Perjuangan tak kenal henti dalam menggaungkan moderasi beragama terus dilakukan Wahyudi, salah satu guru di Madrasah Aliyah Negeri atau MAN 2 Cilegon.
Inovasi pria yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala MAN 2 Cilegon ini dalam memperjuangkan moderasi beragama di mulai sejak 2022 silam.
Tulisannya soal moderasi beragama yang merujuk pada Kesultanan Banten berhasil masuk 100 besar nasional dalam ajang Lomba Menulis Artikel Guru Tingkat Nasional yang digelar Nyalanesia. Ketertarikannya memperjuangkan moderasi beragama berawal saat dirinya memotret toleransi di masa kesultanan Banten.
"Kesultanan Banten sebagai bagian dari peradaban di Indonesia, telah mengajarkan nilai toleransi yang tinggi di tengah keberagaman dan telah mewariskan moderasi agama. Pada era kesultanan Banten telah hidup masyarakat yang harmonis dengan berbagai macam etnis, suku, ras dan agama," katanya menyinggung sedikit soal esai yang ia buat.
Menurutnya, dlam Islam konsep moderasi beragama berarti Islam wasathiyah, yang mengedepankan pentingnya keadilan dan keseimbangan serta jalan tengah agar tidak terjebak pada sikap keagamaan yang ekstrem.

"Sebagai contoh, pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Hasanudin di Kesultanan Banten banyak berdiri beberapa tempat ibadah. Masjid Agung Banten menjadi salah satu masjid tertua di Nusantara dan jarak 500 meter dari situ ada Vihara Avalokitesvara," katanya.
Kata dia, Jejak moderasi beragama pada era Kesultanan Banten juga terlihat dalam arsitektur Masjid Agung Banten yang dibangun dari 3 budaya yang berbeda yaitu: budaya Cina, budaya Eropa, dan budaya Arab.
"Arsitektur Masjid Agung Banten telah memperlihatkan adanya komitmen kebangsaan yang tinggi, karena masyarakat Banten pada waktu itu yang multi-etnis bekerjasama dan saling bahu," paparnya.
Selain tulisan soal moderasi beragama yang tembus ke kancah nasional, Wahyudi juga turut mendampingi siswanya yang mengikuti lomba inisiator muda moderasi beragama di tingkat nasional pada 2023 silam.
"Saya mendempingi murid MAN 2 Cilegon dan memberu masukan soal inovasi moderasi beragama yang bisa diterapkan. Mulai dari pojok pintar kebangsaan serta one day one content," jelasnya menceritakan siswanya menjadi perwakilan Banten dalam lomba yang digagas Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah (KSKKM) Kementerian Agama itu.
Ia kembali menceritakan proses lomba yang diikuti Madrasah di bawah Kementerian Agama (Kemenag) se-Indonsia mengikuti ajang tersebut. Awalnya siswa yang ia bina membuat tulisan tentang moderasi beragama, kemudian diseleksi masuk 100 besar tulisan terbaik lalu diseleksi lagi menjadi 40 besar.
"Alhamdulilahnya murid kami berhasil menjadi perwakilan lomba dengan mengharumkan nama baik MAN 2 Kota Cilegon serta Banten ditingkat nasional," urainya pria kelahiran 1991 ini.
Ia juga turut mendapingi siswanya yang lain pada ajang bertajuk moderasi beragama yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Kemenag RI pada 2024.
"MAN 2 Cilegon berhasil menjadi 34 peserta yang masuk grand Final mewakili Provinsi Banten. Dari 1.236 peserta setelah Seleksi Administrasi dan Penilaian Konten Video Kompetisi, Babak Eliminasi, alahmdulillah murid binaan kami masuk Grand Final," tuturnya.
Kini, Wahyudi terus berupaya untuk terus memperjuangkan moderasi bersagama khususnya di Kota Cilegon. Salah satu Dewan Hakim Syarhil Quran Muda di Kota Cilegon itu tengah mempersiapkan ajang MTQ tingkat Provins Banten.
Menurutnya, moderasi dalam ajang MTQ Banten salah satunya memastikan dalam ajang MTQ diisi oleh peserta-peserta yang merupakan putra daerah. Kata dia, Cilegon menjadi salah satu kota yang sudah bertahun-tahun komitmen membawa peserta asli Kota Cilegon.
"Kami pastikan peserta MTQ dari Kota Cilegon merupakan putra daerah asal Cilegon. Itu adalah bagian moderasi dalam MTQ Banten, kami akan perjuangkan, kami akan bina putra-putri terbaik Cilegon hingga berprestasi di MTQ tingkat Banten hingga nasional," ujarnya. (WAN)
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
Editor:


