Bahasa dan ungkapan, atau frasa memiliki pengaruh besar dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Namun kebanyakan orang tidak menyadarinya.
Seseorang bisa saja berpikiran tajam, cermat, dan mampu berbicara dengan baik. Akan tetapi beberapa kalimat yang umum digunakan justru bisa membuat mereka terdengar kurang percaya diri atau kurang cerdas, tanpa mereka sadari.
Kita mungkin salah satunya.Saat masih dalam proses mencari jati diri di dunia kerja khususnya, kita tidak menyadari betapa kalimat-kalimat tertetu justru dapat menjadi penghambat.
Kabar baiknya, setelah menyadari kebiasaan tersebut, untuk menggantinya sebenarnya cukup mudah. Begitu kita mulai melakukannya, orang-orang biasanya akan mulai lebih serius mendengarkan kita.
Dikutip dari laman Ggeediting.com berikut 8 kalimat yang secara halus melemahkan diri sendiri yang perlu diubah.
1.“Saya mungkin salah, tapi…”
Kalimat ini adalah pembunuh rasa percaya diri. Kedengarannya sopan, tetapi secara psikologis memberi sinyal bahwa kamu sendiri meragukan pendapatmu bahkan sebelum menyampaikannya. Kamu seperti meruntuhkan argumenmu sendiri dalam lima detik pertama.
Tentu saja, kamu tidak harus berpura-pura selalu benar.
Namun, kamu bisa menyampaikan ketidakpastian tanpa melemahkan pendapatmu. Misalnya dengan mengatakan, “Begini cara saya melihatnya,” atau “Berdasarkan data yang ada…” Kalimat-kalimat ini tetap membuka ruang diskusi, tetapi menunjukkan keyakinan.
Idemya sama, yang berbeda hanyalah cara penyampaiannya.
2.“Ini mungkin pertanyaan bodoh, tapi…”
Setiap kali mendengar kalimat ini, saya justru berpikir orang tersebut lebih pintar dari yang ia kira. Orang cerdas bertanya untuk memperjelas, karena mereka ingin benar-benar memahami. Namun, dengan menyebut pertanyaannya “bodoh”, kamu membuat orang lain meremehkannya sebelum mendengar isinya.
Pertanyaan yang baik menunjukkan rasa ingin tahu dan kesadaran. Tidak ada yang tidak cerdas dari hal itu. Bahkan sering kali, “pertanyaan bodoh” adalah pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan semua orang, tetapi tidak berani.
Berhentilah merendahkan diri sendiri. Cukup katakan, “Saya punya pertanyaan,” lalu ajukan pertanyaan itu.
3. “Sejujurnya…”
Kalimat yang diawali atau mengandung 'sejujurnya' ini menimbulkan implikasi yang canggung. Jika kamu perlu menegaskan bahwa sekarang kamu jujur, apakah itu berarti sebelumnya tidak?
Kita mungkin mengucapkan kalimat ini tanpa berpikir. Hanya sebagai pengisi. Namun, kalimat ini bisa membuat ketulusan terdengar tidak konsisten.
Jika ingin menekankan ketulusan, kamu bisa mengatakan, “Yang sebenarnya saya maksud adalah…” atau “Inilah yang saya lihat sebagai kebenaran.” Kalimat ini lebih jelas dan tidak menimbulkan makna sebaliknya.
4. “Masuk akal, kan?”
Kalimat ini agak rumit, karena terdengar tidak berbahaya dan sering muncul dari keinginan tulus untuk dipahami. Namun, ia bisa membuatmu terdengar ragu terhadap kejelasan penjelasanmu sendiri, seolah berkata, “Saya tidak yakin penjelasan saya tadi jelas.”
Alternatif yang lebih baik adalah, “Bagaimana menurutmu?” atau “Apa pendapatmu soal ini?” Kalimat ini membuka percakapan tanpa melemahkan kemampuan komunikasimu.
5. “Maaf, tapi…”
Meminta maaf padahal kamu tidak melakukan kesalahan adalah cara tercepat untuk terdengar kurang percaya diri.
Banyak orang, terutama di lingkungan profesional, menggunakan kata “maaf” sebagai pembuka percakapan. Masalahnya, terlalu sering meminta maaf membuatmu terlihat tidak yakin dengan keberadaanmu di ruang tersebut.
Jika kamu benar-benar mengganggu atau melakukan kesalahan, tentu saja minta maaf. Namun, jika kamu hendak menyampaikan pendapat atau bertanya, hilangkan kata “maaf”. Cobalah dengan, “Ada satu pertanyaan singkat,” atau “Ada satu hal yang ingin saya sampaikan.”
Percaya diri tidak membutuhkan permintaan maaf.
6. “Saya tidak terlalu pandai soal ini, tapi…”
Kalimat ini kembali melemahkan kepercayaan dirimu bahkan sebelum kamu memberi kesempatan pada dirimu sendiri.
Kamu mungkin ingin terdengar rendah hati, tetapi yang terjadi justru orang lain berhenti memperhatikan keahlianmu.
Penulis asli artikel ini, Olivia Reid menceritakan saat berusia dua puluhan dan bekerja di bidang keuangan, dia sering melakukan ini.
Olivia Reid mengatakan, “Saya tidak terlalu jago berbicara di depan umum,” tepat sebelum presentasi yang sudah saya siapkan berhari-hari. Jika dipikir ulang, itu murni sabotase diri sendiri.
Kamu tidak perlu membesar-besarkan diri. Cukup jangan melemahkan suara sendiri. Jika ingin menunjukkan bahwa kamu masih belajar, katakan saja, “Saya masih mengembangkan kemampuan di bidang ini, tapi ini yang saya temukan.”
Kalimat itu menunjukkan perkembangan tanpa merendahkan diri.
7. “Terserah, tidak penting.”
Kalimat ini biasanya muncul saat seseorang merasa diabaikan, kewalahan, atau ragu. Masalahnya, kalimat ini membuatmu terdengar tidak peduli atau menarik diri secara emosional. Ia juga mematikan percakapan karena memberi sinyal bahwa pendapatmu tidak bernilai.
Orang yang cerdas secara sosial menghindari kalimat seperti ini karena mereka paham bahwa itu menciptakan jarak dengan orang lain.
Jika sesuatu memang penting bagimu, kamu berhak mengatakannya. Kamu bisa berkata, “Saya punya pandangan berbeda,” atau “Saya perlu memikirkan ini sebentar.”
Pendapatmu itu penting. Jika kamu meremehkannya, orang lain akan melakukan hal yang sama.
8. “Kamu mungkin sudah tahu ini, tapi…”
Kalimat ini dimaksudkan untuk melunakkan penyampaian informasi, tetapi justru membuatmu terdengar ragu atau tidak yakin dengan peranmu. Kamu seakan berkata, “Apa yang akan saya sampaikan mungkin tidak berguna,” padahal bisa saja sangat bermanfaat.
Cara yang lebih sederhana adalah langsung menyampaikan informasinya. Jika lawan bicara sudah tahu, tidak masalah. Jika belum, kamu memberi nilai tambah. Dalam kedua kondisi itu, kamu tidak perlu mendahuluinya dengan keraguan.
Orang yang percaya diri secara sosial tidak meminta maaf karena berkontribusi. Mereka yakin bahwa suara mereka punya bobot.
Editor:


