Mengintip Tradisi Lebaran di Pesantren Sarang Mbah Moen, Sowan Kiai di Malam Hari Raya

Mengintip Tradisi Lebaran di Pesantren Sarang Mbah Moen, Sowan Kiai di Malam Hari Raya

Arina.id - Ketika masih menjadi santri Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang Jawa Tengah, penulis pernah tiga kali tidak pulang kampung ketika tanggal 1Syawal atau, tepatnya hari raya Idul Fitri. Momen itu terjadi pada tahun 2016, 2017, dan 2018.

Suasana Kecamatan Sarang di pertengahan bulan Ramadan sangat sunyi. Sehari-hari lebih banyak dipadati oleh santri dari berbagai pesantren dan yang paling banyak adalah dari Pesantren Al-Anwar yang diampu oleh Allah Yarham Syaikhuna Maimoen Zubair.

Namun, hal itu berbeda ketika 3 hari menjelang hari raya. Banyak masyarakat asli Sarang yang pulang kampung dari rantau dan para pemuda-pemudi yang mudik dari ekspedisi pendidikan mereka. Banyak juga para pelaut yang tidak berlayar di momentum hari raya.

Pada tahun 2016, penulis hanya sibuk menjaga kandang ayam milik salah satu menantu Mbah Moen, yakni KH. Aufal Marom. Lokasinya jauh dari pemukiman sehingga penulis tidak mengetahui bagaimana tradisi lebaran masyarakat Sarang. Penulis hanya keluar untuk sholat Ied dan sowan para masyayikh saja di pagi hari tanggal 1 Syawal.

Pada tahun selanjutnya, penulis memiliki waktu yang lebih fleksibel. Pada tahun itu, penulis sudah pindah tugas di bagian pesawahan yang lokasinya tidak jauh dari area pesantren. Penulis mendapati tradisi lebaran masyarakat Sarang yang terbilang unik, yaitu sowan para Kiai Sarang di malam hari raya atau malam takbiran.

Tradisi itu merupakan sebuah bentuk penjadwalan sowan kepada para masyayikh Sarang khsusnya kepada Mbah Moen yang waktu itu masih belum meninggal dunia. Malam takbiran dikhususkan kepada masyarakat sekitar, sedangkan pagi harinya setelah shalat Ied dikhususkan kepada para santri, baru setelah itu masyarakat umum dari berbagai daerah.

Perlu diketahui bahwa tamu-tamu yang berdatangan untuk sowan hari raya kepada para masyayikh Sarang bukan hanya masyarakat sekitar Kecamatan Sarang saja, akan tetapi dari wiayah Kabupaten Rembang dan beberapa kota sekitar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kunjungan sowan ini sudah dimulai dari sore hari tanggal satu Syawal. 

Sehingga untuk masyarakat Sarang dan para tetangga pesantren dikhususkan sowan di malam takbiran. Para dzuriyah Syaikhuna Maimoen juga saling sowan kepada saudaranya masing-masing di malam itu. Dzuriyah yang lebih muda sowan kepada yang lebih tua seperti Gus Wagub Jateng, KH. Taj Yasin kepada kakak-kakaknya.

Tidak dipungkiri bahwa dzuriyah Syaikhuna Maimoen juga mempunyai banyak tamu dari berbagai daerah yang berdatangan sejak hari pertama Idul Fitri. Oleh karena itu mereka menyempatkan sowan kepada saudara-saudaranya di malam takbiran.

Tradisi ini sebenarnya sah, dan tidak ada yang salah. Hanya tidak seperti yang biasa terlaku di beberapa daerah di Indonesia. Jika dikembalikan kepada awal waktu masuknya tanggal 1 Syawal adalah sejak terbenamnya matahari di penghujung bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, sebenarnya masyarakat Muslim sudah bisa melakukan tradisi minta maaf, halal bi halal, atau sungkeman dengan keluarga di malam takbiran. Hanya saja mereka lebih disibukkan dengan tradisi takbir keliling dan persiapan hari raya di paginya.

Masyarakat Sarang sendiri juga mempunyai tradisi takbir keliling sebagaimana masyarakat lainnya. Akan tetapi acara itu dilakukan setelah jam-jam sowan kepada para masyayikh, dan biasanya dimulai pada jam 20.30 hingga jam 22.00. 

Kebetulan jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) pada waktu itu sudah tidak begitu padat kendaraan, bahkan bisa dikatakan sepi. Situasi ini dimanfaatkan masyarakat untuk menggelar pawai takbir keliling dengan membawa truk tronton dan dihiasi beberapa hiasan khas lebaran. Tradisi ini dikawal aparat kepolisian setempat.

Tradisi masyarakat Sarang dalam melaksanakan shalat Ied juga terbilang unik. Tidak hanya di masjid, masyarakat juga banyak yang memfungsikan mushala sebagai tempat sholat, bahkan di pesantren dengan beberapa santri yang tidak pulang kampung.

Tradisi itu menurut pengamatan penulis karena faktor lahan tempat ibadah yang tidak bisa menampung banyak jamaah. Terlebih ketika sholat Ied dan shalat jumat yang terkenal harus memberhentikan jalur Pantura terlebih dahulu untuk sholat. 

Hal ini sangat berbeda dengan tradisi sholat Ied di daerah lain yang hanya dilakukan di masjid atau lapangan. Kecuali ketika era Covid-19, banyak umat Islam di Indonesia yang memfungsikan mushala sebagai tempat untuk melaksanakan sholat Ied dengan keluarga besar, dan beberapa tetangga sekitar.


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo