Kisah Layla Majnun (3): Kurasakan Hadirnya saat di Makkah

Kisah Layla Majnun (3): Kurasakan Hadirnya saat di Makkah

Arina.id - Syair-syair Qays bin al-Mulawwah atau yang dikenal dengan nama Majnun Layla banyak dikutip oleh para sastrawan dan pakar bahasa Arab, khususnya dalam mencontohkan kaidah sintaksis gramatikal Arab. Syair-syair ini tergolong muncul di era awal kebangkitan bahasa Arab dengan munculnya kaidah sistematis yang disebut dengan ilmu Nahwu.

Salah satu syair Qays yang dijadikan contoh dalam ilmu sintaksis bahasa Arab adalah ketika menerangkan tentang kaidah hal yang boleh lebih dari satu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Hisyam al-Anshari (w. 761 H) berikut:

عَليّ ‌إِذا ‌مَا ‌زرت ‌ليلى ‌بخفية … زِيَارَة بَيت الله رجلَانِ حافيا

Artinya: "Wajib bagiku pergi berhaji dengan berjalan kali dan tanpa alas kaki, jika aku bisa mengunjungi Layla dengan senyap." (Mughni al-Labib an Kutubil A’arib, [Damaskus: Darul Fikr 1985], hal. 601).

Syair kutipan Ibnu Hisyam tersebut menyinggung terkait niatan kuat Qays untuk beribadah haji. Syair itu tercatat oleh Abdus Sattar Ahmad Faraj (w. 1980 M) dalam Diwanu Majnuni Layla [Mesir: Maktabah Mishr, hal. 237] namun dengan redaksi yang berbeda dengan makna yang sama sebagai berikut:

عَلَيَّ لَإِنْ لَاقَيْتُ لَيْلَى بِخَلْوَةٍ ... زِيَارَةُ بَيْتِ اللهِ رَجْلَانَ حَافِياً

Wajib bagiku pergi berhaji dengan berjalan kali dan tanpa alas kaki, jika aku bisa menemui Layla dengan sepi

Dikisahkan oleh Abul Faraj al-Isfahani (w. 356 H) dalam Kitabu Al-Aghani [Beirut: Dar Shadir, 2008, vol. 2, hal. 34.] bahwa Qays diajak berhaji oleh ayahnya supaya dia berdoa kepada Allah agar diampuni segala dosanya di area Wukuf. Dia berangkat dan sepupunya, Ziyad bin Ka’ab bin Muzahim.

Di perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang berdoa di atas semak belukar. Lantas Qays berhenti dan menangis. Kemudian Ziyad bertanya “Apa ini? Apa yang membuatmu menangis? Mari berjalan menyusul rombongan”. Kemudian Qays melantunkan syair berikut:

أَإِن هَتَفَت يَوماً بِوادٍ حَمامَةٌ ... بَكَيتَ وَلَم يَعذِركَ بِالجَهلِ عاذِرُ

Apakah ketika burung merpati suatu saat menjerit menangis di dalam jurang, dan tidak ada orang yang menyalahkanmu dan menuduhmu dengan kebodohan

دَعَت ساقَ حُرٍّ بَعدَما عَلَتِ الضُحى ... فَهاجٍ لَكَ الأَحزانَ أَن ناحَ طائِرُ

Suaranya habis setelah muncul waktu dhuha, maka penyesalanmu akan bergejolak atas burung yang telah menjerit.

تُغَنّي الضُحى وَالصُبحَ في مُرجَحِنَّةٍ ... كِثافِ الأَعالي تَحتَها الماءُ حائِرُ

Dia bernyanyi saat di pagi hari di atas pohon yang rindang, dan banyak rantingnya, dan di bawahnya terdapat air yang meluap.

كَأَن لَم يَكُن بِالغَيلِ أَو بَطنِ أَيكَةٍ ... أَوِ الجِزعُ مَن تَولِ الأَشاءَةِ حاضِرُ

Seakan-akan (dia) tidak pernah berada di lembah al-Ghayl atau di dasar hutan lebat, atau di tepi sungai saat waktu petang hadir.

يَقولُ زِيادٌ إِذ رَأى الحَيَّ هَجَّروا ... أَرى الحَيَّ قَد ساروا فَهَل أَنتَ سائِرُ

Ziyad berkata “mereka berada dikejauhan, aku melihat orang-orang telah melewati mereka, apakah kamu akan menyusulnya”

وَإِنّي وَإِن غالَ التَقادُمُ حاجَتي ... مُلِمٌّ عَلى أَوطانِ لَيلى فَناظِرُ

Dan sesungguhnya aku -meskipun kebutuhanku telah tiba waktunya- selalu bingung dengan kehidupan Layla dan selalu membahasnya.

Dikisahkan oleh Abu Bakar al-Wabili dalam Diwanu Qays bin al-Mulawwah Majnuni Layla, [Tahqiq: Yusri Abdul Ghani, Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1999, hal. 85] bahwa Naufal bin Musahiq, salah satu pejabat Imperium Umawiyah era itu bertemu dengan Qays yang sedang dalam keadaan kehilangan kesadaran.

Naufal bertanya kepada orang di sekitarnya, bagaimana dia bisa berinteraksi dengan Qays. Mereka menjawab, cukup sebut nama Layla, maka dia akan normal kembali. Maka Naufal memanggil Qays dan mengatakan bahwa Layla menitipkan salam untuknya.

Qays tersadar dan bisa berinteraksi dengan Naufal seperti pria normal lainnya. Qays menangis dan menggarukkan jarinya di tanah dan melantunkan syair panjang, salah satu baitnya adalah tentang keinginannya berhaji bersama Layla. Berikut penggalan syairnya:

عَسَى اِنْ حَجَجْنَا وَاعْتَمَرْنَا وَحُرِّمَتْ ... زِيَارَةُ لَيْلَى اَنْ يَكُوْنَ لَنَا الاَجْرُ

Semoga jika haji dan umrahku telah terlaksana, dan aku dilarang untuk mengunjungi Layla, aku akan mendapatkan pahalaku.

Dikisahkan oleh Abdus Sattar [hal. 75] bahwa Qays dan rombongan hajinya sampai di kota Makkah dan menginap sejenak, dia berbicara sendiri seperti orang yang mengigau ketika tidur. Dia mencela wanita yang sedang ada di situ, dia ditanya mengenai apa yang dia lakukan, dia bersumpah bahwa Layla berada di sampingnya ketika itu. 

Kemudian dia melantunkan syair berikut:

طَرَقَتكَ بَينَ مُسَبِّحٍ وَمُكَبِّرٍ ... بِحَطيمِ مَكَّةَ حَيثُ كانَ الأَبطَحُ

Dia telah mengetuk pintu di waktu orang sedang bertasbih dan bertakbir kepada Allah, di tembok Ka’bah dan bukit kecil kota Makkah Mukarramah.

فَحَسِبتَ مَكَّةَ وَالمَشاعِرَ كُلَّها ... وَجِبالَها باتَت بِمِسكٍ تَنفَحُ

Aku mengira kota Makkah, dan isinya, serta gunung-gunungnya tertidur dan menyemburkan wangi misik.

Yusuf Farahat dalam Diwan Majnun Layla [Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2008, hal. 217-218] mencatat syair yang menceritakan kondisi berhaji Qays yang selalu mengingat nama Layla. Berikut syairnya:

لَقَد طُفتُ سَبعاً قُلتُ لَمّا قَضَيتُها ... أَلا لَيتَ هَذا لا عَلَيَّ وَلا لِيا

Aku telah bertawaf selama 7 kali, aku berkata aku belum menyelesaikannya (selesai dari cintaku kepada Layla, doaku belum terkabul, dn kinginanku belum terwujud), seandainya saja ini ada tidak berbahaya dan tidak bermanfaat untukku.

يُسائِلُني صَحبي فَما أَعقَلُ الَّذي ... يَقولونَ مِن ذِكرٍ لِلَيلى اِعتَرانِيا

Teman-temanku bertanya apa yang menimpaku setelah menyebut nama Layla, sedangkan aku tidak mengerti apa yang mereka tanyakan.

إِذا جِئتَ بابَ الشِعبِ شِعبَ اِبنِ عامِرٍ ... فَأَقرِ غَزالَ الشِعبِ مِنّي سَلامِيا

Jika kamu sampai di gerbang wilayah Bani Amir, maka sampaikan salamku kepada bunga desanya.

وَقُل لِغَزالِ الشِعبِ هَل أَنتَ نازِلٌ ... بِشِعبِكَ أَم هَل يُصبِحِ القَلبُ ثاوِيا

Katakan kepada bunga desa itu, apakah kamu masih tinggal bersama kelompokmu atau apakah hati telah mati rasa.

لَقَد زادَني الحُجّاجُ شَوقاً إِلَيكُمُ ... وَقَد كُنتُ قَبلَ اليَومِ لِلحَجِّ قالِيا

Sungguh para jemaah haji telah menambahkan rasa rinduku kepada kalian, para kekasihku. Dan sungguh sebelum hari ini aku sangat membenci berhaji.

وَما نَظَرَت عَيني إِلى وَجهِ قادِمٍ ... مِنَ الحَجِّ إِلّا بَلَّ دَمعي رِدائِيا

Tidaklah kedua mataku ketika memandang wajah orang yang datang untuk berhaji kecuali meneteskan air mata, dan membasahi selendangku. 


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo