Bahaya Partikel PM2.5 dari Kabut Asap Karhutla

Bahaya Partikel PM2.5 dari Kabut Asap Karhutla

Jakarta, Arina.id — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang berlanjut setelah kebakaran berhasil dipadamkan.

Salah satu efek atau dampak yang timbul dari terjadinya karhutla adalah partikel PM2.5 yaitu partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang sulit disaring tubuh dan dapat masuk ke saluran pernapasan.

Partikel PM2.5 berasal dari banyak sumber, termasuk debu, asap kendaraan, aktivitas industri, serta kebakaran hutan dan lahan.

Pakar mitigasi bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati, mengingatkan bahwa partikel halus PM2.5 dalam kabut asap dapat masuk ke sistem pernapasan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, dan janin yang sedang dikandung.

“Saya khawatir karena dampaknya tentu sangat mengganggu kesehatan masyarakat. Terutama partikel PM2.5 yang masuk ke sistem pernapasan. Saya berharap hal itu tidak sampai menimbulkan masalah kesehatan permanen,” ujar Dwikorita dalam tayangan wawancara Kompas TV diakses Senin (26/10/20260).

Menurutnya, dampak kesehatan akibat paparan kabut asap tidak selalu berakhir bersamaan dengan padamnya api. Gangguan kesehatan dapat berlanjut sehingga penanganan perlu memperhatikan kondisi masyarakat selama dan setelah periode kebakaran.

Dwikorita menilai pengalaman Indonesia menghadapi karhutla pada 2015–2016 seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kesiapsiagaan kesehatan. Data dari kejadian sebelumnya dapat digunakan untuk memahami risiko serta menyiapkan langkah perlindungan yang lebih baik.

Ia berharap Kementerian Kesehatan memanfaatkan data yang tersedia dan memastikan fasilitas pelayanan kesehatan siap menangani masyarakat terdampak. Penanganan tersebut juga perlu memperhatikan petugas pemadam yang berhadapan langsung dengan kebakaran dan asap.

Dalam wawancara tersebut, Dwikorita menyebut petugas Manggala Agni turut mengalami gangguan pernapasan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko kesehatan tidak hanya dihadapi warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga petugas yang bertugas di lapangan.

“Dampak kesehatannya sudah sangat nyata. Kita juga belum mengetahui secara menyeluruh bagaimana dampak itu berlanjut, sebab persoalannya tidak otomatis selesai ketika api sudah padam,” katanya.

Selain kesehatan manusia, Dwikorita mengingatkan bahwa karhutla menyebabkan kerusakan vegetasi dan mengganggu ekosistem. Pemulihan flora yang terbakar membutuhkan waktu, sedangkan kerusakan lingkungan dapat memunculkan persoalan lanjutan ketika musim hujan tiba.

Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan kebakaran, pengurangan paparan asap, hingga perlindungan masyarakat terdampak.

Dwikorita menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga agar upaya pemadaman di lapangan berjalan beriringan dengan penanganan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan penanggulangan bencana tidak cukup diukur dari padamnya api, tetapi juga dari kemampuan meminimalkan dampak terhadap keselamatan dan kesehatan warga.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo