Kisah Izzuddin Bin Abdissalam, Raja Ulama yang Lambat Belajar

Kisah Izzuddin Bin Abdissalam, Raja Ulama yang Lambat Belajar

Arina.id - Nama Izzuddin Bin Abdissalam tentu tidak asing bagi para pengkaji keislaman, terlebih bagi kalangan santri yang akrab dengan kitab-kitab fan fiqih. Beliau adalah seorang ulama besar yang dikenal luas berkat kontribusinya dalam bidang fiqih dan ilmu agama. Salah satu gagasannya yang terus relevan hingga kini adalah teori Maqasid As-Syariah (tujuan-tujuan syariat), yang belakangan sering menjadi rujukan para sarjana hukum Islam.

Dalam kitab Thabaqah Syafiyyah Li Ibn Al Qadhi Syuhbah juz 2 halaman 110, Imam Izzuddin Bin Abdissalam mempunyai nama lengkap Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi al-Qasim bin al-Hasan, lahir pada tahun 577 atau 578 H di Damaskus. Ia kemudian menetap di Mesir dan wafat di sana pada bulan Jumadil Ula tahun 660 Hijriah. Pemakaman jenazahnya dihadiri oleh banyak orang, mulai dari sultan hingga rakyat biasa. Beliau dimakamkan di kawasan Qarafah. 

Syekh Izzuddin dikenal sangat cakap dalam berbagai bidang ilmu, termasuk tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, dan kesustraan Arab. Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu agama, hingga dikatakan bahwa beliau mencapai tingkatan ijtihad. Banyak pelajar yang datang dari berbagai daerah untuk belajar kepadanya. Beliau juga menulis berbagai karya ilmiah yang bermanfaat.  

Karya monumental beliau, Qawaid al-Ahkam fi Masalihil Anam, dinilai sebagai salah satu karya awal dalam kajian ilmu maqasid as-syariah. Dalam kitab ini, beliau menjelaskan bagaimana hukum-hukum Islam dirancang untuk menjaga kemaslahatan umat manusia.

Al Maraghi memasukkan ulama yang bergelar Sulthanul Ulama (raja para ulama) ini dalam entri ulama Ushul Fiqih (ushuliyyun). Bahkan Syaikh Jamaluddin Bin Hajib menyebutkan bahwa sebenarnya Izzuddin Bin Abdissalam lebih alim fiqih daripada Imam Al Ghazali.

وَعَن الشَّيْخ جمال الدّين ابْن الْحَاجِب أَنه قَالَ ابْن عبد السَّلَام أفقه من الْغَزالِيّ

Arinya: "Syekh Jamaluddin Ibn al-Hajib berkata bahwa Ibn Abdissalam lebih ahli fiqih daripada Imam al-Ghazali."

Gelar Sultanul Ulama yang disandang oleh Imam Izzuddin bin Abdissalam, merupakan pemberian dari salah seorang muridnya yang terkenal, yaitu Ibn Daqiq al-‘Id. Ibn Daqiq al-‘Id adalah salah satu dari sekian banyak murid Imam Izzuddin, beliau adalah yang paling populer dalam dunia studi Islam.

رَوَى عَنْهُ تَلامِذَتُهُ شَيْخُ الإِسْلَامِ ابْنُ دَقِيقِ الْعِيدِ وَهُوَ الَّذِي لَقَّبَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ سُلْطَانَ الْعُلَمَاءِ.

Artinya: "Syekh al-Islam Ibn Daqiq al-‘Id, merupakan orang yang memberikan gelar Sultânul Ulama (Sultan para ulama) kepada Syekh Izzuddin."

Namun di balik kesuksesannya dalam bidang keilmuan, ternyata beliau mulanya adalah seorang yang tergolong lambat dalam proses mencari ilmu. Syekh Izzuddin baru belajar di usianya yang tak lagi muda.

سَمِعت الشَّيْخ الإِمَام يَقُول كَانَ الشَّيْخ عز الدّين فِي أول أمره فَقِيرا جدا وَلم يشْتَغل إِلَّا على كبر

Artinya: "Syekh izzuddin bin Abdissalam mulanya adalah seorang yang sangat fakir, dan ia baru bisa belajar ilmu saat sudah dewasa.”

Meskipun beliau mulai belajar di usia yang lebih tua dan dalam keadaan yang sangat miskin, semangat Syekh Izzuddin bin Abdissalam untuk menuntut ilmu tidak pernah padam. Bahkan dalam kondisi yang serba kekurangan, beliau tetap gigih mengejar ilmu.

Keuletan Syeikh Izzuddin pun akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Kesuksesan beliau dalam menguasai berbagai disiplin ilmu seperti fiqih, tafsir, hadis, dan lainnya, membuktikan bahwa usaha yang sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati hasil.

Beliau menunjukkan bahwa umur atau kondisi bukanlah halangan untuk terus berkembang dan belajar. Sikap beliau menjadi teladan bagi kita semua, bahwa dengan tekad yang kuat dan niat yang tulus, kita bisa meraih ilmu meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Man jadda wajada. Wallahu a'lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo