Dark
Light
Dark
Light

Prof MN Harisudin, Guru Besar Termuda PTKIN yang Tak Berhenti Menebar Kemanfaatan

Prof MN Harisudin, Guru Besar Termuda PTKIN yang Tak Berhenti Menebar Kemanfaatan

"Kata kuncinya: Seperti tidak selesai ini. Kita harus punya kontribusi, kontribusi buku jelas, jurnal ilmiah jelas, penelitian jelas, dan pengabdian juga jelas. Saya ingin kontribusi tidak hanya sekadar itu."

Kalimat itu diucapkan Prof Muhammad Noor Harisudin, seorang Guru Besar di Universitas Islam Negeri (UIN) KH Achmad Siddiq saat Arina.id bertanya mengapa ia yang sudah meraih Guru Besar masih begitu sibuk dengan berbagai kegiatan.

Ya, Guru Besar adalah karier tertinggi akademik seseorang. Namun bagi Prof Haris,gelar dengan meraih gelar Guru Besar itu, ia tak ingin berhenti untuk terus berkarya dan menebar manfaat.

Masa Kecil di Lingkungan Ilmu
Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember masa bakti 2019–2023 itu menceritakan beberapa kesibukannya akhir-akhir ini termasuk pejalanannya menjadi Guru Besar.

Dengan senyumannya yang khas, Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur itu menyambut hangat obrolan. Ia mulai menjahit satu per satu proses belajar yang dididik langsung oleh orang tua dan para guru di pondok pesantren.

Haris kecil tumbuh di lingkungan ilmu. Lulus Madrasah Ibtidaiyah Sultan Fatah Demak, Jawa Tengah, tahun 1990.

Lalu di MTs NU Demak sampai 1993, serta mondok di Pondok Pesantren Al Fatah Bintoro, Demak, Jawa Tengah.

Menempa Ilmu di Kajen, Pati
Selanjutnya, Haris melanjutkan ke Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Khazanah keilmuannya tertancap dengan kuat seiring bertambahnya usia.

"Sebelum ke Kajen, saya belajar diniyah di Pondok Al-Fatah. Sesekali juga ngaji di pesantren Demak yang lain. Misalnya Pondok Al-Amanah Weding Demak dan Pondok Al-Islah Tembiring Demak. Di sana saya mulai belajar agama," paparnya.

Ia mengaku di Pondok Kajen ini bisa membaca kitab dalam kurun waktu setahun. Artinya, ia sudah bisa dengan lancar membaca kitab kuning. Pasalnya, Pondok Kajen memiliki tradisi menarik—sama menariknya dengan pondok-pondok lain—yaitu metode belajar membaca kitab kuning dengan keras sekali.

Haris memisalkan lokasi duduk membaca kitab kuning. Radius 20 meter terdengar begitu jelas bacaan kitab. Hal itu dilakukan agar para senior dapat mengoreksi kesalahan pembaca kitab.

"Membaca (kitab) keras sekali supaya nanti kalau ada yang salah, akan diingatkan senior atau teman itu tahu. Akhirnya saya cepat bisa karena membaca kitab dengan keras," akuinya.

Belajar dan Bertumbuh di Lingkungan Pesantren
Dari sini, Haris mulai belajar di madrasah diniyah mempelajari Nahwu, Shorof, Balaghah, Fikih, Ushul Fikih, Qawaid al-Fiqh, Tafsir, dan lain-lain. Kendati saat itu masih anak-anak dan belum fokus belajar, ia mencoba mengikuti arahan orang tua, juga belajar qiro’at meski pada mulanya dengan rasa terpaksa.

Selanjutnya, Haris sangat menikmati keilmuan di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Sebab, ada dua sekolah besar di Kajen, Pati.

"Pertama, Mathaliul Falah yang didirikan KH Abdussalam. Mathaliul Falah ini dekat dengan Pondok Maslakul Huda asuhan KH Sahal Mahfudz. Kedua, Madrasah Salafiyah yang berada di lingkungan Pesantren Salafiyah asuhan KH Faqihudin," urainya.

Kedua pengelola sekolah tersebut, sebut Haris, sama-sama dzurriyah dari Kiai Mutamakkin, seorang wali yang terkenal di Jawa Tengah.

"Saya 3 tahun di Kajen Pondok Salafiyah. Tetapi juga sering mengaji di Pondok Kiai Sahal Mahfudz, Pondok Maslakul Huda. Kala itu beliau masih Ketua PCNU Pati Jawa Tengah. Saya mengaji di sana, meski jarak Pondok Salafiyah dengan PP Maslakul Huda kurang lebih 1 kilometer. Biasanya Ramadan merupakan momen saya juga mengaji ke sana dengan berjalan kaki," bebernya.

Menimba Ilmu di Ma’had Aly Situbondo
Prof. Haris menjelaskan sangat menikmati kesibukan dengan ilmu di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Kedua pondok pesantren yang berdekatan ini saling berkompetisi fastabiqul khairat. Mulai di akademik hingga nonakademik seperti drumband, bahtsul masail, baca kitab, dan lain-lain.

"Jadi 3 tahun ada di Kajen betul-betul mulai membentuk karakter kemandirian. Membaca kitab, kecintaan ilmu karena memberi dasar ilmu pengetahuan. Lulus, saya disuruh orang tua saya mondok di Situbondo," kenangnya.

Akhirnya, Haris masuk Ma’had Aly Situbondo yang mempunyai takhassus Ilmu Fikih dan Ushul Fikih. Kendati saat itu belum memiliki jenjang formal, namun santri yang masuk Ma’had Aly dianggap ‘keren’ karena telah menjadi ‘kader ulama’ di lembaga ini.

Dibimbing Ulama Besar
Di Ma’had yang didirikan oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin ia bertemu KH Afifuddin Muhajir.

"Jika belajar Nahwu, Shorof, Balaghah itu di Kajen, maka di Sukorejo saya belajar Fikih dan Ushul Fikih. Di sini juga, saya mulai membuka diri untuk berinteraksi dengan komunitas-komunitas di luar pesantren seperti P3M Jakarta, LKiS Yogyakarta, dan eLSAD Surabaya," ungkapnya.

Mulai dari Ma’had Aly inilah Haris memperoleh banyak pengetahuan luas. Akhirnya, Haris yang sebetulnya jarang bicara atau pendiam menjadi berani tampil di depan umum. Pun berlanjut menjadi Ketua Senat Fakultas Syariah Institut Agama Islam Ibrahimy dan Ketua I PMII Cabang Situbondo.

Aktif di PMII dan Dunia Akademik
"Di situ saya mulai menemukan banyak inspirasi. Lalu, di malam hari di Ma’had Aly, saya sering melakukan musyawarah Kitab Fathul Jawab hingga Kitab Jam’ul Jawami’," terangnya.

Ia mengingat saat sore kuliah di Ibrahimy Situbondo mulai sedikit “nakal dalam pemikiran”. Pikiran-pikiran progresif untuk pondok pesantren disampaikan melalui Majalah As-Syarif milik pesantren.

Suatu saat, Prof. Haris mendapatkan kehormatan diajak berdiskusi berdua saja dengan Kiai Fawaid tentang perguruan tinggi yang menjadi atensi pesantren.

Selain berkuliah, Haris muda juga aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejak 1996. Kemudian lulus tahun 2000 meraih IPK 4,0 terbaik. Ia ingin membuktikan kepada orang tua bahwa dirinya bisa dengan segala dinamika.

Menjadi Dosen dan Melanjutkan Studi
Haris pernah mendapatkan tawaran beasiswa ke India, namun tak ia terima. Ia ingin keluar dari Sukorejo mencari pengalaman lain. Akhirnya memutuskan untuk menjadi pengajar. Saat itu syarat terakhir menjadi pengajar di perguruan tinggi masih lulusan Strata 1. Ia diterima di STAIN Jember yang sekarang sudah menjadi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember.

Berlanjut tahun 2002 ia memutuskan untuk mengambil S2 hingga 2004 di IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya. Bersama sang istri, Haris bermukim di Pondok Pesantren Darul Hikmah Kebonsari Jambangan Surabaya, asuhan Prof. KH. Syaichul Hadi Permono.

Usai lulus, tepatnya Januari 2005 ada pendaftaran PNS, ia lolos. Dirinya bersemangat untuk melanjutkan S3 ketika teman-temannya belum ada yang melanjutkan studi.

Meraih Gelar Doktor dan Menjadi Guru Besar Termuda
Pada tahun 2007, Haris melanjutkan S3 di UIN Surabaya. Prof. A’la yang waktu itu menjadi Rektor UIN menjadi promotor disertasi. Prof. A’la adalah orang yang paling berperan mendidik Haris ketika S3. Haris merasa pengaruh Prof. A’la sangat besar dalam hidupnya.

Selain Prof. A’la, Haris juga mendapat promotor yang luar biasa, yaitu Prof. KH Ahmad Imam Mawardi, MA. Prof. Imam Mawardi adalah dai dan dosen yang juga membentuk pribadinya.

"Prof. Imam Mawardi sosok kiai humanis yang luar biasa. Beliau pengasuh Pondok Pesantren Alif Lam Mim Kota Surabaya. Dari situlah bertemu dengan beliau yang selalu memotivasi untuk terus belajar. Akhirnya sampai lulus tahun 2012 tapi wisudanya 2013," aku Prof. Haris.

Aktif di NU dan Dunia Organisasi
Jauh sebelum itu, Haris sudah aktif di organisasi. Sejak 2004, Haris mendapatkan amanah Ketua Lembaga Ta’lif wa Nasyr PCNU Jember.

Ia membuat majalah dan berbagai karya lainnya. Tahun 2009, Haris menjadi Wakil Sekretaris NU Jember. Tahun 2014, Haris diangkat menjadi Katib Syuriyah PCNU Jember.

"Setelah saya S3, saya menjadi Katib Syuriyah. Tahun 2019 menjadi A’wan Syuriyah NU, lalu 2024 menjadi salah satu Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur," imbuhnya.

Perjalanan Menuju Guru Besar
Menuju Guru Besar, dikatakannya, tidaklah mudah. Sejak tahun 2015 mulai masuk ke UIN KHAS Jember fokus pada karier akademik. Salah satu langkahnya dengan mulai membuat karya-karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal nasional dan internasional.

"Tahun 2016, saya membuat kaget banyak orang-orang. Saya mengajukan Guru Besar, orang terkejut semua. Kok tiba-tiba mengajukan Guru Besar, karena jurnal Scopus saya sudah ada dua waktu itu," kenangnya.

Suami Robi’atul Adawiyah ini sudah melewati semua dan mengajukan menjadi Guru Besar. Saat itu masih menjadi Kaprodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah.

"SK saya turun tepatnya 1 September 2018, atau 25 hari sebelum ulang tahun kelahiran saya. Saya lahir 25 September 1978. Jadi 40 tahun kurang 25 hari sudah menjadi Guru Besar. Itu yang menjadi pertama kecelek (kaget) banyak orang kok sudah sampai di situ," terangnya.

Menebar Manfaat Lewat Pesantren dan Lembaga Sosial
Kendati menjadi guru besar termuda di PTKIN saat itu, ia mengaku capaian ini karena berkah para masyayikh dan Nahdlatul Ulama. Sehingga, hal itu justru menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menebar lebih banyak manfaat.

"Ada yang memberi saran, KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU agar saya tidak berhenti di sini, justru manfaatnya harus lebih luas," ingatnya.

Tak tinggal diam atas predikat Guru Besar, ia akhirnya mendirikan Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli. Pesantren ini tidak hanya khusus untuk mahasiswa-mahasiswi UIN Jember, tetapi juga terbuka bagi mahasiswa Universitas Islam Jember dan perguruan tinggi lain.

Di pondok yang mulai dirintis sejak 2015 itu, bahkan juga ada santri dari luar yang tidak kuliah, hanya ingin belajar tafaqquh fiddin. 

Dari Akademisi Menuju Penggerak Sosial
Tidak hanya berhenti di situ, Prof Haris juga ingin mempunya kiprah sosial yang lebih luas.

"Kayaknya, kami harus bergerak dengan cara membuat tadi YPI Darul Hikam. Sekarang kami membuat Lembaga Wakaf dan Zakat Darul Hikam. Dari sini kami memulai perubahan. Jadi saya ingin tidak hanya selesai di diskusi, halaqah, atau seminar, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," akuinya.

Dikatakannya, melalui Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam, sejak awal 2024 sudah mulai berjalan diskusi untuk gagasan-gagasan perubahan dan gerakan sosial.

Dia menambahkan, kali ini melalui lembaga tersebut fokus bagaimana membuat rumah ibadah yang ramah lansia dan difabel.

Salah satu langkahnya dengan memberikan bantuan ke masjid berupa kursi untuk lansia dan difabel ke seluruh masjid di Jawa Timur dan Indonesia. Ia berkeliling ke Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Kediri, Bangkalan, dan Kediri.

Menebar Manfaat hingga Mancanegara
Pria yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (PP APHTN-HAN) 2025–2030 ini ingin terus memberikan manfaat dan pengabdian. Tidak hanya di dunia akademik, tapi juga untuk kegiatan keilmuan nasional dan internasional.

Prof. Haris sering diundang ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Hong Kong, Saudi Arabia, Mesir, Turki, Jepang, Belanda, Jerman, Amerika, Australia, Selandia Baru, dan sebagainya.

Selain berbagi ilmu agama seperti mengisi kajian Ramadhan di luar negeri, fokus kajiannya adalah bidang fikih termasuk fikih bagi umat Islam yang tinggal atau berada di negara mayoritas non-Muslim.

"Ya, niatnya adalah memberi manfaat lebih banyak lagi kepada masyarakat sekitar, masyarakat Indonesia, dan dunia. Dengan demikian, kita dapat melakukan sesuatu untuk perubahan-perubahan yang bisa kita impikan," tandas Prof. Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan MUI Jawa Timur.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo