Arina.id - Dalam beberapa waktu belakangan ini dunia genetika dibuat tercengang dengan kelahiran delapan bayi yang lahir dari Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) campuran tiga orang tua di Inggris. Bayi-bayi itu lahir melalui teknik IVF (in vitro fertilization) atau istilah gampangnya bayi tabung--proses kelahiran yang diawali dengan pembuahan sel telur oleh sperma di luar tubuh manusia atau di dalam tabung.
Teknik IVF ini menggunakan DNA dari telur ibu, sperma ayah, dan sejumlah kecil dari donor telur yang sehat. Proses percampuran dari ketiga DNA tersebut semuanya dilakukan di luar tubuh. Hasilnya, delapan bayi lahir dengan sehat. Bagi dunia medis dan genetika, kelahiran delapan bayi ini dianggap sebagai solusi dan harapan bagi keluarga-keluarga yang memilik gangguan atau penyakit genetik mitokondrial.
Dikutip dari Aljazeera, para ahli di Universitas Newcastle Inggris dan Universitas Monash Australia menerbitkan hasil uji coba riset mereka pada Rabu, 16 Juli 2025, dalam beberapa makalah di New England Journal of Medicine. Menurut mereka, penyakit genetik mempengaruhi kelahiran 5.000 bayi dan tidak memiliki obat. Penyakit ini memiliki gejala parah seperti gangguan penglihatan dan melemahnya otot-otot.
Prosedur kelahiran baru menggunakan teknik percampuran DNA ini disetujui di Inggris pada 2015, menggunakan DNA dari telur ibu, sperma ayah dan sejumlah kecil DNA mitokondrial yang sehat dari telur donor. Metode teknis kelahiran seperti ini sempat memicu kontroversi dengan sebutan bayi yang lahir dari campuran tiga orang tua (three-parent babies), meskipun hanya sekitar 0,1% DNA bayi yang berasal dari pendonor.
Pada akhirnya, 2025 menjadi penanda baru keberhasilan penelitian tersebut. Dari 22 perempuan yang menjalani perawatan di Pusat Kesuburan Newcastle di Timur Laut Inggris, delapan bayi telah lahir. Empat anak laki-laki dan empat perempuan sekarang berusia antara enam bulan sampai dua tahun.
Jessica Hamzelou menulis artikel tentang Three-Parent Babies ini di laman website science Technologyreview. Ia menyebut kelahiran bayi dari percampuran DNA inti telur dua perempuan dan sel seperma seorang pria--makanya disebut bayi yang lahir dari tiga orang tua atau three-parent babies--itu sebenarnya bukan yang pertama. Dalam sepuluh tahun terakhir, beberapa tim menggunakan variasi pendekatan ini untuk membantu orang-orang melahirkan bayi yang sehat.
Singkatnya, kata dia, pendekatan ini biasanya melibatkan DNA inti telur dan sel sperma pasangan pria dan wanita. Di sanalah sebagian besar DNA dalam sel ditemukan. Namun tidak cukup di situ, secara teknik juga menggunakan DNA mitokondrial (mtDNA) - DNA yang ditemukan di organel sel yang menghasilkan energi - dari orang ketiga. Idenya adalah untuk menghindari penggunaan mtDNA dari ibu yang dimaksudkan, mungkin karena si ibu membawa mutasi genetik.
Sejumlah tim klinik di tempat lain telah melakukan ini dengan tujuan untuk mengobati masalah kesuburan. Ini karena mtDNA yang biasanya diwariskan dari seorang ibu membentuk pecahan kecil dari seluruh warisan DNA. Termasuk hanya 37 gen, semuanya dianggap memainkan peran dalam cara kerja mitokondria (seperti halnya, katakanlah, warna mata atau tinggi badan).
Kelahiran bayi three-parent babies ini dilaporkan pertama kali lahir pada 1990-an. Jacques Cohen, pendiri Alpha Scientists in Reproductive Medicine bersama koleganya di Saint Barnabas Medical Center New Jersey Amerika Serikat berpikir mereka mungkin dapat mengobati beberapa kasus kesuburan dengan menyuntikkan sitoplasma telur yang mengandung mitokondria ke dalam telur dari ibu.
Tujuh belas bayi akhirnya lahir melalui cara tersebut. Mereka memberi catatan dalam kertas riset mereka dengan menyebut bayi-bayi hasil riset mereka itu sebagai hasil dari tiga orang tua berbeda (three-parental individual). Tapi dua janin tampaknya memiliki kelainan genetik. Dan salah satu anak mulai menunjukkan gejala gangguan perkembangan. Pada 2002, administrasi makanan dan obat-obatan Amerika Serikat menghentikan penelitian tersebut.
Percampuran DNA tiga induk berpotensi memicu risiko penyakit parah. Walaupun pendekatan ini sebenarnya dirancang untuk mencegah penyakit mitokondrial, namun bukti baru menunjukkan bahwa kemungkinan besar juga tidak bekerja sesuai rencana. Bayi-bayi yang lahir selama penelitian itu sekarang berusia 20-an. Tapi para ilmuwan masih belum mengetahui penyebab masalah tersebut. Namun para ilmuan menyimpulkan, mencampur mtDNA dari dua orangtua mungkin bisa memicu masalah baru.
Kemudian John Zhang dari New Hope Fertilitas Center di New York City juga mencoba menggunakan pendekatan ini kepada pasangan asal Yordania pada 2016. Wanita tersebut membawa gen untuk penyakit mitokondrial yang fatal dan sebagai akibatnya telah kehilangan dua anak. Dia ingin menghindari penularan penyakit tersebut kepada anak lainnya.
Zhang lalu mengambil inti telur wanita itu dan memasukkannya ke dalam telur donor yang intinya telah dipindahkan—tetapi masih memiliki mitochondria yang mengandung sitoplasma. Telur tersebut kemudian dibuahi dengan sperma suami wanita itu.
Karena di Amerika Serikat masih ilegal, maka Zhang kemudian secara kontroversial melakukan prosedur tersebut Meksiko sebab di sana belum ada aturan terkait prosedur kliins kelahiran menggunakan metode tersebut. Hasilnya, dari proses bayi tabung itu akhirnya lahir anak laki-laki yang sehat. Hanya kurang dari 1% mitokondria anak tersebut membawa mutasi ibunya, sehingga prosedurnya dianggap sukses.
Berikutnya di Inggris beberapa tahun lalu pemerintah telah melegalkan donasi mitochondrial, meskipun sampai sekarang belum ada klinik yang diberi izin untuk melakukannya. Di sisi lain, metode tersebut memantik kemarahan komunitas ilmiah di Inggris. Banyak orang mengaitkannya dengan masalah etika.
Lalu pada 2017, sebuah tim di Klinik Nadiya di Ukraina mengumumkan kelahiran seorang gadis kecil kepada orang tua yang telah menjalani metode kelahiran bayi tabung menggunakan teknik serupa. Berita tersebut membawa kemarahan masyarakat lebih luas di beberapa tempat, karena para ilmuwan berargumen prosedur eksperimen seharusnya hanya digunakan untuk mencegah penyakit mitokondrial parah. Bukan diterapkan ketika kedua orangtua bayi sehat.
Editor:


