Arina.id - Dalam beberapa waktu belakangan ini tiba-tiba saja banyak warga Palestina terbang ke Afrika Selatan. Mereka mengaku membayar USD1500 - 5000 untuk dievakuasi dan terbangkan ke sana. Demikian disampaikan seorang pendeta dan aktivis keadilan sosial, Nigel Branken.
Kelompok masyarakat sipil di Afrika Selatan menuduh Israel berada di balik migrasi paksa warga Palestina dari Gaza setelah penerbangan "misterius" baru-baru ini yang mengangkut ratusan warga Palestina mendarat di Bandara Internasional OR Tambo dekat Johannesburg.
Kelompok kemanusiaan Gift of the Givers Foundation mengatakan, penerbangan pertama yang mendarat akhir bulan lalu membawa 176 warga Palestina. Pesawat carteran kedua, yang singgah di ibu kota Kenya, Nairobi, membawa 153 pengungsi Palestina, tetapi Otoritas Manajemen Perbatasan Afrika Selatan (BMA) menolak mereka masuk.
BMA mengatakan warga Palestina tersebut tidak bisa memenuhi persyaratan imigrasi setelah gagal menunjukkan durasi tinggal yang mereka inginkan di negara tersebut atau memberikan alamat akomodasi. Mereka juga tidak memiliki stempel keberangkatan seperti biasanya di paspor mereka, yang seharusnya diberikan oleh Israel saat mereka keluar.
Pada akhirnya warga Palestina tersebut dibiarkan menunggu di landasan selama hampir 12 jam, yang memicu kemarahan kelompok masyarakat sipil di negara tersebut. Menurut mereka perlu ada campur tangan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa agar warga Palestina diizinkan masuk.
Ramaphosa kemudian mengatakan, "Sepertinya (para pengungsi Palestina) memang dievakuasi. Kami akan mendapatkan detailnya nanti, tetapi dari sudut pandang kemanusiaan, kami tidak dapat memulangkan mereka," ujarnya seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 14 November 2025.
"Saya bilang kita tidak bisa menolak mereka. Meskipun mereka tidak memiliki dokumen dan surat-surat yang diperlukan. Mereka berasal dari negara yang dilanda perang, dan atas dasar rasa iba dan empati, kita harus menerima mereka," ujarnya menambahkan.
Ramaphosa juga menyatakan kekhawatirannya: "Sepertinya mereka (warga Palestina) sedang diusir. Kita akan mendapatkan detailnya nanti," ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah sedang menyelidiki penerbangan carteran "misterius" yang membawa warga Palestina ke negaranya tanpa dokumen yang diperlukan. Sekitar 23 dari 153 (warga Palestina) yang mendarat pada hari Kamis transit dari Afrika Selatan ke tujuan akhir mereka, meninggalkan 130 orang di negara itu, ditambah 176 orang yang tiba lebih awal.
Bagaimana mereka menaiki pesawat dari Israel?
Nigel Branken, seorang pendeta Afrika Selatan dan aktivis keadilan sosial yang membantu warga Palestina tersebut. Kepada Anadolu, dalam wawancara telepon menjelaskan kalau para penumpang mengatakan terpikat oleh situs web yang mengiklankan cara bepergian keluar dari Gaza.
"Pada bulan Juni, mereka diminta membayar di muka agar bisa dievakuasi dari negara itu. Orang-orang begitu putus asa karena genosida, mereka tidak tahu apakah itu perusahaan asli atau bukan," ujarnya.
Branken mengatakan, para pengungsi Palestina tersebut kemudian diminta membayar $1500-$5000 agar mereka bisa dievakuasi dari Gaza.
Beberapa kelompok di Afrika Selatan bahkan menuduh Al-majd Eropa sebagai perusahaan di balik evakuasi tersebut, sebuah klaim yang tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Anadolu.
Branken mengatakan pengungsi Palestina yang meninggalkan Gaza dengan bantuan perusahaan tidak tahu persis ke mana mereka akan pergi.
"Meskipun ada rumor bahwa mereka akan dibawa ke Indonesia atau Malaysia, mereka malah berakhir di Afrika Selatan," ujarnya.
Para pengungsi mengatakan bahwa perusahaan perjalanan akan menelepon mereka untuk bersiap-siap berangkat ke penerbangan terjadwal mereka. Mereka diharuskan siap pada pukul 02.00 waktu setempat dan pergi ke kantor ICRC di kota tersebut, tempat mereka akan dijemput.
Mereka akan diminta meninggalkan tasnya di sana dan membawa ransel. Ketika mereka tiba di perbatasan Shalom, tentara akan meminta mereka meninggalkan ransel mereka saat menuju pangkalan udara Ramon."
"Ketika pesawat pertama datang ke Afrika Selatan pada 28 Oktober, orang-orang meninggalkan obat-obatan, anak-anak meninggalkan mainan mereka, setiap barang bawaan, dan mereka tidak mendapatkan stempel keluar atau bahkan dokumen elektronik dari Israel," kata Branken.
Selanjutnya, semua penumpang yang tiba dengan penerbangan pertama di Afrika Selatan diizinkan masuk ke negara itu tanpa masalah, tidak seperti mereka yang tiba sehari sebelumnya.
Kedutaan Besar Palestina di Pretoria mengunggah pesan singkat di perusahaan media sosial AS, X, yang mendesak warga di Gaza agar selalu waspada saat terlibat dengan organisasi atau perantara tidak resmi dengan cara apa pun.
Ia menyarankan mereka untuk hanya berinteraksi dengan perwakilan resmi dan sah Palestina.
Pembersihan etnis dimulai
"Kami yakin bahwa pemindahan warga Palestina yang mengakibatkan drama traumatis yang mereka alami di Bandara OR Tambo, terjadi melalui kolusi langsung rezim Israel," ujar Iqbal Jassat, anggota eksekutif kelompok advokasi Media Review Network yang berbasis di Johannesburg.
Ia mengatakan tidak ada warga Palestina di Gaza yang terkepung dapat mendekati garis kuning imajiner tanpa ditembak.
Mereka harus diangkut melalui jalur kuning, melintasi 53% wilayah Gaza yang dimiliterisasi yang masih dikuasai dan dioperasikan oleh tentara Israel untuk keluar dari Gaza. Kemudian mereka harus melalui Israel ke bandara Ramon; "hal ini menunjukkan adanya kampanye pembersihan etnis yang sistematis."
Jassat mengatakan mereka juga mengetahui bahwa pangkalan militer Eilat, tempat bandara berada di ujung selatan Wilayah Palestina yang Diduduki, telah diidentifikasi sebagai titik pengungsian warga Palestina.
Imtiaz Sooliman, pendiri kelompok kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan Israel mengusir warga Palestina dari negara mereka dengan menempatkan mereka di kendaraan dan pesawat.
"Ini bagian dari pembersihan etnis. Israel telah menggunakan kebijakan ini. Mereka mengebom orang-orang dengan bom seberat 2.000 pon, mencoba segalanya, tetapi tidak berhasil membunuh semua orang," ujarnya kepada penyiar lokal eNCA, Sabtu malam.
Sooliman mengatakan Israel membunuh 13.000 pekerja kesehatan dan dokter dengan mengebom puluhan rumah sakit dan klinik serta menggunakan fosfor dan bahan kimia lainnya.
"Mereka mencoba kelaparan (membuat orang kelaparan). Mereka membunuh 300 jurnalis, lebih banyak daripada gabungan seluruh perang, untuk menyembunyikan kebenaran – pada akhirnya, ketika ini tidak berhasil, hal terbaik sekarang adalah menempatkan orang-orang di dalam mobil dan pesawat lalu mengirim mereka pergi," katanya.
Na'eem Jeenah, seorang akademisi Afrika Selatan dan anggota masyarakat sipil yang membantu pengungsi Palestina, menyalahkan Israel karena menempatkan warga Palestina di penerbangan tanpa memberi mereka dokumen keluar atau memberi tahu ke mana mereka akan pergi.
Ia menuduh Al-Majid Eropa, "kelompok kemanusiaan" yang mengaku membantu Palestina, sebagai proyek Israel.
Jeenah mengatakan orang-orang di pesawat tidak tahu ke mana mereka akan pergi secara pasti. Ia lantas mencontohkan ada seseorang yang memesan hotel di Mumbai di India dan orang lain yang memesan hotel di Kuala Lumpur di Malaysia.
Editor:


