Ujaran Kebencian Anti Asia Selatan di AS Meningkat Pesat, Imigran India Dinilai Ancam Mata Pencaharian

Ujaran Kebencian Anti Asia Selatan di AS Meningkat Pesat, Imigran India Dinilai Ancam Mata Pencaharian

Arina.id — Ujaran kebencian terhadap warga keturunan Asia Selatan di Amerika Serikat meningkat tajam di media sosial dalam dua tahun terakhir.

Sebuah laporan mengaitkan lonjakan tersebut dengan kebijakan dan retorika imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump, kecemasan ekonomi, serta meningkatnya visibilitas komunitas Asia Selatan dalam kehidupan publik Amerika.

Laporan berjudul The Rising Tide of Anti-South Asian Hate in the United States yang diterbitkan Center for the Study of Organized Hate (CSOH) pada Minggu (27/9/2026) mencatat, volume bulanan unggahan kebencian terhadap warga Asia Selatan di platform X meningkat 240 persen antara Januari 2024 dan Juni 2026.

Jumlah unggahan meningkat dari 12.904 pada Januari 2024 menjadi 43.843 pada Juni 2026.

Peneliti juga menemukan lebih dari 542.000 unggahan bernada kebencian terhadap warga Asia Selatan di AS sepanjang Januari 2025 hingga Juni 2026. Lima dari enam bulan dengan volume tertinggi terjadi pada periode akhir penelitian.

CSOH menggunakan definisi ujaran kebencian yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Para peneliti menelusuri berbagai hinaan dan narasi anti-Asia Selatan di internet, kemudian meninjau unggahan untuk membedakan ujaran kebencian dari kritik atau pernyataan yang tidak memenuhi kriteria tersebut.

Salah satu narasi yang paling banyak ditemukan adalah tuduhan bahwa warga Asia Selatan merupakan "pendatang yang menyerbu" AS, merebut lapangan pekerjaan, atau menjadi ancaman terhadap komposisi demografis Amerika.

Hampir separuh unggahan kebencian di X memuat salah satu narasi tersebut.

Sementara itu, istilah penghinaan rasial "pajeet" dan berbagai variannya ditemukan dalam sekitar 30 persen unggahan kebencian di X dan 45 persen unggahan pada sejumlah platform lain yang diteliti.

Narasi yang menggambarkan warga Asia Selatan sebagai kelompok yang kotor atau tidak higienis juga meningkat 171 persen di X. Menurut laporan tersebut, narasi itu mengalami pertumbuhan paling cepat dibandingkan kategori kebencian lainnya.

Politik Imigrasi dan Visa H-1B

Laporan CSOH menyebut peningkatan kebencian tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Para peneliti mengaitkannya dengan prasangka lama terhadap komunitas Asia Selatan yang kemudian diperkuat oleh dinamika politik dan ekonomi di AS.

Program visa H-1B menjadi salah satu isu yang paling banyak memicu perdebatan. Program tersebut memungkinkan perusahaan AS mempekerjakan tenaga kerja asing dengan keahlian tertentu.

Warga negara India merupakan kelompok terbesar penerima visa H-1B, dengan proporsi lebih dari 70 persen dari seluruh pemegang visa tersebut.

Para peneliti mencatat sejumlah lonjakan ujaran kebencian terjadi bersamaan dengan perdebatan politik mengenai program H-1B. Salah satunya muncul setelah pemerintahan Trump pada September 2025 memberlakukan biaya sebesar US$100.000 untuk permohonan H-1B baru tertentu.

Menurut laporan CSOH, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek administratif, tetapi juga memiliki efek simbolis terhadap persepsi publik terhadap pekerja asing, khususnya warga Asia Selatan.

Laporan itu juga menyoroti pidato Trump dalam sebuah konferensi kecerdasan buatan (AI) pada Juli 2025. Dalam pidatonya, Trump mengkritik perusahaan teknologi AS yang menurutnya melakukan alih daya pekerjaan ke India.

Peneliti CSOH mencatat adanya peningkatan retorika anti-Asia Selatan di media sosial setelah pernyataan tersebut.

Pada September 2026, laporan itu juga menyoroti unggahan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang kemudian dihapus. Unggahan tersebut menggunakan judul "Transformers: Age of Deportations" dan menampilkan seorang pria Sikh yang disebut sebagai "Mr Singh", disertai ajakan agar ia "menyingkir dari jalan kami".

Beberapa hari kemudian, Departemen Pendidikan AS mengunggah konten bertajuk "Make College Football Great Again". Unggahan itu muncul setelah politisi Partai Republik Texas, Bo French, mempersoalkan kehadiran warga Asia Selatan dalam pertandingan sepak bola Universitas Texas.

Menurut para peneliti, pernyataan dan konten semacam itu dapat memperkuat persepsi bahwa warga Asia Selatan merupakan kelompok pendatang yang tidak sepenuhnya diterima sebagai bagian dari masyarakat Amerika.

Kecemasan Ekonomi

Laporan tersebut juga mengidentifikasi faktor ekonomi sebagai salah satu pendorong meningkatnya sentimen negatif.

Keberhasilan ekonomi sebagian warga keturunan Asia Selatan, terutama warga keturunan India, menurut laporan itu, kini justru digunakan sebagai sasaran kemarahan terkait persaingan pekerjaan dan kondisi ekonomi.

Komunitas India-Amerika yang sebelumnya kerap digambarkan sebagai "minoritas teladan" disebut mulai menghadapi stereotip baru, termasuk tuduhan sebagai kelompok oportunistis dan penipu.

Para peneliti juga menghubungkan fenomena tersebut dengan meningkatnya peran warga keturunan Asia Selatan dalam politik AS.

Tokoh-tokoh seperti mantan Wakil Presiden Kamala Harris, Wali Kota New York Zohran Mamdani, istri Wakil Presiden JD Vance, Usha Vance, serta politisi Vivek Ramaswamy disebut dalam laporan sebagai contoh meningkatnya visibilitas komunitas Asia Selatan dalam kehidupan politik Amerika.

Laporan tersebut mencatat serangan berbasis ras terhadap tokoh-tokoh dari berbagai latar politik. Kemenangan Mamdani dalam pemilihan pendahuluan dan pemilihan wali kota New York, misalnya, diikuti peningkatan pelecehan anti-Asia Selatan dan Islamofobia di dunia maya.

Para peneliti menilai sebagian sentimen tersebut berkaitan dengan kecemasan sebagian kelompok mayoritas terhadap perubahan demografis dan potensi kehilangan status sosial. Narasi tersebut, menurut laporan, juga beririsan dengan teori konspirasi "Great Replacement" atau "Teori Penggantian Besar", yang menuduh populasi kulit putih di negara-negara Barat sengaja digantikan oleh kelompok pendatang.

Doxxing dan Penggunaan AI

Perkembangan media sosial membuat ujaran kebencian tidak hanya berhenti pada komentar atau unggahan bernada penghinaan.

Peneliti menemukan sejumlah akun di X yang melakukan doxxing, yakni menyebarkan informasi pribadi seseorang di internet, terhadap warga Asia Selatan yang dituduh mengambil pekerjaan warga Amerika atau menyalahgunakan program visa.

Sejumlah influencer bahkan disebut mendatangi rumah atau tempat kerja orang yang menjadi sasaran, kemudian merekam dan mengunggah kejadian tersebut ke media sosial.

Laporan tersebut juga menyebut influencer sayap kanan Sara Gonzalez sebagai salah satu contoh. Gonzalez, yang memiliki lebih dari 500.000 pengikut, disebut mengunggah video yang menargetkan seseorang dari komunitas Asia Selatan yang dituduhnya menyalahgunakan program H-1B.

Selain media sosial, para peneliti menyoroti penggunaan kecerdasan buatan generatif untuk memproduksi konten yang menggambarkan warga Asia Selatan secara stereotip sebagai kelompok yang kotor, predator seksual, terbelakang secara budaya, atau ancaman demografis.

CSOH menegaskan bahwa kebencian daring tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari permusuhan di dunia nyata.

Laporan tersebut merujuk pada sejumlah insiden kekerasan yang terjadi pada 2026. Pada Juli, seorang pekerja Muslim keturunan India di sebuah pusat perbelanjaan di Utah ditikam berulang kali. Jaksa federal kemudian mendakwa kasus tersebut sebagai kejahatan kebencian.

Pada September, seorang pengemudi truk Sikh juga dilaporkan ditikam sebanyak 17 kali di sebuah tempat peristirahatan truk di Wyoming.

Menurut para peneliti, kebencian di dunia maya dan dunia nyata dapat saling memperkuat. Narasi, stereotip, dan penggambaran suatu kelompok sebagai ancaman dapat berpindah dari media sosial ke wacana politik, media massa, hingga kehidupan sehari-hari.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo