Arina.id -- Hingga saat ini diperkirakan sudah ada lebih dari 300 ribu pengungsi warga Palestina yang memutuskan kembali ke wilayah Gaza Utara, selepas kesepakatan gencatan senjata antara Hamas-Israel yang berlaku mulai 19 Januari 2025 lalu.
"Lebih dari 300.000 orang yang mengungsi dari wilayah gubernuran Gaza selatan dan tengah kembali ke Gaza dan wilayah gubernuran Gaza utara hari ini melalui jalan Rashid (barat) dan Salah al-Din (timur), setelah 470 hari," jelas Kantor Media Gaza, pada Senin (27/1/2025), dikutip dari Anadolu.
Perjanjian gencatan senjata yang berlaku sudah lebih dari sepekan lalu itu, untuk sementara ini berhasil menghentikan upaya genosida pihak pendudukan Israel. Konflik besar yang meletus sejak 7 Oktober 2023 tersebut sudah membunuh lebih dari 47.300 warga Palestina dan melukai lebih dari 111.400 orang.
Tak hanya itu, sampai saat ini juga dikabarkan bahwa masih ada lebih dari 11.000 orang hilang, hanya dari konflik setahun terakhir. Hal ini menyisakan kerusakan sangat masif di wilayah Jalur Gaza, serta mengakibatkan krisis kemanusiaan yang buruk.
Bahkan buntut dari korban sipil yang tak terkira, pada November 2024 lalu Mahkamah Pidana Internasional sampai merilis surat perintah penangkapan terhadap Pemimpin Otoritas Israel Benjamin Netanyahu, dan mantan otoritas pertahananl Yoav Gallant. Mereka didakwa atas kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan.
Di sisi lain, dengan kembalinya sebagian besar warga Gaza ke rumah-rumah mereka yang hancur, seakan memperlihatkan semangat besar mereka untuk mempertahankan Tanah Airnya dari upaya pendudukan.
“Dengan kembali, kami menang,” ucap Rania Miqdad, salah seorang warga yang kembali ke Gaza bersama keluarganya, seperti dikabarkan oleh Associated Press dan Al Jazeera.
“Kami mengira kami tidak akan kembali, seperti nenek moyang kami,” kata Abu Mattar kepada AP, ia mengacu kepada kakek dan neneknya yang masuk dalam bagian ratusan ribu warga Palestina yang diusir oleh Israel, selama kekerasan yang terjadi ketika pembentukan Israel tahun 1948.
Peristiwa pengusiran warga Palestina dari rumah-rumah mereka tersebut, dikenal dengan Nakba atau malapetaka.
Sementara itu pihak Hamas menilai bahwa kembalinya warga Gaza ke rumah-rumah mereka yang hancur, hingga Senin (27/1/2025), merupakan simbol kemenangan rakyat Palestina atas segala upaya pengusiran yang dilakukan tentara pendudukan.
"Kembalinya mereka yang mengungsi adalah kemenangan bagi rakyat kami dan sebuah pernyataan atas kegagalan dan kekalahan pendudukan (Israel) serta rencana pengungsian mereka," jelas Izzat al-Rishq, salah seorang pejabat senior Hamas.
Editor:


