Dalam pembicaraan di sekitar kita mungkin sering terdengar ada orang yagn merasa cemas menjelang naik pesawat. Kebanyakan orang menganggapnya rasa cemas itu sebagai reaksi wajar terhadap turbulensi atau ketinggian.
Namun, psikologi menunjukkan bahwa kecemasan ini biasanya tidak muncul begitu saja saat seseorang dewasa.
Banyak orang yang gelisah sebelum terbang ternyata membawa jejak pengalaman masa kecil yang membentuk cara tubuh mereka merespons situasi tak terduga. Mulai dari tumbuh di lingkungan yang tidak stabil hingga memiliki orang tua yang cemas, berbagai pengalaman awal itu dapat melekat dalam sistem saraf dan muncul kembali setiap kali menghadapi ketidakpastian di udara.
Dikutip dari laman Geediting.com, berikut 7 pengalaman masa kecil yang sering dimiliki para penumpang yang cemas, serta bagaimana memahami akar emosional tersebut dapat membantu menciptakan pengalaman terbang yang lebih tenang.
1. Tumbuh bersama orang dewasa yang tidak dapat diprediksi
Beberapa orang dibesarkan dalam rumah yang suasananya bisa berubah tanpa peringatan. Hari ini tenang, besok penuh ketegangan tanpa sebab yang jelas.
Anak-anak belajar membaca tanda bahaya dalam lingkungan seperti ini. Mereka mengamati bahasa tubuh, mengantisipasi masalah sebelum terjadi.
Terbang menghadirkan ketidakpastian serupa. Anda tidak bisa memprediksi turbulensi, penundaan, atau bagaimana kru akan menangani situasi.
Jika Anda terbiasa menghadapi perubahan mendadak sejak kecil, sistem saraf Anda mungkin tetap waspada saat menghadapi kondisi tak terduga. Mungkin kecemasan Anda saat terbang berasal dari pola kewaspadaan masa kecil yang sama.
2. Dibesarkan untuk menghindari apa pun yang dianggap berbahaya
Ada keluarga yang terus-menerus menanamkan pesan bahwa dunia itu berbahaya. “Hati-hati.” “Jangan coba itu.” “Tetap dekat.” “Nanti terjadi apa-apa.”
Jika kehati-hatian adalah irama dasar masa kecil Anda, pikiran Anda mungkin tumbuh dengan pola bahwa hal yang asing = hal yang berisiko.
Terbang berada tepat di kategori itu: asing, tidak bisa diprediksi, dan Anda bukan pengendalinya.
Meskipun Anda tahu bahwa pesawat aman, tubuh Anda bisa bereaksi seolah menghadapi ancaman, reaksi yang dipelajari puluhan tahun lalu.
Kadang yang paling membantu adalah bertanya, “Ketakutan ini sebenarnya milik siapa?” Sering kali jawabannya: bukan milik Anda, melainkan warisan dari seseorang di masa lalu.
3. Tumbuh dalam lingkungan yang Anda tidak punya banyak kendali
Banyak orang cemas saat terbang pernah hidup dalam kondisi masa kecil yang penuh keterbatasan kontrol. Mungkin semua keputusan diambilkan. Mungkin suasana rumah menuntut Anda terus menyesuaikan diri. Mungkin Anda belajar sejak dini bahwa diam lebih aman daripada mengungkapkan kebutuhan.
Orang yang tumbuh dengan sedikit kontrol sering bereaksi lebih kuat ketika dewasa harus menyerahkan kontrol sepenuhnya. Dan terbang adalah salah satu pengalaman paling penuh penyerahan kontrol: Anda duduk, mengencangkan sabuk, dan mempercayai prosesnya.
Jika Anda gelisah saat terbang, mungkin sebagian berasal dari memori lama tentang tidak bisa mengendalikan keadaan sekitar.
4. Memiliki orang tua yang sangat cemas
Anak-anak menyerap pola emosional orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua Anda menghadapi ketidakpastian dengan cemas, kemungkinan Anda menirunya.
Walaupun ketakutan mereka bukan tentang terbang, Anda tetap mempelajari “template kecemasan”, bahwa hal asing berarti ancaman.
Kabar baiknya: pola ini bisa dipatahkan. Begitu Anda menyadarinya, Anda mulai bisa memilih respons baru. Kesadaran memberi ruang bernapas.
5. Pernah mengalami atau menyaksikan keadaan darurat medis saat kecil
Ini sering mengejutkan. Banyak orang dewasa yang cemas di pesawat rupanya pernah mengalami atau menyaksikan situasi darurat medis ketika kecil.
Meski semuanya akhirnya baik-baik saja, tubuh menyimpan memori tentang rasa terjebak dan rentan, momen yang tidak bisa dihindari. Pesawat dapat memicu memori itu: ruang sempit, pilihan terbatas. Bahkan ketika segalanya normal, tubuh dapat bereaksi seolah kembali ke situasi lama itu.
Mindfulness membantu memisahkan memori lama dari realitas kini. Menamai perasaan membuat sistem saraf lebih tenang.
6. Menanggung terlalu banyak tanggung jawab saat kecil
Beberapa anak tumbuh sebagai “penjaga stabilitas” keluarga: menenangkan orang lain, mengantisipasi masalah, menjadi perekat emosi rumah.
Jika Anda pernah menjadi anak seperti ini, Anda mungkin merasa tidak nyaman saat naik pesawat karena Anda tidak bisa memainkan peran itu. Anda tidak bisa membuat penerbangan lebih mulus, tidak bisa mengurangi stres penumpang lain, tidak bisa mengendalikan situasi.
Identitas lama itu seakan menghilang, dan itu bisa terasa aneh.
Kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa dunia tetap berputar meski kita tidak memegang kendali atas segalanya. Penerbangan menjadi lebih mudah ketika saya mengizinkan diri menjadi penumpang, bukan pengatur keadaan.
7. Ketakutan Anda dulu tidak divalidasi
Banyak orang cemas saat terbang pernah tumbuh mendengar komentar seperti “Jangan lebay,” “Berhenti berlebihan,” atau “Ah, itu tidak apa-apa” ketika mereka takut.
Ketika rasa takut selalu dianggap berlebihan, anak belajar bahwa takut adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Sebagai orang dewasa, ketika kecemasan muncul di pesawat, mereka tidak hanya merasa takut. Mereka merasa salah karena takut. Lapisan kedua inilah yang memperkuat reaksi emosional.
Validasi diri dapat meruntuhkan pola lama itu. Mengatakan “Perasaan ini wajar” membuat tubuh lebih mudah rileks dibanding mengkritik diri sendiri. Anda tidak lemah karena takut karena Anda manusia.
Penutup
Rasa cemas sebelum terbang bukan tanda ada yang salah dengan Anda. Biasanya itu berarti tubuh Anda belajar bertahun-tahun lalu untuk tetap waspada saat menghadapi ketidakpastian.
Pola-pola lama bisa dilunakkan. Teknik grounding, kesadaran lembut, dan sedikit belas kasih pada diri versi kecil Anda sangat membantu. Lain kali Anda merasakan ketegangan sebelum lepas landas, coba tanyakan: memori apa yang sedang bangkit?
Kadang satu momen pengenalan sudah cukup untuk menciptakan pengalaman terbang yang lebih tenang dan stabil.
Editor: Kendi Setiawan


