Arina.id - Walaupun harga minyak dunia sedang menurun, namun indeks dolar malah naik. Begitu juga dengan obligasi pemerinta Amerika Serikat. Indeks dolar naik 101,89, sementara obligas naik 5 bps (basis poin).
Kenaikan indeks dolar dan obligasi AS ini diprediksi akan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini disampaikan Analis Bank Woori Saudara Rully Nova.
"Indeks dolar naik menjadi 101,89 dan obligasi pemerintah AS naik 5 bps (basis points) menjadi 4,62 persen, walaupun harga minyak turun," katanya seperti dikutip dari Antara, Rabu 4 November 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pasar keuangan global telah memasuki rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer), sehingga memicu efek penularan berupa pelemahan pada pasar surat utang dunia, termasuk pasar obligasi Indonesia.
Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa meningkatnya imbal hasil US Treasury didorong oleh lonjakan porsi penarikan utang pemerintah AS yang tereskalasi cepat dibanding periode sebelumnya, dan kegagalan strategi pembelian kembali (buyback) oleh pemerintah AS untuk menstabilkan pasar obligasi.
Selain itu, persepsi pasar disebut tertahan oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps sebanyak 2-3 kali dalam kurun satu tahun ke depan.
Melihat sentimen domestik, isu stabilitas politik dan tata kelola pasar modal dinyatakan menjadi perhatian utama pelaku pasar menyusul adanya indikasi kasus penyadapan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto dan pejabat negara yang diduga melibatkan mantan Kapolri, serta adanya dinamika penilaian dari MSCI.
"Kasus penyadapan jelas membuat premi risiko seluruh aset Indonesia naik yang tercermin dari CDS (Credit Default Swap) sudah di atas 100 bps," ungkap Rully. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp18.120-Rp18.180 per dolar AS.
Editor:


