Arina.id — Dalam sejarah Islam, terdapat banyak kisah inspiratif dari para sahabat Rasulullah SAW yang menunjukkan keimanan dan ketakwaan luar biasa. Salah satu kisah yang penuh hikmah adalah kisah Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW tanpa melalui hisab atau perhitungan.
Nama lengkap Ukasyah ialah Ukasyah bin Mihshan al-Asadi. Ia adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal karena keberanian dan keteguhan imannya.
Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt), j. IV, h. 440 menyebutkan bahwa Ukasyah berasal dari suku Bani Ghanam yang menjadi sekutu Bani Abdu Syams (salah satu klan petinggi Quraisy) di Makkah. Ia masuk Islam di masa awal dakwah Rasulullah dan ikut bersama Nabi hijrah ke Madinah.
Ukasyah terlibat dalam perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H. ia juga pernah ditugaskan oleh Nabi untuk melakukan beberapa ekspedisi perang seperti diperintahkan untuk memimpin 40 orang sahabat Nabi ke wilayah Ghamar yang di dalamnya terdapat sumur air milik Bani Asad. Ekspedisi perang itu sendiri kemudian dikenal dengan nama ekspedisi Ghamar atau ekspedisi Ukasyah.
Pada tahun 12 H, saat masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ukasyah syahid dalam perang riddah, ia dibunuh oleh Thulaihah al-Asadi. Sang pembunuh sendiri beberapa waktu kemudian masuk Islam.
Dijamin Masuk Surga
Salah satu momen paling berkesan dalam hidup Ukasyah terjadi ketika Rasulullah SAW berbicara tentang orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal). Sebagaimana tertera dalam hadis yang dihimpun oleh Imam Bukhari no. 6542, sebuah riwayat dari Abu Hurairah menyebutkan:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ". وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ يَرْفَعُ نَمِرَةً عَلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ " اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ". ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ " سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ ".
Artinya:“Aku mendengar Rasululah SAW bersabda, ‘Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga (tanpa hisab). Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama.’ Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi kemudian berdiri, membuka kain penutup kepalanya, dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.’ Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka!’ Kemudian seorang laki-laki dari kaum Ansar berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.’ Maka Rasulullah menjawab, “Ukkasyah sudah mendahuluimu.”
Kisah ini menunjukkan kecepatan Ukasyah dalam meraih kesempatan kebaikan. Ia tidak menunda-nunda untuk meminta doa dari Rasulullah SAW dan mendapatkan jaminan masuk surga. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan peluang dalam melakukan kebaikan.
Hikmah dari Kisah Ukasyah: Bersegera dalam Kebaikan
Kisah Ukasyah mengajarkan pentingnya bersegera dalam melakukan kebaikan. Ketika ada peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah atau meraih keutamaan, kita harus cepat mengambilnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 133:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”
Permintaan sahabat lain kepada Rasulullah SAW setelah Ukasyah ditolak dengan alasan “Engkau telah didahului oleh Ukasyah.” Hal ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk melakukan kebaikan sering kali hanya datang sekali. Jika kita menunda, bisa jadi kesempatan itu tidak akan terulang.
Ukasyah termasuk dalam golongan istimewa yang masuk surga tanpa hisab. Ini menunjukkan bahwa ada amal-amal tertentu yang dapat membawa seseorang meraih keutamaan tersebut, seperti keimanan yang kokoh, kesabaran, dan ketulusan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan untuk berbuat kebaikan atau menundanya. Terkadang, godaan untuk menunda datang dari rasa malas atau anggapan bahwa kita masih memiliki banyak waktu.
Kebaikan yang dimaksud tidak terbatas pada amal ibadah seperti shalat atau sedekah, tetapi juga mencakup segala perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Bersegera dalam kebaikan berarti tidak menunda untuk membantu orang lain, belajar ilmu agama, memaafkan kesalahan, atau memperbaiki diri.
Kisah Ukasyah bin Mihshan Ra. menjadi pengingat yang sangat berharga tentang keutamaan iman dan urgensi bersegera dalam kebaikan. Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang tersisa di dunia ini, sehingga setiap peluang untuk berbuat baik harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk dalam hamba-hamba-Nya yang selalu bersegera menuju kebaikan dan meraih ridha-Nya di dunia dan akhirat. Aamiin.
Editor:


