Apakah Anda pernah berada dalam situasi darurat, mungkin panik, butuh keputusan cepat, atau sekadar konfirmasi penting, namun pesan WhatsApp hanya berstatus centang dua biru tanpa balasan? Rasanya pasti jadi campur aduk: kesal, kecewa, bahkan merasa diabaikan.
Dalam beberapa kasus, orang yang tidak membalas pesan saat situasi genting bukan semata-mata tidak peduli.
Sejumlah penelitian psikologi komunikasi digital menunjukkan ada faktor mental dan emosional yang memengaruhi respons seseorang terhadap pesan instan.
Berikut 7 kemungkinan penjelasannya.
1. Avoidance coping (menghindari masalah)
Dalam psikologi,ada istilah avoidance coping yaitu strategi menghadapi stres dengan cara menghindari sumber tekanan.
Penelitian dalam Journal of Behavioral Medicine menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan ini lebih memilih “diam” atau menunda respons ketika dihadapkan pada situasi yang membuat cemas.
Pesan genting justru bisa memicu rasa tertekan. Alih-alih membalas, mereka memilih tidak merespons sebagai bentuk perlindungan diri.
2. Kecemasan sosial dan takut salah respons
Banyak orang mengalami kecemasan saat berkomunikasi digital, terutama ketika merasa harus memberi jawaban yang tepat.
Dalam situasi genting, tekanan meningkat:
- Takut salah memberi saran
- Takut memperkeruh keadaan
- Takut ikut terseret konflik
Akhirnya, mereka memilih tidak membalas sama sekali.
3. Digital overload dan decision fatigue
Rata-rata orang menerima puluhan hingga ratusan notifikasi per hari. Fenomena ini disebut digital overload.
Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa terlalu banyak notifikasi dapat meningkatkan stres dan kelelahan mental (decision fatigue). Dalam kondisi ini, otak cenderung menunda keputusan, termasuk keputusan sederhana seperti membalas pesan.
Ironisnya, semakin penting pesannya, semakin besar beban mental untuk segera merespons.
4. Emotional shutdown saat panik
Tidak semua orang responsif saat krisis. Dalam teori respons stres (fight, flight, freeze), ada tipe “freeze”—membeku.
Orang dengan kecenderungan ini bisa:
- Membaca pesan
- Menyadari urgensinya
- Tapi tidak mampu langsung bertindak
Bukan karena tidak peduli, melainkan karena sistem sarafnya sedang “membeku”.
5. Boundaries yang terlalu kaku
Beberapa orang menerapkan batasan digital yang sangat ketat demi menjaga kesehatan mental.
Misalnya:
- Tidak membalas pesan di luar jam tertentu
- Tidak merespons pesan yang dianggap emosional
Psikolog menyebut ini sebagai rigid boundary setting. Masalahnya, ketika batasan ini diterapkan tanpa fleksibilitas, situasi genting pun bisa terabaikan.
6. Konflik tersembunyi atau Passive-Aggressive Behavior
Dalam dinamika relasi, tidak membalas pesan bisa menjadi bentuk komunikasi terselubung.
Penelitian dalam bidang psikologi interpersonal menyebut perilaku ini sebagai passive-aggressive response—menyampaikan ketidaksetujuan lewat diam.
Jika sebelumnya ada konflik atau ketegangan, situasi genting bisa menjadi “panggung” untuk menunjukkan jarak emosional.
7. Empathy gap (kesenjangan empati digital)
Komunikasi teks tidak menyertakan nada suara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh. Riset menunjukkan bahwa empati dalam komunikasi digital lebih rendah dibanding komunikasi langsung. Akibatnya, penerima pesan mungkin tidak benar-benar merasakan urgensi yang sama dengan pengirim.
Bagi pengirim: ini darurat.
Bagi penerima: ini hanya satu notifikasi di layar.
Apakah Itu Salah?
Secara etika sosial, mengabaikan pesan dalam situasi genting tentu dapat merusak kepercayaan. Respons cepat dalam kondisi darurat adalah bagian dari empati sosial.
Namun dari sudut psikologi, diamnya seseorang bisa jadi bukan sekadar cuek. Bisa jadi ia:
- Sedang kewalahan
- Sedang cemas
- Sedang menghindar
- Atau tidak mampu mengelola tekanan saat itu
Hal yang perlu diingat, komunikasi digital sering kali memperbesar salah paham.
Kadang solusi terbaik dalam situasi benar-benar genting bukan hanya mengirim chat, tetapi bisa:
- Menelepon langsung
- Menghubungi orang lain yang lebih responsif
- Atau mencari bantuan profesional
Karena dalam kondisi darurat, kecepatan respons lebih penting daripada menunggu satu orang yang mungkin sedang berjuang dengan kondisi mentalnya sendiri.
Editor:


