Arina.id - Audiensi dengan pejabat atau tokoh penting biasanya perlu persiapan khusus agar membawa performa dan aura positif. Di sisi lain, terkadang ada kendala teknis saat hendak menemuinya, mulai dari antrian panjang, jadwal digeser, dan sebagainya. Untuk menghindari kendala tersebut, di antara cara yang bisa dilakukan adalah dengan berdoa memohon kepada Allah agar diberikan kelancaran dan ketenangan hati.
Imam At-Thabrani dalam Kitabub Du‘a (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 1413 H), halaman 320-321 mengisahkan, ada seorang pria yang hendak menemui Sayyidina Utsman bin Affan untuk sebuah urusan. Mungkin karena padatnya kegiatan atau hal lain, Khalifah Utsman bin Affan tidak sempat memperhatikan atau merespons kehadiran pria tersebut. Setelah menunggu cukup lama, pria tersebut bertemu dengan Utsman bin Hunaif, pria ini pun mengadu dan menyampaikan kondisi yang dialaminya.
“Pergilah ke masjid, lalu wudhu dan shalatlah dua rakaat,” ucap Ibnu Hunaif kepada pria tersebut usai mendengarkan keluh kesahnya.
Setelah menunaikan shalat, sambung Ibnu Hunaif, bacalah doa ini:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيَقْضِي لِي حَاجَتِي (وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ)
Allâhumma innî as’aluka wa atawajjahu ilayka binabiyyinâ nabiyyir-raḥmati, yâ Muḥammadu, innî atawajjahu bika ilâ rabbika fayaqdlî lî ḫâjâtî (sebutkan keperluan/kebutuhanmu).
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Tuhanmu agar Dia memenuhi kebutuhanku (kamu sebutkan kebutuhanmu).”
Usai melaksanakan shalat dan membaca doa tersebut, pria ini kembali ke tempat Utsman bin Affan. Saat sampai pintu, pihak keamanan langsung membawanya menghadap Utsman bin Affan dan mempersilahkannya duduk. Akhirnya, pria tersebut menyampaikan keperluannya dan Utsman bin Affan pun memenuhi permintaannya.
Setelah urusannya selesai, pria ini langsung keluar dan bertemu kembali dengan Ibnu Hunaif lalu menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya. Ibnu Hunaif kemudian menceritakan asal usul amalan dan doa tersebut.
Diceritakan Ibnu Hunaif, saat bersama Rasulullah ia pernah menyaksikan seorang buta yang mengeluh atas penglihatannya yang hilang. Rasulullah kemudian menyuruhnya untuk berwudhu, shalat, dan membaca doa tersebut. Beberapa saat kemudian, orang yang sebelumnya buta itu datang dalam keadaan seolah punya penglihatan yang normal.
Dengan demikian, amalan untuk kelancaran audiensi atau pertemuan dengan pejabat atau tokoh penting lainnya adalah wudhu, shalat 2 rakaat, dan membaca doa sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Diharapkan dengan mengamalkannya, Allah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam pertemuan tersebut serta membuahkan hasil yang memuaskan. Wallahu a'lam
Editor:


