Cara 'Wukuf' di Tanah Air menurut Prof Quraish Shihab

Cara 'Wukuf' di Tanah Air menurut Prof Quraish Shihab

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang menjadi impian setiap umat Islam di seluruh dunia. Namun nyatanya, tidak setiap umat Islam beruntung dan bisa mempunyai kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci.

Bagi Muslim yang belum bisa berangkat ke Tanah Suci karena belum mampu secara fisik dan finansial, tentu ada upaya lain yang bisa dilakukan, yaitu dengan menghadirkan Allah dalam benak hati yang terdalam. Hal ini sesuai dengan ungkapan sebuah pepatah: Jika Anda belum bisa bekunjung ke rumah kekasih, maka undanglah kekasih ke rumah Anda.

“Ketika itu Anda akan lebih berbahagia ketimbang yang berkunjung ke rumah kekasih tetapi ditolak, dianggap tidak menemui kekasih,” demikian disampaikan Prof Quraish Shihab dalam artikelnya yang berjudul Wukuf di Arafah, diakses Selasa (11/6/2024).

Dalam pandangan Quraish Shihab, inti dalam menunaikan ibadah haji adalah wukuf di Arafah, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Artinya: “Haji adalah Arafah” (HR An-Nasa’i).

Wuquf berarti "berhenti" sejenak di Padang Arafah setelah matahari tergelincir pada 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah. Menurut Prof Quraish, keberadaan sesaat di tempat ini memiliki nilai penting karena dapat menghasilkan atau mengakibatkan berbagai hal, jika diberkati atau dikehendaki oleh Allah.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa ada saat-saat dalam perjalanan ini Allah menganugerahkan banyak anugerah, maka umat Islam dianjurkan untuk berusaha menemukan saat-saat tersebut.

“Salah satu saat itu adalah saat wukuf di Arafah,” jelas penulis Tafsir Al-Misbah itu.

Suasana wukuf di Arafah

Prof Quraish menegaskan, wukuf di Arafah tetap sah walaupun sejenak dan jika waktu sejenak tersebut dimanfaatkan dengan baik, maka sudah cukup untuk mengubah hidup seseorang menjadi jauh lebih baik.

Di tempat wukuf, jelas Prof Quraish, Allah menyiapkan suasana kondusif yang dapat mengantar pikiran dan jiwa seseorang lebih terarah pada pencapaian kesempurnaan makhluk dwi dimensi, yaitu makhluk Allah yang diciptakan dari debu tanah dan Ruh Ilahi, tapi bukan untuk menetap di dunia, melainkan membangunnya guna mengekalkan di akhirat.

Saat wukuf di Arafah, terlihat jutaan manusia dari berbagai latar belakang suku, bangsa, kedudukan sosial dan sebagainya. Kondisi ini dapat menyadarkan jamaah haji tentang Padang Mahsyar yang akan dilalui pada hari kiamat nanti.

Tidak hanya itu, tubuh jamaah haji pria yang hanya dibalut dua helai kain ihram mengingatkan pada kain kafan yang akan membungkus tubuh saat meninggal dunia. Lantunan kalimat talbiyah yang menggema mengantarkan seseorang lebih mengenal diri dan dosa-dosa yang telah dilakukan serta menyadari kehadiran Allah dalam lubuk hatinya.

Wukuf di Tanah Air

Prof Quraish Shihab menyarankan kepada umat Islam yang belum bisa berhaji agar bisa mencoba “berwukuf” di Tanah Air. Caranya adalah dengan menghentikan sejenak segala aktivitas dan hiruk-pikuk kesibukan duniawi.

“Tenangkan jiwa, merenunglah. Insya Allah ketika itu Anda akan mendengar suara yang mengantar Anda merasakan kehadiran Allah dan dorongan untuk berinteraksi dengan-Nya,” terangya.

Jika saat “berwukuf” ini merasakan hati yang gelap karena dosa-dosa yang dilakukan, maka tidak perlu khawatir. Sebaliknya, bersikaplah optimis dan yakinlah bahwa dalam kegelapan itu pasti ada cahaya. Seperti halnya malam, seseorang tidak akan menyadari malam jika tidak menyadari tentang siang.

“Pada saat itu berusahalah menemukan cahaya itu serta menemukan apa yang didambakan oleh jiwa, karena tidak ada gunanya menemukan cahaya tanpa menemukan apa yang dicari,” jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) itu.

Menurut Prof Quraish Shihab, interaksi dengan Allah ini akan menjadi pembuka hati dan kebahagiaan hidup sehingga seseorang akan selalu merasa ramai walau sendirian, berani walau tanpa kawan, dan kaya walau hampa tangan.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki jalinan hubungan ini akan selalu merasa berkekurangan walau hartanya berlimpah, akan selalu khawatir walau dijaga pengaman, dan jiwanya selalu gersang walau berada dalam keramaian.

Cara “Wukuf” ini juga mestinya diamalkan oleh jamaah haji di Tanah Suci, karena dengan cara ini seseorang akan merasakan “pertemuan” dengan-Nya. Tanpa “bertemu” dan “menemukan cahaya itu”, maka substansi wukuf pada hakikatnya belum diraih. Wallahu a‘lam.


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo