut berangkat dari ibu kota Tunisia pada Senin 09 Juni 2025, dan memulai perjalanan darat menuju Jalur Gaza untuk mendobrak blokade Israel terhadap wilayah Palestina, dan tiba di Libya pada Selasa 10 Juni 2025.
Konvoi tersebut akan bermalam di Kota Zawiya, Libya, dan diperkirakan melanjutkan perjalanan ke timur menuju Misrata sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mesir.
"Inisiatif ini diluncurkan dengan koordinasi bersama beberapa kelompok lain di seluruh dunia yang berupaya mendobrak blokade terhadap Gaza melalui laut, udara, dan darat," kata Haifa Mansura, seorang aktivis Tunisia yang juga merupakan salah satu penyelenggara konvoi.
Konvoi tersebut mengerahkan sekitar 120 kendaraan dan 12 bus. Banyak aktivis tambahan dari hampir 50 negara diperkirakan akan bergabung di Kairo, dan tiba melalui jalur udara untuk mendukung kampanye tersebut.
Ahmed Abdulgani, yang merupakan seorang organisator asal Libya, mengatakan bahwa konvoi tersebut juga bertujuan untuk mengirimkan bantuan keuangan yang dikumpulkan di Libya untuk warga Palestina di Gaza.
"Kita telah menyaksikan dua tahun kejahatan paling mengerikan dalam sejarah," kata Abdulgani. "Tidak ada Muslim - atau bahkan non-Muslim - yang bisa bersikap acuh tak acuh terhadap hal ini."
Sementara itu, jurnalis sekaligus aktivis Tunisia Fadiya Al-Husseini mengkritik diamnya pemerintah Arab terhadap situasi yang terjadi di Gaza. "Tujuan utama konvoi ini adalah untuk menunjukkan diamnya bangsa Arab di hadapan diamnya Eropa," kata Al-Husseini.
"Di manakah orang-orang di negara-negara Arab, mereka yang seharusnya lebih peduli terhadap masalah Palestina dibandingkan masyarakat Eropa?"
Nabil Channoufi, salah satu juru bicara konvoi, mengatakan bahwa masih belum jelas apakah konvoi tersebut akan diizinkan memasuki Mesir. Channoufi mengatakan kelompok itu bertemu dengan duta besar Mesir di Tunisia tetapi belum mendapat tanggapan pasti.
"Dia tidak memberi kami jawaban ya atau tidak," katanya. "Dia mengatakan kepada kami bahwa dia akan menyerahkan masalah ini kepada pemerintah Mesir, yang akan memutuskan apakah kami diizinkan masuk atau tidak."
Channoufi menambahkan bahwa masuknya konvoi tersebut akan sesuai dengan kepentingan Mesir dan menyatakan harapan agar para pejabat akan mendukung misi kelompok tersebut.
Editor:


