5 Hal yang Harus Dimiliki Pasangan jika Punya Anak Berkebutuhan

5 Hal yang Harus Dimiliki Pasangan jika Punya Anak Berkebutuhan

Memiliki anak adalah anugerah tak ternilai. Ia bukan sekadar buah cinta, melainkan titipan suci dari Sang Pencipta. Mendidik, membimbing, dan menemani mereka tumbuh adalah kewajiban luhur yang tak bisa digantikan siapa pun. Bahkan dalam kondisi normal, peran sebagai orang tua adalah perjalanan yang penuh tantangan dan ujian batin.

Lalu, bagaimana jika amanah itu hadir dalam bentuk yang tak biasa—seorang anak yang tuli, bisu, atau buta? Sebuah kondisi yang mungkin tak pernah terbayangkan, tapi bisa menjadi kenyataan. Sebab, sebagai hamba Tuhan, kita percaya bahwa ujian adalah bentuk cinta-Nya, dan setiap ujian selalu sepadan dengan kekuatan yang kita miliki. Menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus bukanlah musibah, melainkan kehormatan—sebuah kesempatan untuk belajar mencinta dengan lebih tulus, lebih dalam, dan lebih kuat.

Dalam beberapa kali kesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan bertema parenting, saya kerap melontarkan pertanyaan: Apa yang akan Anda lakukan ketika mendapatkan ujian memiliki anak yang tuli, buta, dan bisu misalnya?

Sebagian besar peserta enggan membayangkan takdir demikian, sebagian lagi mengatakan pasti akan sedih, kecewa, menangis, dan setumpuk perasaan emosional yang bercampur aduk menggelayuti hati. Hanya satu atau dua saja yang dengan tenang dan yakin menjawab, "Saya akan menerima dan mengucapkan terima kasih."

Memiliki anak berkebutuhan khusus memerlukan situasi, perasaan dan eleman lainnya agar anak tetap tumbuh baik. Berikut adalah 5 sikap yang perlu dimiliki pasangan agar anak-anak spesial tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri : 

1. Sikap Menerima
Betul sekali, satu pijakan yang akan menjadi tonggak kokoh menjaga kestabilan jiwa sang buah hati yang menyandang ujian demikian beratnya itu, adalah sikap bijak orang tua yang menerima dengan sepenuh cinta.

Penerimaan menjadi kata kunci untuk menemukan jalan mendapatkan petunjuk berbagai cara menghadapi anak yang berbeda. Sedih, apalagi kecewa, bukanlah sikap bijak nan elok.

Dalam kondisi apa pun, anak terlahir dengan keunikan dan bakat-bakat istimewa. Kewajiban orang tua adalah menjadi penyelam di kedalaman lautan hati anak-anak untuk menemukan mutiara bakatnya. 

2. Duduk Bersama Pasangan dengan Hati Terbuka
Menerima kenyataan bahwa anak ternyata memiliki kebutuhan khusus, harus disikapi dengan kedua pasangan duduk bersama dengan hati yang sama-sama terbuka.

Bukalah dialog yang tidak saling menghakimi. Tak perlu bersilang pendapat siapa bertugas apa. Mengalirlah sebagaimana sepasang kekasih yang saling menghargai. Jika tugas tertentu tak dapat ditunaikan oleh salah satunya, maka bergantian saja tanpa keluh kesah. Bukankah dalam berkeluarga sang suami pakaian bagi istri dan berlaku sebaliknya? 

Jika ini bisa dilakukan dengan tulus, mengurus anak dengan kondisi apapun menjadi ringan saja. Tantangan dan ujian akan selalu ada. Namun, kemauan untuk sama-sama membuka hati cukup menjadi landasan agar setiap jiwa kembali pada tuntutan Tuhan, sehingga kesabaran akan menjadi penawar ketegangan yang mungkin saja singgah.

Sikap saling terbuka dan jujur juga akan menumbuhkan kepercayaan antar pasangan. Hal ini penting, sebab ketulusan hati akan sampai pada hati. Getarannya akan berpendar ke jiwa sang anak. 

3. Bacalah Buku-buku Bertema Menjadi Orang Tua
Membaca buku-buku tentang menjadi orang tua sangat penting. Sebab, menjadi orang tua merupakan kesempatan belajar di kampus yang mahasiswanya adalah diri kita sendiri. Dosennya adalah pribadi kita sendiri. Kurikulumnya adalah diskusi pasangan cinta yang terikat pada simpul keluarga. Apapun kondisinya, anak adalah anugerah yang mulia. Ia ibarat buku yang menyimpan banyak rahasia yang Tuhan titipkan. 

Jadi, memahami anak adalah seni membaca segala misterinya. Agar orang tua mudah menginsafi amanah anak, perkuatlah dengan banyak bacaan yang mengulas tentang bagaimana menjadi orang tua idola. Lebih seru lagi antara ayah dan ibu mau sama-sama membaca dan bertukar pengetahuan bacaan tersebut, betapa mengurus anak adalah keasyikan yang akan meretas rahasia hikmah di dalamnya. 

4. Hadir dalam Keutuhan
Saat membersamai anak, kadang kala kita tak bisa mengelak dari hal-hal eksternal di luar kita yang membajak pikiran. Waktu bermain dengan anak kerap berlaku formalitas. Kita tak hadir sepenuhnya bersama anak. Keberadaan kita seolah selingan saja, sebab kepala kita justru menyetel layar kehidupan dalam imaji. Hal seperti ini akan menghalangi pertautan hati antara anak dan orang tua.

Kehadiran bersama anak merupakan cara agar kita menemukan jati diri anak di kedalaman batinnya. Mempelajarinya tak bisa dilakukan hanya dengan kehadiran yang selintas sambil lalu. 

Anak berkebutuhan khusu sering kali harus berupaya keras menyampaikan maksud hati yang ingin diungkapkan. Keterbatasan menjadi kendala yang perlu disikapi dengan sabar dan tenang. Kehadiran yang utuh itulah kuncinya. Anak spesial mengetahui bahwa orang tuanya mau mendengar sampai tuntas. Upaya kerasnya bukanlah pekerjaan sia-sia. Rasa percaya yang tumbuh dalam diri sang buah hati akan dengan sendirinya melatih kecakapannya dalam bercerita dan menyampaikan maksud hatinya. 

5. Apresiasi Setiap Kemajuan yang Ditampilkan
Jangankan anak-anak, orang dewasa pun bahagia ketika laku baik yang dilakukannya mendapatkan apresiasi dan rasa hormat. Apresiasi yang tidak berlebihan akan membuahkan keberlanjutan sikap baik pada anak-anak.

Apresiasi itu harus diberikan secara proporsional dan fokus pada fakta yang ditampilkan. Hindari bias pujian yang sebenarnya keliru. Bukannya memuliakan sang anak dalam pandangan kemanusiaan, bisa-bisa justru melihat anak sebagai objek benda. 

Misalnya saja, pada waktu anak mengulas senyum yang tulus. Biasanya, kita memujinya dengan berkata, "Anak mama, senyumnya manis sekali." Jelas-jelas kita memperlakukannya sebagai benda, sesuatu yang manis.

Akan tampak berbeda saat kita mengapresiasinya dengan ungkapan, "Terima kasih sudah tersenyum, Nak. Mama turut berbahagia." Dengan demikian kita menunjukkan posisi yang sama dengan anak-anak, bahwa setiap orang berhak bahagia dan bisa saling membahagiakan. 

Hindari pula pujian dan apresiasi yang tertuju pada kesempurnaan fisik. Misalnya, si kecil yang telah bekerja keras latihan jalan, tiba-tiba mempertunjukkan langkah pertamanya.

Umumnya kita berucap, "Hebat, anak gantengnya mama sudah bisa jalan."

Mari lihat perbedaan nuansanya jikan kita mengatakan, "Terima kasih sayang, dengan langkah pertama ini, insya Allah memudahkan langkah-langkahmu selanjutnya."

Demikianlah, lima sikap yang tampak mudah ini yang sebenarnya perlu latihan yang terus-menerus. Mudah memahaminya namun perlu sabar dan kejernihan pikir untuk mempraktikkannya.

Semoga kita adalah orang tua yang mau dan mampu memuliakan anak dalam kondisi yang Tuhan kehendaki. Setiap anak berbeda, peluklah dengan cinta. Selamat memetik makna.


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo