Rabiul Awal dan Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah

Rabiul Awal dan Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah

Pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama umat Islam terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Momen ini menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan peradaban Islam karena menandai awal dari sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang khalifah yang bertugas menjaga agama dan menjalankan hukum-hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.

Setelah Rasulullah wafat, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar. Tidak hanya kehilangan pemimpin spiritual dan politik, mereka juga harus segera memutuskan siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan umat. Pada saat itu, umat Islam masih dalam fase awal berkembang, sehingga diperlukan seorang pemimpin yang kuat dan dipercaya oleh seluruh umat untuk menjaga stabilitas dan keberlangsungan dakwah Islam.

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah

Rasulullah SAW wafat pada hari dan tanggal yang sama persis dengan kelahiran beliau yakni di hari Senin, 12 Rabiul Awal. Beliau wafat setelah sebelumnya mengalami sakit demam. Sakit yang dialami Rasulullah ini merupakan satu-satunya sakit yang pernah beliau alami dan umat mengenalnya sebagai sakit yang mengiringi kematian.

Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan bahwa tepat sesudah Rasulullah wafat, Sahabat Umar bin Khattab RA yang masih tenggelam dalam kesedihannya berdiri dan berbicara bahwa Rasulullah tidak meninggal, dan kelak Allah akan membangkitkannya.

Sahabat Abu Bakar mendengar ucapan Sahabat Umar dan kemudian menimpalinya dengan sebuah pidato yang menegaskan bahwa Rasulullah benar-benar wafat. Beliau berkata:

أَمَّا بَعْدُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ الله فَإِنَّ الله حَيٌّ لاَ يَمُوتُ قَالَ الهُ’ تَعَالَى وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ إِلَى الشَّاكِرِينَ

Artinya: ”Amma ba’du. Barang siapa menyembah Muhammad SAW, sungguh Muhammad SAW telah meninggal. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sungguh Allah Maha Hidup, tidak mati,” (kemudian beliau membaca QS. Ali Imran:144) ‘Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul’… sampai kalimat ‘orang-orang yang bersyukur’.”

Pidato tersebut terbukti efektif untuk menenangkan keadaan pada saat itu. Kaum Muslimin kemudian menjadi paham bahwa Rasulullah benar-benar wafat, dan itu adalah musibah besar yang sedang menimpa mereka. 

Kebimbangan Pasca Wafatnya Rasulullah

Sebelum Nabi Muhammad wafat, beliau tidak menyampaikan pesan apapun terkait dengan suksesi kepemimpinan setelah beliau. Hal ini tak urung membuat umat menjadi bingung hendak menjadikan siapa sebagai pemimpin mereka. Meskipun demikian, sudah banyak isyarat yang Nabi berikan terkait perihal suksesi ini, dan semuanya mengarah kepada satu sosok, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Diantara isyarat yang Nabi berikan ialah saat beliau sedang sakit, beliau menunjuk Abu Bakar sebagai pengganti beliau menjadi imam sholat berjamaah. Selain itu, terdapat juga sebuah hadits yang mengisyaratkan pesan suksesi ini. Salah satunya ialah riwayat Sayyidah Aisyah:

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه: ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل: أنا أولى، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر، فقالت: أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك؟ قال: إن لم تجديني فأتي أبا بكر 

Artinya: “Rasulullah SAW. berkata kepadaku ketika beliau sakit, ‘Panggillah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata, ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah. Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi SAW mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Perempuan itu bertanya, ‘Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berpendapat bahwasanya hadits ini merupakan redaksi yang cukup kuat tentang pengangkatan atau penunjukan Abu Bakar sebagai pengganti kepemimpinan pasca meninggalnya Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa di Tsaqifah Bani Sa’adah

Pada hari kedua pasca wafatnya Rasulullah, banyak para Sahabat dari kelompok Anshar yang berkumpul di balai musyawarah milik keluarga Sa’adah (Tsaqifah Bani Sa’adah). Sebagian besar kelompok Anshar menginginkan bahwa yang menjadi pengganti kepemimpinan sesudah wafatnya Nabi ialah perwakilan dari kelompok mereka, yakni Sa’ad bin Ubadah.

Abu bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah dan beberapa sahabat Muhajirin kemudian menyusul hadir dalam musyawarah tersebut. Abu Bakar kemudian dipersilahkan berpidato dan mengemukakan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa kepemimpinan hendaknya diberikan kepada suku Quraisy:

اَلنَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هٰذَا الشَّأْنِ. مُسْلِمُهُمْ تَبَعٌ لِمُسْلِمِهِمْ. وَكَافِرُهُمْ تَبَعٌ لِكَافِرِهِمْ

Artinya: “Manusia itu dalam urusan ini menjadi pengikut kaum Quraisy. Orang Muslim dari mereka mengikuti muslim Quraisy, demikian pula orang Kafir mereka mengikuti orang yang kafir dari kaum Quraisy.” (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Bakar kemudian melanjutkan pidatonya dengan mengusulkan agar Umar bin Khattab atau Abu Ubaidillah bin Jarrah yang diangkat sebagai khalifah. Para peserta musyawarah tidak merespon usulan tersebut. Mereka malah lebih mencondongkan pilihan kepada Abu Bakar karena terkesan dengan pidato yang baru saja beliau sampaikan.

Kemudian, terdapat suara dari dari seorang tokoh Anshar yang mengusulkan dualisme kepemimpinan. Muhajirin silahkan dipimpin oleh salah satu tokoh Muhajirin, dan Anshar silahkan dipimpin oleh salah satu tokoh Anshar:

“Wahai kaum Muhajirin, sungguh ketika Rasulullah SAW mempekerjakan seorang laki-laki dari kalian, ia juga menyertakan seorang dari kami. Maka untuk persoalan ini ada baiknya ditunjuk dua orang dari kami dan kalian”, ucap salah seorang sahabat Anshar.

Mendengar pernyataan ini, Zaid bin Tsabit yang termasuk bagian dari kelompok Anshar memberikan tanggapan:

“Apakah kalian tahu, bahwa Rasulullah SAW itu dari kaum Muhajirin dan maka penggantinya pun dari Muhajirin. Kita adalah Ansharu Rasulillah (pembela utusan Allah) maka biarlah kita menjadi Ansharu Khalifatihi (pembela khalifahnya), sama seperti kita membelanya,” ucap Zaid bin Tsabit

Ia kemudian menggandeng tangan Abu Bakar dan berkata: “Ini adalah sahabat kalian”. Abu Bakar kemudian dibaiat oleh Umar, Abu Ubaidillah, dan orang-orang lainnya dari seluruh kaum Muhajirin dan Anshar. (As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa, [Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2011], h. 62).

Pada hari berikutnya, yakni hari ketiga sesudah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar kemudian dibai’at secara terbuka di Masjid. Berarti, peristiwa tersebut bertepatan dengan tanggal 15 Rabiul Awal. Wallahu a’lam bis shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo