Tahun pertama tinggal di Solo, saya bersama seorang teman pergi ke Candi Sukuh dan Cetho, bangunan bersejarah yang ada di Karanganyar. Di sela perjalanan, teman saya mengajak untuk mengunjungi hamparan tanaman teh yang disebut sebagai Kemuning. Pada saat itu, mata saya melihat hamparan hijau, buruh pemetik teh, dan beberapa pengunjung bersuka ria swafoto.
Saya berupaya mengingat cerita apa yang saya miliki soal teh. Sepanjang ingatan yang saya gali, teh adalah minuman perekat hubungan. Setiap mengunjungi kerabat atau teman, teh kerap menjadi media bagi pemilik rumah untuk beramah-tamah. Teh juga sering menjadi latar sinetron atau film picisan. Penikmat televisi lazim menjumpai perkebunan teh sebagai tempat pertemuan sepasang kekasih atau orang kaya yang mendadak jatuh miskin lalu pulang ke kampung halaman. Terakhir, teh ikut menyuburkan lahan bisnis dengan keuntungan yang menjanjikan, baik skala rumah maupun perusahaan.
Setelah membaca novel Babad Kemuning (2025) gubahan Yuditeha, teh dalam hidup saya punya lebih banyak cerita. Teh bukan sekadar media beramah-tamah. Teh tak hanya latar untuk sinetron. Teh lebih dari komoditas. Tanaman itu mengandung cerita soal kolonialisme, feodalisme, hak anak-anak, isu perempuan, seksualitas, dan Perang Jawa.
Yuditeha menulis sebuah paragraf yang berkesan: “Orang-orang kecil semakin tidak mengerti bagaimana wujud dan rasa daun teh yang benar-benar murni. Apa yang dikenal dari daun teh, orang-orang kecil hanya bisa menikmati sisa dari daun-daun teh yang jika diperhatikan lebih banyak gagangnya daripada daunnya.”
Dahulu, rakyat tak bisa merasakan harum dan nikmatnya teh meski tumbuh di tanah-tanah mereka. Ini terjadi karena monopoli dan pembatasan yang dilakukan pihak bangsawan. Rakyat hanya diperdaya lalu diperas keringatnya demi keuntungan beberapa pihak. Saat ini, mungkin para bangsawan sudah tidak melakukan hal demikian, tapi masalah sejenis itu tetap ada, hanya aktornya berubah menjadi para pemodal dan pejabat negara yang culas.
Saya meyakini, buku yang menarik adalah ketika selesai dibaca membuat pembacanya resah lalu nekat menguras dompet. Babad Kemuning memainkan peran demikian. Setelah mengkhatamkannya, kepala saya dihujani banyak pertanyaan lalu nekat menukar jatah makan beberapa hari demi membeli buku-buku yang berkaitan.
Pada akhirnya, saya bertemu kumpulan cerita pendek berjudul Teh dan Pengkhianat (2019). Iksaka Banu mengisahkan konflik perkebunan teh yang melibatkan kaum kolonial, bangsawan, rakyat, dan Sentot (panglima pasukan Diponegoro). Lalu, buku Pembalasan Dendam Diponegoro susunan Martin Bossenbroek (2023) kini juga ada di tangan saya. Buku yang menyingkap sisi-sisi Perang Jawa, mulai dari biografi, sastra, dan seni rupa yang disorot dalam sejarah besar.
Lewat Babad Kemuning, sejarah menjadi terasa lebih luwes untuk diterima setelah bertahun-tahun dibuat kaku oleh institusi sekolah. Ingatan tentang sejarah tak lagi soal menghafal tahun-tahun dan merangkum buku pelajaran hingga jari keriting, tetapi menjadi penuh teka-teki, pertanyaan, dan rasa penasaran. Novel ini memberi angin segar dalam mengenal sejarah, khususnya bagi orang-orang yang tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah.
Terlepas dari menariknya novel ini, yang mungkin bisa disesali, sengaja atau tidak, penulis kurang menggambarkan situasi keseharian yang justru bisa menjadi tanda di zamannya. Cerita akan menjadi lebih menarik ketika dokumentasi tentang makanan, pakaian, tumbuhan, hewan-hewan, dan alat-alat yang digunakan pada masa itu turut dimunculkan.
Anak dan Perempuan
Buku Babad Kemuning tidak sekadar menceritakan soal teh tetapi menarik mata pembaca untuk berpikiran soal Pangeran Diponegoro lewat tokoh Aryawira. Cara ini dirasa lebih manjur mengenalkan tokoh sejarah pada masyarakat ketimbang lewat gambar di uang kertas, sebutan jalan, patung di tengah kota, hingga nama universitas.
Mendapati pengisahan tempat bermain anak-anak dijadikan perkebunan teh di novel Yuditeha, juga mendorong saya untuk kembali membuka buku Neil Postman yang berjudul Selamatkan Anak-anak (2009). Buku ini berupaya menggali sejarah dan bahaya yang mengancam anak-anak di tengah masyarakat kapitalis yang cenderung tak terkendali dan mengobjektifikasi anak tanpa kenal ampun.
Pengisahan soal perempuan dalam novel Babad Kemuning cukup tekun saya cermati, terutama menyangkut Karel dan Gendis. Karel digambarkan penulis dengan amat menarik. Ada bagian cerita yang memposisikan Karel berada di ambang dilema, menyerahkan keperawanannya pada Purba Setiaji, bangsawan yang amat brengsek atau melihat keluarganya menderita.
Keputusan yang dipilih Karel memposisikannya pada situasi rapuh tapi sekaligus menguatkan pendiriannya. Aryawira melihat posisi yang terjadi pada Karel dengan sikap kesatria, tanpa menyudutkan apalagi menempatkan Karel pada situasi sulit. Kombinasi ini saya lihat sebagai upaya meruntuhkan mitos keperawanan yang mengobjekifikasi perempuan dalam urusan seksualitas.
Perempuan selanjutnya adalah Gendis, pengusaha bunga, anak dari bangsawan Drajat Prayitna. Gendis memutuskan untuk tidak menikah meski banyak laki-laki berharap. Ia lebih memilih membuka dirinya untuk banyak anak-anak di sekitar. Keputusan yang dipilih Gendis mengingatkan saya pada suara Kartini, perempuan yang hidup melampaui zamannya.
Di surat tanggal 2 September 1902, yang ditujukan kepada Nyonya Abendanon, Kartini menulis: “... bagi kami lebih tinggi ibu yang jadi ibu karena hati sanubarinya itu daripada ibu yang telah jadi ibu karena badannya.” Seorang perempuan yang mengorbankan diri demi kepentingan orang lain dengan segala rasa cinta, ketulusan dan kebaikan yang ada di dalam hatinya, perempuan itu “ibu” dalam hati sanubarinya.
Kartini mengartikan kata ibu lebih bermakna kuat pada kerja-kerja sosial yang memberi manfaat kepada orang lain daripada persoalan biologis. Demikian pula yang dilakukan Gendis.
Judul: Babad Kemuning
Penulis: Yuditeha
Penerbit: Kompas
Tahun: 2025
Ketebalan: vi + 180 (186 hlm.), 15 cm x 23 cm
ISBN:978-623-523-566-0
Editor:


