Ramadan telah lama berlalu. Namun setiap hari mereka yang ada di rumah sakit itu memilih untuk berpuasa. Dengan berpuasa, orang-orang di sana memohon kepada Tuhan agar meringankan beban mereka.
Selain itu, berpuasa merupakan ikhtiar mereka menjaga persediaan kurma dan air – yang tersisa di sana. “Kami berpuasa sepanjang hari dan berbuka puasa dengan secangkir kecil air dan kurma,” kata Ezzeddin Lulu. “Juga untuk memperpanjang persediaan air dan kurma yang terbatas selama mungkin.”
Ezz – panggilan Ezzedin, 22 tahun, adalah seorang mahasiswa kedokteran yang terpaksa terhenti kuliah akibat serangan Israel yang membabi buta, sejak 7 Oktober, atau sebulan sebelumnya. Atas restu orang tua, meski mereka khawatir dengan keselamatannya, beberapa hari kemudian dia pun menjadi relawan di Rumah Sakit al-Shifa.
Di sana, dalam daftar darurat namanya tertera sebagai dokter. Sebuah pengalaman yang tentu saja menantang. “Saat itulah orang-orang sangat membutuhkan saya, tetapi saya tidak menyadari betapa sulitnya itu,” kata Ezz pada Al Jazeerah, akhir Agustus lalu. “Namun, saya bangga bisa membantu mereka.”
Saat itu, Al Shifa yang merupakan fasilitas medis terbesar di Gaza sesak. Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi yang mencari perlindungan setelah rumah mereka rata dengan tanah akibat dihajar bom Israel. Selebihnya, mereka yang ada di sana adalah pegawai, perawat, dan dokter.
Namun sebentar saja mereka mendapatkan tempat yang aman. Tak lama kemudian, keadaan memburuk. Memasuki bulan November tank-tank Israel mengepung al-Shifa. Tentara Israel memerintahkan semua orang untuk pergi .
Di bawah ancaman itu, para pengungsi dan petugas medis termasuk dokter terpaksa pergi. “Beberapa pasien tidak bisa keluar. Bersama beberapa dokter, saya memutuskan untuk tinggal,” kata Ezz.
Bencana pun datang. Pada 10 November, tank-tank Israel menutup rumah sakit tersebut. Jaringan komunikasi terputus dan Ezz kehilangan kontak dengan keluarganya.
Pengepungan al-Shifa berlangsung selama 10 hari membuat penderitaan yang luar biasa. Listrik padam, pasokan oksigen habis, dan bahan bakar terus menipis. Walhasil keadaan di sana menjadi gelap gulita. “Saya melihat delapan pasien yang menggunakan perangkat oksigen meninggal, mereka tidak tertolong,” kata Ezz sedih.
***
Serangan Israel menghancurkan segalanya. Sebelum bom berhamburan di tanah kelahirannya, berbagai ruas jalan di Gaza adalah surga baginya. Selepas kuliah, dia sering menghabiskan waktu sambil duduk-duduk. Di sana mengamati orang-orang di sekitarnya. Pensil dan buku gambar adalah properti yang tidak pernah ditinggalkan.
Tangannya pun beraksi. Dia menggoreskan pena di atas kertas putih itu, membuat sketsa siapa saja yang ditemuinya. Setelah itu, sketsa itu pun diberikan pada orang yang dia gambar. “Saya fokus pada mereka yang membutuhkan senyuman untuk meringankan beban hidup,” kata Ezz.
Upayanya beroleh hasil. Mereka membalasnya dengan sebuah kegembiraan yang tampak di wajahnya. Seorang wanita tua yang menjual mainan berseru padanya, sambil tersenyum lebar. “Oh, Habibi! Semoga Tuhan melindungimu dan mengabulkan semua yang kau inginkan.”
Doa itu terkabul. Ezz bersyukur. Saat dibombardir tentara Israel, semua penghuni rumah, ayah-ibu, kakak dan istri serta anaknya, selamat. Menyusul serangan pertama pada 7 Oktober 2023, keesokan harinya bom pun datang ke Tal al-Hawa, Remal, tempat Ezz dan keluarganya tinggal.
Dalam dua kali serangan pada hari itu, kawasan yang merupakan pusat budaya dan ekonomi Gaza hancur lebur. "Tempat saya tinggal selama 22 tahun -saat-saat paling bahagia dalam hidup saya, hilang dalam sekejap mata," katanya. "Saya tidak bisa membawa apa pun kecuali ponsel dan beberapa dokumen."
Namun itu tak berlangsung lama. Beberapa pekan kemudian, dia kehilangan semuanya. Seorang rekannya, seorang dokter menyampaikan kabar duka. “Keluarga Anda menjadi sasaran bom. Mereka kini berada di bawah reruntuhan,” ujar Ezz menceritakan kembali peristiwa saat itu.
Seketika hatinya hancur. Satu yang membuat semangat hidupnya tetap menyala tentang ibunya yang selamat. “Dia masih hidup,” katanya.
Ezz pun menerjang semua bahaya. Termasuk tentara Israel yang ketika itu memaksa semua orang di al-Shifa untuk pergi. Ezz mencari ibunya yang kemudian ditemukan di Rumah Sakit Baptis.
"Awalnya, saya tidak mengenalinya; dia terjebak di bawah reruntuhan selama sekitar 45 menit. Kami berpelukan erat dengan air mata mengalir di wajah kami," katanya.
***
Seperti penduduk Gaza lainnya, hidup Ezz tak lagi sempurna. Hanya ada ibu – yang setelah menjalani perawatan selama dua bulan kembali pulih. Ezz yang kemudian bergabung di Rumah Sakit Al Ahli – karena Al-Shifa ditutup Israel, membantu operasi dan bekerja sama dengan dokter. Pengalaman dan pengetahuannya menghadapi beragam pasien, tentu bertambah
Menjalani hari-hari di rumah sakit, Ezz selalu terkenang dengan sosok ayah – yang disebutnya sebagai penyokong utama karirnya. "Ayah selalu bermimpi melihatku lulus dari sekolah kedokteran, mengenakan jubah, dan diambil sumpah," kenang Ezz.
Tentu saja Ezz sedih. Mimpi ayahnya itu tidak terlaksana. Namun kegagalan itu kemudian membuatnya mengambil langkah sesuai dengan keinginan sang ayah. Pada Juni lalu, dia mendirikan Yayasan Samir, yang diambil dari nama sang ayah, untuk memberikan pelatihan, lokakarya, dan dukungan finansial kepada mahasiswa kedokteran di Gaza utara.
Di laman resminya, samirfoundation.org, yayasan ini didirikan sebagai upaya meneruskan keinginan dari Samir Lulu, yang meninggal dunia secara tragis pada November 2023 di bawah reruntuhan rumahnya. Yayasan ini berkomitmen untuk membangun kembali sistem perawatan kesehatan Gaza yang hancur.
Setelah dihajar beragam bom memang tak ada lagi kampus ilmu kedokteran yang bertahan di sana. Dengan yayasan ini, mereka yang kehilangan bangku kuliah masih bisa melanjutkan pendidikannya – melalui berbagai program.
Respons yang baik pun didapatkan. Penggalangan dana yang dilakukan berhasil mendapatkan perhatian dari individu dan organisasi di luar negeri. “Seperti ayah, yang ingin melihat saya lulus, saya ingin membantu mahasiswa lain meraih mimpi mereka,” kata Ezz.
Beberapa dokter yang telah memberikan pelatihan untuk yayasan tersebut adalah Naeem dari Rumah Sakit al-Ahli, dan Hani Al-Qadi serta Osama Hamed dari delegasi medis Yordania.“Meskipun Ezz harus menghadapi kehilangan, dia tetap tangguh,” Tasnim, 21 tahun, seorang penerima manfaat yayasan.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


