Tarekat Syadziliyah dan Etos Kerja

Tarekat Syadziliyah dan Etos Kerja

Tarekat atau tasawuf seringkali diasosiasikan sebagai perihal dimensi esoterik (batiniah) semata dan cenderung tak begitu menghiraukan dimensi eksoterik (lahiriah). Hal ini, salah satunya, disebabkan lantaran tasawuf pada umumnya dianggap sebagai laku spiritual.

Bahkan ada yang menganggap tasawuf adalah biang kerok kemunduran pemikiran Islam lantaran hanya memikirkan dimensi-dimensi metafisik saja. Sebaliknya ada juga yang menganggap bahwa justru karena orang-orang sudah lama meninggalkan tradisi sufismelah, umat Islam mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran.

Itulah sebabnya, Seyyed Hossein Nasr dalam The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (2002), berargumen bahwa kehadiran tasawuf bukanlah menjadi penyebab perpecahan dalam umat Islam (tradisional). Sebaliknya, justru karena kehadiran tasawuf-lah yang menjadi pemicu integrasi dan kembalinya kesatuan batin untuk mencapai tujuan Islam.

Kalau direnungkan, anggapan bahwa tasawuf lebih menekankan aspek batiniah memang tak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Sebab dalam khazanah tasawuf, ada banyak sekali aliran dan tak semuanya menekankan pada aspek esoterik an-sich. Ada aliran tasawuf yang juga berupaya menyeimbangkan dimensi esoterik dan eksoterik yang dikenal dengan nama Tarekat Syadziliyah.

Tarekat Syadziliyah merujuk pada nama seorang sufi terkenal dari Maroko: Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili. Ia adalah sufi besar yang lahir pada tahun 593 hijriah. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abdullah bin Abd Al-Jabbar Abu Hasan asy-Syadzili. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat religius. Ayahnya bernama Abdulah bin Abdul Jabbar. Para ahli sejarah sepakat bahwa ia adalah keturunan dari Sayyidina Hasan, cucu Nabi Muhammad.

Banyak literatur menyebutkan bahwa Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili adalah seorang sufi yang punya banyak kelebihan. Salah satu di antaranya adalah ia bisa mengerti isi hati seseorang. Ada suatu riwayat dalam Kitab Jami’u Karamat al-Aulia (2001: 432) karya Yusuf an-Nabhani (w.1931 H) yang menceritakan tentang karamahnya ini. Kurang lebih begini riwayatnya.

Suatu ketika ada seorang yang menghadap kepada Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili dengan pakaian compang-camping. Di dalam hatinya orang itu membatin, “Bagaimana mungkin ia seorang sufi sedangkan pakaiannya bagus dan rapi?” gumam orang itu dalam hati ketika melihat Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili berpakaian bagus dan rapi. Tiba-tiba Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili menoleh kepada orang tersebut seraya berkata, “Kamu bukanlah seorang zuhud, sebab pakaian yang kamu kenakan ada unsur keduniawian. Kamu sengaja memakai pakaian lusuh dan kumal itu untuk menarik perhatian orang agar orang menyangkamu fakir dan waliyullah.” 

Sebaliknya, Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili memakai pakaian bagus dan rapi selain bentuk syukur atas nikmat-Nya juga agar orang-orang tidak menyebut dan menyangkanya sebagai sufi. Hal demikianlah yang menjadikan tarekat ini menarik dibanding beberapa tarekat lain pada era awal kemunculannya. 

Lebih dari itu, Tarekat Syadziliyah bisa dikategorikan masuk dalam Tasawuf Sunni. Tasawuf ini juga disebut sebagai akhlaki. Tasawuf Sunni banyak berkembang di dunia Islam, terutama di negara-negara yang dominan bermazhab Syafi’i. Tasawuf ini sering digandrungi orang karena paham atau ajaran-ajarannya yang tak terlalu rumit. Aliran ini juga memiliki tahap sistem pembinaan akhlak di antaranya sebagai berikut: takhalli, tahalli, taubat, cemas dan harap (khauf dan raja’), zuhud, al-faqr, al-sabru, ridha, muraqabah dan tajalli.

Makna Zuhud dalam Konteks Modern

Zuhud dalam terminologi klasik diartikan sebagai “ikhtiar untuk meninggalkan segala perihal duniawi.” Definisi “menyeramkan” inilah yang membuat masyarakat modern seolah merasa tidak cocok dengan dunia tarekat. Padahal zuhud dalam konteks modern tidak demikian. Zuhud tak harus meninggalkan seluruh aspek duniawi misalnya uzlah atau mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia dan memilih meninggalkan semua pekerjaannya.

Bagi Abu Hasan asy-Syadzili, zuhud bukan berarti harus meninggal itu semua. Sebab itu sama halnya dengan kufur nikmat. Menurutnya, orang zuhud tetap boleh mengenakan pakaian bagus, memakan makanan enak, dan menikmati perihal kebutuhan pokok manusia lainnya. Namun hal itu dilakukan dalam kadar yang sewajarnya atau secukupnya dan disertai dengan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya (Abdul Halim Mahmud, t.t). 

Maka tak aneh bila Tarekat Syadziliyah ini banyak digandrungi oleh masyarakat urban dan disebut juga sebagai “urban sufism” lantaran laku spiritualnya tidak kaku dan kontekstual dengan tipologi masyarakat perkotaan di zaman seperti sekarang. 

Berbeda dengan Weber yang menyandingkan etika agama dengan etos kerja dalam kerangka masyarakat kapitalis pada mazhab Calvinisme Protestan. Tarekat Syadziliyah tidak demikian. Tarekat ini tidak menyeru jamiah-nya untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa peduli untuk apa. Tarekat ini, meski menyeru untuk giat bekerja, tetap menekankan konsep syukur sebagai kendali nafsu dunia. 

Bertarekat sama halnya dengan meniti hidup yang dinamis, peka terhadap kehidupan sosial ,dan terbuka dengan perubahan zaman. Kendati demikian, konsep etika Weber juga hampir sama dengan Tarekat Syadziliyah terutama tentang bagaimana harus mendepankan prinsip-prinsip etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam hal bekerja.

Maka tak aneh bila Julia Day Howell & Martin van Bruinessen (2007) menyebut tarekat tak bisa dimaknai sebatas mistisisme. Sebab tarekat mencakup banyak aspek dalam kehidupan yang muaranya adalah peningkatan kesadaran tentang Yang Illahi. Terlebih, kesadaran yang tinggi seperti itu dapat membuka pemahaman yang jelas tentang apa yang disebut oleh Rudolph Otto sebagai numinous; the mysterium tremendum et fascinans; sebuah misteri yang membuat manusia mengalami gemetar sekaligus terpesona, ditolak sekaligus tertarik.

Saiful Mustofa, Direktur Diskursus Institute & Dosen di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung


$data['detail']->authorKontri->kontri

Saiful Mustofa
Direktur Diskursus Institute & Dosen di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo