Masyarakat tidak akan asing mendengar nama Pinokio. Agaknya banyak orang mendengar nama tersebut ketika masa anak-anak. Nama itu merujuk pada sosok yang punya ciri khas: hidungnya akan memanjang secara otomatis setiap kali ia berbohong, sebaliknya, hidungnya akan kembali normal jika ia berkata jujur atau menunjukkan penyesalan.
Pinokio menjadi salah satu tokoh dongeng yang banyak diadaptasi menjadi berbagai versi, dari novel, serial TV, film, drama radio hingga pementasan teater. Alih wahana paling terkenal adalah edisi animasi karya Disney yang dirilis tahun 1940. Edisi itu dinilai hangat dan menyentuh.
Pada tahun 2022, Guillermo del Toro membawa adaptasi terbaru dari boneka kayu ini dengan gaya klasik dan nuansa lebih gelap, dilengkapi latar Perang Dunia I yang membawa penyesalan juga duka mendalam–memenuhi keseluruhan cerita.
Pinocchio karya Guillermo del Toro mengisahkan tentang Geppetto (David Bradley) dan anaknya, Carlo (Gregory Mann) hidup bahagia di sebuah desa kecil di Italia. Namun Carlo tutup usia ketika sebuah bom jatuh di gereja. Meninggalnya Carlo membuat Geppetto kehilangan semangat dan menjadi alkoholik.
Saat mabuk, ia memotong pohon pinus yang ditinggali oleh jangkrik bernama Sebastian (Ewan McGregor) menjadi sebuah boneka kayu. Tanpa direncanakan, Peri Kayu memasukkan nyawa pada boneka tersebut dan memberikan nama Pinokio. Boneka itu pun hidup layaknya seperti anak-anak.
Keunikan Pinokio sebagai boneka hidup mendapat perhatian dari pemilik sirkus yang kebetulan lewat. Count Volpe (Christoph Waltz) mengajak Pinokio untuk ikut serta dalam sirkus miliknya. Petualangan dan konflik memuncak saat Pinokio dipisahkan dari ayahnya.
Pinokio tak hanya sekadar cerita dongeng yang ditujukkan untuk hiburan. Lebih dari itu, karakter dengan hidung unik ini sering digunakan untuk mendorong anak-anak berkata jujur. Kebohongan dalam film Pinokio dikenai ganjaran langsung. Berbohong sama dengan melakukan perbuatan jahat, mengecewakan dan menimbulkan konflik lebih besar.
Upaya untuk mengajak masyarakat menjadi jujur ternyata tidak hanya bisa dijumpai lewat film. bell hooks, cendekiawan asal Amerika Serikat turut menulis tentang pentingnya kejujuran dalam bukunya bertajuk All about Love (Bentang, 2025). Ia meyakini akar dari budaya konsumerisme dan kekosongan yang banyak diderita manusia adalah karena kebohongan: “Ketika seseorang selalu berbohong, dia tidak punya kesadaran bahwa bicara jujur bisa menghilangkan beban berat ini. Untuk mengetahui ini, dia harus melepaskan kebohongan.”
Budaya konsumerisme secara terus-menerus mendorong kebohongan. Iklan menjadi satu media budaya yang paling banyak menyetujui kebohongan. Dengan berbagai strategi para pemodal membuat seseorang tetap dalam situasi kekurangan dan terus-menerus menginginkan sesuatu. Ketiadaan cinta adalah anugerah bagi konsumerisme. Dan, kebohongan memperkuat dunia periklanan yang siap menerkam mangsanya.
Bell hooks tidak hanya menyoroti dari sisi industri kapitalis yang berkembang tetapi juga pola asuh pada anak-anak yang melanggengkan kebohongan di masyarakat. Menurutnya, anak yang terluka di dalam tubuh lelaki dewasa adalah bocah yang ketika berbicara kebenaran untuk pertama kali, dibungkam begitu saja oleh figur lelaki berkuasa dalam hidupnya, dipaksa diam oleh dunia patriarki yang tidak ingin dia mengklaim perasaan yang sebenarnya.
Sementara anak yang terluka di dalam tubuh perempuan dewasa adalah seorang gadis yang diajari dari awal masa kecilnya bahwa dia harus menjadi seseorang yang berbeda dari dirinya sendiri, menyangkal perasaan jujurnya, agar bisa memikat dan menyenangkan orang lain.
Ketika laki-laki dan perempuan saling menghukum karena menyampaikan kebenaran, masyarakat sedang menguatkan gagasan bahwa kebohongan adalah pilihan yang lebih baik. Padahal, untuk mencintai dibutuhkan kesediaan untuk mendengarkan kebenaran satu sama lain, dan paling penting, menguatkan nilai kejujuran. Kebohongan mungkin membuat seseorang merasa lebih baik (sesaat), tetapi tidak membantu dalam mengenal cinta.
Inti kejujuran adalah bicara jujur, melihat diri sendiri dan dunia apa adanya, bukan apa yang kita inginkan. Beberapa tahun terakhir, bell hooks menuliskan para sosiolog dan psikolog telah mendokumentasikan fakta bahwa kita tinggal di negara yang warganya makin sering berbohong dari hari ke hari. Dan jika digali lebih dalam efek kebohongan tidak hanya menjauhkan manusia dari cinta tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan otak.
Efek di balik kebohongan
Studi terkenal dari University of Notre Dame oleh Dr. Anita Kelly memantau 110 orang selama 10 minggu dan menemukan hasil bahwa mengurangi kebohongan meningkatkan kesehatan, dan sebaliknya.
Peserta yang sengaja mengurangi kebohongan (baik kebohongan besar maupun "kebohongan kecil") melaporkan jauh lebih sedikit keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, dan ketegangan otot. Berbohong memicu pelepasan hormon stres (kortisol) yang jika terjadi terus-menerus dapat menurunkan jumlah leukosit (sel darah putih), sehingga melemahkan sistem imun dalam melawan penyakit. Ketidakjujuran juga terbukti meningkatkan gairah fisiologis, termasuk lonjakan tekanan darah dan detak jantung.
Penelitian neurosains menggunakan pemindaian MRI menunjukkan perbedaan aktivitas otak saat seseorang berbohong: beban kognitif tinggi. Otak bekerja jauh lebih keras saat berbohong dibandingkan saat jujur karena harus menekan kebenaran, menyusun cerita palsu, dan menjaga konsistensi cerita tersebut agar tidak ketahuan.
Penelitian dari University College London juga menguatkan bahwa amigdala (pusat emosi) bereaksi kuat saat pertama kali seseorang berbohong (muncul rasa bersalah). Namun, semakin sering seseorang berbohong, reaksi amigdala semakin menurun, membuat orang tersebut semakin mudah untuk melakukan kebohongan yang lebih besar tanpa merasa bersalah.
Pada akhirnya, integritas bukan tentang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan sebuah keberanian untuk tetap berpijak pada kebenaran, sekecil apa pun. Kebohongan mungkin menawarkan jalan pintas untuk keluar dari situasi sulit, namun biaya "pemeliharaannya" jauh lebih mahal daripada kejujuran. Setiap cerita yang dikarang membawa efek domino yang perlahan mengikis kesehatan, kedamaian diri sendiri, dan kepercayaan orang lain.
Editor:


