Arina.id - Para pemimpin partai oposisi Israel pada sepakat mengusulkan Ketua Partai Yashar Gadi Eisenkot sebagai calon perdana menteri kepada Presiden Isaac Herzog, Selasa 3 November 2026.
Mereka sekaligus berkomitmen membentuk pemerintahan darurat nasional untuk menggantikan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bersama para pemimpin partai oposisi di Herzliya, wilayah Israel bagian barat-tengah, menjelang dimulainya konsultasi pembentukan pemerintahan di kediaman Presiden Herzog pada Rabu, 4 November 2026.
Dalam pernyataan bersama, partai-partai yang menghadiri pertemuan menyatakan akan merekomendasikan Eisenkot kepada Herzog untuk membentuk pemerintahan berikutnya.
Tim perunding dari masing-masing partai juga akan segera menyusun pedoman kebijakan dan kesepakatan koalisi yang diperlukan untuk membentuk kabinet baru.
"Para pemimpin partai telah berkoordinasi dan akan segera bertindak untuk menggantikan 'pemerintahan 7 Oktober' dengan pemerintahan darurat nasional," demikian pernyataan bersama tersebut.
Mereka juga menyatakan akan berupaya membangun mayoritas parlemen yang jelas di Knesset, parlemen Israel. Selain membahas pembentukan koalisi, para pemimpin oposisi mendiskusikan langkah-langkah yang akan diambil pada hari-hari pertama masa kerja Knesset yang baru untuk mempercepat pembentukan pemerintahan dan menghindari pemilihan umum ulang.
Pertemuan pada Selasa merupakan pertemuan bersama pertama para pemimpin oposisi sejak pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober.
Menurut laporan The Jerusalem Post, pertemuan tersebut dihadiri Eisenkot, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dari Partai Together, Ketua Partai Yisrael Beytenu Avigdor Lieberman, Yair Golan dari Partai Demokrat, serta pemimpin oposisi Yair Lapid.
Hasil pemilihan parlemen pada 27 Oktober menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 53 dari total 120 kursi Knesset, sementara blok oposisi meraih 48 kursi dan partai-partai Arab mendapatkan 19 kursi.
Dengan perolehan tersebut, blok oposisi belum mampu mencapai ambang mayoritas parlemen sebanyak 61 kursi tanpa dukungan dari partai lain. Dukungan anggota parlemen dari partai-partai Arab berpotensi menjadi faktor penentu dalam upaya oposisi membentuk pemerintahan baru.
Editor:


