Jakarta, Arina.id — Perlindungan terhadap warga terdampak bencana alam menjadi kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda, terlebih di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia. Banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi penyintas.
Dalam situasi darurat semacam ini, penanganan tidak cukup berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan dan tempat tinggal, melainkan harus disertai dukungan sosial dan psikososial yang memadai agar warga terdampak—terutama kelompok rentan—dapat pulih, bangkit, dan kembali menjalani kehidupan secara bermartabat.
Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lanjut usia membutuhkan pendekatan khusus dalam penanganan pascabencana. Perlindungan fisik saja tidak cukup. Artikel jurnal berjudul Penggunaan Layanan Dukungan Psikososial sebagai Sarana Trauma Healing pada Korban Bencana Alam menyebutka bahwa dukungan psikososial menjadi elemen penting untuk memulihkan kondisi mental dan emosional mereka yang terdampak.
Para peneliti dan penulis artikel yakni M Rizky (Universitas Budi Luhur, Jakarta); Hayatul Khairul Rahmat (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati, Cirebon); dan A Said Hasan Basri (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta) mengungkapkan salah satu bentuk pendampingan psikososial dilakukan terhadap lansia di Kabupaten Cianjur pascagempa bumi November 2022.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kelompok pengabdian masyarakat dengan menggunakan teknik Progressive Muscle Relaxation (PMR), yakni metode relaksasi otot bertahap untuk menciptakan rasa tenang dan relaks secara fisik.
Pendampingan ini dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari perencanaan program, penyediaan fasilitas pendukung teknologi PMR, hingga pengaturan logistik. Setelah itu, lansia diberikan edukasi mengenai manfaat PMR dan pentingnya menjaga lingkungan psikologis yang sehat. Pelatihan dilaksanakan selama tiga bulan, disertai praktik rutin dan evaluasi berkala untuk memastikan metode tersebut diterapkan dengan benar.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa teknik PMR memberikan dampak nyata dalam mengurangi tekanan psikologis yang kerap dialami lansia di situasi pascabencana. Lansia menjadi lebih rileks, tenang, dan mampu menghadapi kondisi darurat dengan lebih baik (Rochman et al., 2023).
Pendekatan khusus juga sangat diperlukan bagi anak-anak yang terdampak bencana. Anak menjadi kelompok paling rentan karena kondisi psikologis mereka belum matang secara usia (Azzahra et al., 2023). Salah satu metode yang banyak digunakan adalah terapi bermain sebagai sarana pemulihan trauma.
Terapi bermain memiliki berbagai bentuk, antara lain permainan blok, terapi bermain kelompok, permainan tradisional, dan permainan instruksional. Permainan blok dapat membantu mengidentifikasi masalah perilaku anak, sementara terapi bermain kelompok terbukti efektif menurunkan stres pascatrauma dan meningkatkan kemampuan sosial anak.
Adapun permainan tradisional memudahkan proses adaptasi karena berangkat dari budaya lokal, sedangkan terapi instruksional dapat meningkatkan motivasi belajar sebagai bentuk distraksi dari trauma yang dialami (Ekawati et al., Karim & Wifroh dalam Azzahra et al., 2023).
Selain terapi bermain, metode bernyanyi dan bercerita juga menjadi alternatif dukungan psikososial bagi anak-anak korban bencana. Penelitian Bali et al. (2021) mencatat, metode ini diterapkan pada anak-anak terdampak Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur.
Peneliti juga mengungkapkan bahwa kegiatan bernyanyi dinilai mampu menenangkan anak, mengurangi rasa takut, serta menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan melalui nilai-nilai edukatif yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, terapi bercerita membantu anak mengatasi kecemasan, meningkatkan rasa percaya diri, serta mendorong mereka kembali beraktivitas secara normal. Metode ini juga efektif menurunkan stres, trauma, dan kegelisahan yang kerap muncul pascabencana.
Pendekatan psikososial yang tepat, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan kelompok rentan terbukti menjadi kunci penting dalam proses pemulihan pascabencana. Tidak hanya membantu penyintas bertahan, tetapi juga memulihkan harapan dan kualitas hidup mereka.
Editor: Kendi Setiawan


