Ratusan Warga New York Protes Penembakan Pria oleh Petugas Imigrasi AS

Ratusan Warga New York Protes Penembakan Pria oleh Petugas Imigrasi AS

New York, Arina.id — Ratusan demonstran berunjuk rasa di New York pada Jumat (9/10/2026) setelah petugas Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menembak seorang pria asal Republik Dominika. Insiden tersebut memicu perselisihan antara Wali Kota New York dari Partai Demokrat dan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Oscar Bergal, 28 tahun, mengalami luka tembak di leher saat operasi ICE di wilayah Bronx pada Kamis. Seorang anak berusia lima tahun yang berada di dalam mobilnya saat kejadian dilaporkan tidak mengalami luka fisik.

Penembakan itu menuai kritik keras dari Wali Kota New York Zohran Mamdani. Melalui akun media sosial X, Mamdani menulis, “Bubarkan ICE” (Abolish ICE), sebuah seruan yang kerap disuarakan kelompok politik kiri yang menentang kebijakan pengetatan imigrasi Presiden Donald Trump dari Partai Republik.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin merespons dengan mengecam pernyataan Mamdani. Ia mengatakan bahwa seruan tersebut “berbahaya dan memicu permusuhan”.

“Wali kota, jika Anda membubarkan ICE, siapa yang akan menangkap para penjahat di jalanan kota Anda sendiri?” kata Mullin kepada wartawan.

“Siapa yang akan menangkap para pembunuh, pencuri, dan anggota geng?” lanjutnya.

Seorang jurnalis AFP melaporkan bahwa ratusan demonstran memenuhi sejumlah blok jalan di Manhattan pada Jumat. Mereka meneriakkan slogan, “Tidak ada kebencian, tidak ada ketakutan, imigran diterima di sini,” serta “Tolak ICE”.

New York merupakan basis kuat Partai Demokrat. Kota ini termasuk di antara sejumlah kota di Amerika Serikat yang melarang kepolisian setempat membantu penegakan hukum imigrasi federal.

Pada Kamis, Mamdani mengatakan sedang berupaya berbicara dengan Trump dan akan mendesak agar petugas imigrasi ditarik dari kota tersebut.

Insiden ini berpotensi menguji hubungan kedua pemimpin yang sebelumnya terjalin cukup hangat di luar dugaan. Video penembakan yang dibagikan media AS pada Jumat memperlihatkan seseorang yang tampaknya merupakan agen federal berpakaian sipil berlari mendekati sebuah mobil berwarna perak sambil mengacungkan senjata.

Mobil itu sempat bergerak mundur ketika agen tersebut memukul kaca jendela di sisi pengemudi. Seorang petugas berpakaian sipil lainnya kemudian mengacungkan senjata.

Petugas kedua mengarahkan senjatanya kepada pengemudi saat mobil bergerak maju dan keluar dari jangkauan kamera. Mobil itu tampak bertabrakan dengan sisi kendaraan lain yang melintas.

Penembakan yang Menjadi Sorotan
Mullin mengatakan Bergal memiliki catatan kriminal yang panjang dan berusaha menghindari penangkapan.

“Dia datang ke negara ini secara legal beberapa tahun lalu. Sejak tiba di sini, dia terus melakukan kejahatan demi kejahatan,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri tersebut.

Mullin menyatakan bahwa petugas ICE tidak mengetahui keberadaan seorang anak di dalam mobil ketika mereka melepaskan tembakan.

Pejabat senior ICE Marcos Charles mengatakan kepada wartawan bahwa Bergal “menolak perintah yang sah untuk keluar dari kendaraannya”.

“Ia kemudian mempercepat kendaraannya dan menabrak dua kendaraan dinas ICE milik pemerintah. Setelah itu, ia menjadikan kendaraannya sebagai senjata dan kembali melaju ke arah petugas lainnya,” kata Charles.

“Petugas kami bertindak berdasarkan pelatihan yang mereka terima. Mereka meyakini nyawa mereka, rekan-rekan mereka, dan masyarakat umum berada dalam bahaya. Karena itu, mereka menggunakan senjata api,” ujarnya.

Petugas ICE, yang kerap mengenakan pakaian sipil dan menutupi wajah, terlibat dalam sejumlah insiden penembakan yang menjadi sorotan publik sepanjang tahun ini.

Pada Maret 2025, Ruben Ray Martinez, 23 tahun, ditembak oleh petugas ICE. Menurut laporan The Texas Tribune, kasus tersebut merupakan pembunuhan pertama yang diketahui dilakukan petugas imigrasi terhadap seorang warga negara AS selama masa jabatan kedua Trump.

Pada Juli lalu, seorang pria asal Meksiko bernama Lorenzo Salgado meninggal dunia setelah ditembak petugas ICE di Houston, Texas.

Dua warga negara AS, Renee Good dan Alex Pretti, juga tewas ditembak oleh agen imigrasi federal dalam dua insiden terpisah di Minnesota pada awal tahun ini. Kedua penembakan itu terjadi saat operasi penindakan terhadap imigran tanpa dokumen di negara bagian tersebut.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo