Mengenal Sayidah Saudah binti Zam’ah. Istri Nabi setelah Sayidah Khadijah Wafat

Mengenal Sayidah Saudah binti Zam’ah. Istri Nabi setelah Sayidah Khadijah Wafat

Arina.id - Sayidah Saudah binti Zam'ah adalah salah satu istri Nabi Muhammad yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam, terutama pasca wafatnya Sayidah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi yang sangat dicintai. Pernikahan dengan Sayidah Saudah menunjukkan kebijaksanaan Nabi dalam menjaga stabilitas keluarga dan membangun hubungan yang harmonis di tengah misi dakwah Islam.

Sayidah Saudah berasal dari suku Quraisy, yaitu Bani Amir bin Luay. Beliau adalah putri Zam’ah bin Qais dan Shamus binti Qais. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad, Sayidah Saudah pernah menikah dengan Sakran bin Amr, seorang sahabat Nabi yang turut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama Sayidah Saudah demi melarikan diri dari tekanan kaum Quraisy. Sayangnya, Sakran wafat tidak lama setelah kembali ke Makkah.

Sejarawan Muslim Muhammad Ibnu Ishaq dalam kitab Sirah Ibnu Ishaq (Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M), j. I, h. 225 menyebutkan bahwa Sakran bin Amr merupakan bagian dari komunitas Muslimin yang hijrah ke Habasyah dari klan bani Amir bin Luay. Sakran dan Sayidah Saudah sendiri masih tercatat sebagai saudara sepupu.

Pernikahan dengan Nabi Muhammad

Ibnu Ishaq juga menyebutkan bahwa setelah wafatnya Sayidah Khadijah, Nabi Muhammad merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Peristiwa tersebut terjadi 3 tahun sebelum peristiwa hijrahnya Nabi ke Madinah.

Tahun meninggalnya Sayidah Khadijah dikenal dengan nama ‘ammul khuzn atau “Tahun Kesedihan” mengingat pada tahun tersebut meninggal juga pamanda Nabi, yakni Abu Thalib. Itu berarti, dua tokoh penting yang senantiasa mendukung dakwah Nabi meninggal secara hampir bersamaan.

Selepas itu, kehidupan keluarga Nabi membutuhkan kehadiran seorang perempuan yang bisa membantu mengurus rumah tangga dan anak-anak Nabi, terutama Fatimah az-Zahra yang saat itu masih muda. Dalam situasi ini, Khawlah binti Hakim, seorang sahabat wanita, menyarankan Nabi untuk menikahi Sayidah Saudah binti Zam'ah.

Sebagai tambahan informasi, sejak menikah dengan Sayidah Khadijah pada usia 25 tahun, Nabi menjalani kehidupan monogami, yakni tidak mengambil madu atau tidak menikah dengan istri yang lain.

Pernikahan Nabi dengan Sayidah Saudah tidak hanya berdasarkan pertimbangan emosional atau kebutuhan domestik, tetapi juga atas dasar penghormatan dan kebaikan hati Saudah. Beliau adalah seorang wanita yang dikenal beriman kuat, setia, dan memiliki sifat keibuan yang lembut. Pernikahan ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian, beberapa bulan setelah wafatnya Khadijah.

Saat menikah dengan Sayidah Saudah, Nabi berusia 50 tahun, sementara Sayidah Saudah sendiri telah berumur 55 tahun dan memiliki 5 orang anak.

Peran Sayidah Saudah dalam Rumah Tangga Nabi

Sayidah Saudah dikenal sebagai sosok yang humoris dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Beliau menjaga rumah tangga Nabi dengan penuh dedikasi dan menjadi penghibur di saat-saat sulit. Salah satu sifat unik Saudah adalah rasa humor yang sering kali membuat Nabi tersenyum, meskipun berada dalam tekanan dakwah yang berat.

Sayidah Saudah juga menjadi alasan turunnya ayat 59 Surat Al-Ahzab. Dikisahkan bahwa pada suatu malam, beliau tergesa keluar rumah tanpa memakai penutup kepala untuk menunaikan hajatnya. Sahabat Umar melihat hal tersebut dan merasa tidak suka hingga mengajukan keberatan kepada Nabi. Lantas turunlah ayat:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Selain itu, Sayidah Saudah memiliki keutamaan dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau termasuk orang yang turut hijrah ke Madinah bersama Nabi dan umat Islam lainnya. Kehadirannya di rumah tangga Nabi menunjukkan bagaimana Islam menghargai perempuan, terlepas dari usia atau status sosialnya.

Sayidah Saudah adalah contoh seorang wanita yang dermawan dan penuh keikhlasan. Beliau sering kali mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Dalam suatu riwayat, ketika usianya sudah uzur, Sayidah Saudah memberikan giliran malamnya bersama Nabi kepada Sayidah Aisyah demi menjaga kerukunan di antara para istri Nabi. Tindakan ini menunjukkan kebesaran hati Saudah dan pengorbanannya demi kebaikan bersama.

Wafatnya Sayidah Saudah

Sayidah Saudah binti Zam’ah wafat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Meskipun tanggal pasti wafatnya tidak tercatat dengan jelas, para sejarawan sepakat bahwa beliau meninggalkan teladan luar biasa dalam kehidupan rumah tangga dan ketaatan kepada agama.

Terdapat sebuah riwayat ketika para istri Nabi bertanya tentang siapakah diantara istri Nabi yang akan segera menyusul ketika kelak Nabi wafat. Nabi menjawab bahwa yang tangannya paling panjang. Para istri Nabi kemudian saling mengukur tangan mereka. Sayidah Saudah lah yang tangannya paling panjang. Benar saja, beliau menjadi istri Nabi yang pertama menyusul wafat. 

Dari beragam kisah ini bisa kita pahami bahwa Sayidah Saudah binti Zam’ah adalah sosok wanita yang mulia dan memiliki peran penting dalam mendampingi Nabi Muhammad pasca wafatnya Sayidah Khadijah. Dengan keimanan yang teguh, sifat humoris, dan pengorbanan yang tulus, Saudah memberikan pelajaran berharga tentang cinta, pengabdian, dan kerukunan dalam kehidupan rumah tangga. Beliau adalah teladan abadi bagi kaum Muslimah di seluruh dunia. Wallahu a’lam bish shawab


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo