Anak-Anak Gaza pun Kehilangan Kata-kata

Anak-Anak Gaza pun Kehilangan Kata-kata

Tenda itu tidaklah luas. Namun cukup untuk menampung belasan anak yang datang ke sana dengan diantar kecemasan sang ibu. Hingga usia yang semestinya anak mereka fasih berbicara, nyatanya perbendaraan kata mereka teramat minim.  “Kebanyakan dari mereka gagap,” kata Amina Al-Dahdouh, seorang terapis bicara. “Jumlah mereka yang gagap pun kian hari, terus meningkat.”

Dengan beralas terpal seadanya, Amina dengan tekun dan stok kesabaran yang berlebih menerima anak-anak itu. Seperti yang terlihat dalam video yang diproduksi UniFeed, akhir September silam, dia menuntun anak-anak itu secara bergantian. Dia meminta mereka menirukan kata-kata yang keluar dari mulut.  

Di sisi tenda yang lain, seorang perempuan yang juga mengenakan hijab serba hitam melakukan hal yang sama. Dengan bantuan cermin, keduanya memberikan pelatihan pada anak-anak di kamp pengungsian itu.  Secara bergiliran, masing-masing anak itu diminta melihat pergerakan mulut di cermin. Berulang-ulang sampai Amina mendapatkan ucapan si anak yang sesuai dengan dia minta.

Kesibukan Amina tidak hanya di tenda sederhana di kamp darurat Al-Zawaida itu saja. Di lain hari, dia pun terlihat di kamp pengungsian lainnya di Deir al-Balah, Gaza Utara. Tugasnya sama saja. Dia berada di antara anak-anak yang malang itu: menuntun mereka menemukan kembali kata-kata yang hilang. "Saya menyediakan layanan di sini tiga hari seminggu, dan saya akan menyediakan tiga hari lagi untuk anak-anak di kamp lain,” ujarnya.

Jauh sebelum bom Israel berjatuhan di Gaza, Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF) telah mengidentifikasi Jalur Gaza sebagai lokasi paling berbahaya bagi anak-anak di seluruh dunia. Bersama kaum perempuan, anak-anak menjadi korban. Atau mencapai 70 persen dari korban bom dan peluru Israel.

Serangan Israel sejak 7 Oktober tahun lalu makin memperburuk kawasan ini. Akibatnya, sejak lahir, anak-anak di sana menjalani hidup yang menyedihkan. Kehilangan orang tua, kakak-adik, sulit mendapatkan kebutuhan pokok, dan harus hidup berpindah sebagai pengungsi, menjadi keseharian mereka. Penutupan sekolah juga menyebabkan mereka juga mengalami masalah dalam kesehatan mental dan psikososial.

Menurut Jonathan Crickx dari Unicef, hingga Februari 2024 terdapat sekitar satu juta anak di Gaza yang memerlukan dukungan kesehatan mental dan psikososial. Angka ini dua kali lipat bila dibandingkan sebelum serangan Israel ke Gaza.  

Fatima, anak dari Amal Awad seorang ibu di Gaza, menjadi salah satu yang mengalami gangguan seperti yang diungkap Crickx. Gangguan yang kemudian membuatnya menjadi anak yang pemurung.  Dia lebih banyak memilih diam. Akibatnya, dia kesulitan untuk berbicara. “Dia tidak bisa lagi  berbicara dengan baik karena perang dan ketakutan," katanya.

Kondisinya makin buruk setelah bom tentara Israel datang bak hujan deras. “Dia berhenti berbicara sama sekali karena sangat takut. Dia menjadi pendiam hampir sepanjang waktu. Ketika saya mencoba berbicara lebih banyak dengannya, saya melihat bahwa dia mengucapkan huruf dengan tidak benar," jelasnya.

Fatima bukan satu-satunya anak yang memilih menutup mulut dan kehilangan kata-kata. Saat serangan Israel berdatangan dengan bom yang meletus di sana-sini, anak-anak di Gaza pun mengalami trauma. Akibatnya semakin banyak orang, terutama anak-anak kecil, merasa sulit untuk mengekspresikan diri mereka. Banyak dari anak-anak itu mengalami sulit bicara.

Keluhan ibu dari mereka pun sampai ke telinga Amina. Dari perbincangan dengan seorang ibu yang khawatir dengan perkembangan anaknya, hati Amina pun tergerak. Dengan kemampuannya sebagai terapis, dia kemudian membantu mereka mendapatkan kembali kepercayaan diri dalam berbicara.

Amina pun menemukan fakta yang tidak menyenangkan. Ternyata jumlah mereka yang mengalami kesulitan bicara amat banyak. Amina memperkirakan bahwa enam dari sepuluh anak di kamp tersebut saat ini menderita kesulitan bicara."Saat ini, saya merawat lebih dari 50 anak dengan masalah bicara di kamp ini,” katanya.

Sebab utama dari kegagapan mereka tak lain adalah ketakutan dan kecemasan yang disebabkan serangan Israel yang tak berkesudahan. Selain itu, sebab lainnya karena orang tua cenderung tidak fokus pada perawatan anak-anaknya. Termasuk dalam masalah bicara.

Keadaan yang sulit, mereka – para orang tua itu harus berfokus untuk menyelamatkan diri dengan berpindah ke tempat-tempat yang aman. Juga berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan berupa makan atau persediaan air.

Walhasil jangan menceritakan dongeng pada anak-anaknya saat menjelang tidur, hubungan dengan anak-anaknya pun kian sulit. Mereka tak lagi memiliki kesempatan untuk saling bicara.  

Gaza beruntung memiliki orang-orang seperti Amina Al-Dahdouh, yang tak pernah letih dalam menuntun anak-anak itu menemukan kembali kemampuannya berbicara.  Dalam keterbatasan juga dengan ancaman keselamatan yang bisa saja datang tanpa terduga, jerih payah Amina dan rekan-rekannya beroleh hasil yang baik. Perlahan anak-anak itu  mau membuka mulutnya dan mengeja kata-kata.  

Amal Awad, bercerita Fatima – gadis kecil yang terbata-bata dalam berbicara, kini mulai lancar dalam berbicara. Itu terjadi setelah dia mendapatkan pelatihan dari Amina. Cerita baik ini tidak hanya milik Fatima tapi juga anak-anak lainnya.  “Bahkan orang-orang yang tinggal di tenda-tenda di sekitar kami mengalami peningkatan perubahan yang baik dalam bicaranya,” kata Amal.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor:
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo