Buku itu berkah. Pada masa lalu, rumah-rumah mungkin merindu buku. Indonesia masih miskin buku, tak mudah mengajak buku-buku menjadi penghuni rumah. Di sekolah atau perpustakaan, jumlah buku masih sedikit. Koleksi itu digunakan bergantian dengan cara peminjaman atau dibaca di tempat. Buku masuk rumah itu berkah.
B Herry-Priyono (2011) mengenang: “Zaman itu di rumah tidak banyak buku… Saya masih ingat, ibu sesekali menangis ketika memperoleh beberapa buku untuk bacaan anak-anaknya. Ayah tersenyum diam ketika membawa pulang untuk anak beberapa buku yang berhasil ia pinjam dari perpustakaan kantornya.” Buku masuk rumah dalam waktu terbatas. Ia mengisahkan babak Indonesia, buku, dan rumah berlatar 1960-an dan 1970-an.
Novel berada di tangan. Ia membaca dengan serius. Novel berbahasa Jawa bisa khatam. Kejadian silam: “Saya masih ingat membaca di kamar mandi sampai menangis novel Kumpule Balung Pisah.” Novel itu digubah Saerozi. Pada masa dewasa, ia tak menjadi pengarang cerita. Ia justru menekuni masalah-masalah filsafat dan sosial-politik. Buku besar dan tebal pernah ia persembahkan sebagai bacaan penting di Indonesia berjudul Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi (2018).
Kita mengetahui buku menjadi berkah bagi keluarga insaf pengetahuan. Rumah tak sekadar tempat memasak, makan, tidur, atau berbincang. Rumah itu membentuk biografi pembaca. Peristiwa membaca di rumah tak mengharuskan pembelian dengan anggaran besar atau terbatas. Keberanian dan keberhasilan meminjam buku di perpustakaan untuk masuk ke rumah mencipta ketakjuban terkenang sepanjang masa. Pilihan membaca di rumah disesuaikan peristiwa-peristiwa diadakan setiap hari. Konsekuensi berbeda bila sengaja membawa raga ke perpustakaan untuk membaca buku di tempt. Suasana rumah mungkin menentukan derajat dan gairah memasuki buku.
Buku di rumah kadang sekadar teringat dalam lakon abad XX. Rumah masih memiliki meja dengan tumpukan majalah, koran, dan buku. Di tembok, kita bisa mengimajinasikan rak. Buku-buku pun bisa ditaruh di lemari bersama benda-benda berbeda. Pemandangan atas nama nostalgia.
Kita mengikuti nostalgia dibawa Azyumardi Azra (2004). Sejak kecil, ia sudah bersama buku meski terbatas. Di rumah, ia mengerti kondisi keluarga. Bapak bekerja sebagai tukang batu dan ibu bekerja menjadi guru agama. Ia beruntung dengan ketelatenan ibu diceritakan: “… memiliki sejumlah buku yang terdiri atas buku-buku agama yang digunakannya untuk mengajar dan beberapa buku lain, khusunya buku sastra Pujangga Baru.” Azra membaca novel-novel gubahan Abdoel Moeis dan Hamka. Pada masa bertumbuh remaja, ia “membaca banyak novel, cerita pendek, puisi, dan tidak kurang pentingnya cergam (cerita bergambar) dan cerita-cerita silat.”
Pada saat dewasa, ia tak dikenal sebagai penggubah cerita atau puisi. Indonesia justru mendapat persembahan tulisan-tulisan bermutu dan berpengaruh. Ia suka menulis esai atau kolom. Di derajat intelektual makin meninggi, ia menggarap buku-buku berbobot mengenai sejarah, agama, pendidikan, politik, dan lain-lain. Kita mengingat satu buku terpenting dari Azra: Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1994). Buku mengesahkan ketekunan sebagai sejarawan dan pemikir sosial-politik di Indonesia.
Kita seolah melihat Azra di rumah menikmati waktu-waktu bergulir dengan tangan membuka halaman-halaman buku. Putaran detik itu cepat tapi Azra tak ingin ditinggalkan sia-sia. Buku tak menghentikan waktu. Pembaca justru merasakan jalan waktu itu jalan kata. Ia bertumbuh bersama sastra tapi tak mewajibkan diri menjadi pengarang fiksi. Rumah itu alamat bacaan, membentuk biografi: sejak kecil sampai tua.
Dua nostalgia mengingatkan rumah dan buku. Mereka betah di rumah gara-gara gairah bacaan. Pilihan membaca novel memberi pengaruh besar. Novel-novel terbaca tak menentukan mereka menempuh jalan sastra. Novel itu rujukan mengenali dan mengerti manusia. Novel itu hidup. Mereka tak berpamrih sebagai pembaca novel-novel bakal bersaing membuat cerita.
Pengisahan rumah dan buku menguat ketimbang kita masih saja berpikiran sekolah dan buku. Di sekolah, para guru dan murid sibuk dengan buku. Kita mengira kesibukan membaca buku-buku pelajaran membikin lelah dan bosan. Sekolah menjadi tempat (hampir) tanpa cerita. Novel-novel ada di sekolah untuk pelajaran (singkat) dan kepatutan saja dalam pemenuhan dalil-dalil kurikulum. Kenikmatan membaca novel di sekolah mungkin sering direcoki sekian mata pelajaran meminta perhatian besar.
Kenikmatan membaca novel di rumah dipengaruhi ketiadaan urutan jadwal mata pelajaran dan selingan (istirahat) seperti di sekolah. Pembaca di rumah tetap memiliki kesibukan-kesibukan tapi pilihan waktu membaca novel terasa luwes. Duduk di kursi atau berbaring di ranjang atau berdiri dekat jendela menjadi siasat raga terlena dalam cerita. Rumah makin sah sebagai tempat “terbaik” untuk membaca novel ketimbang di sekolah.
Pemahaman itu bisa diralat saat bapak dan ibu melihat anak-anak di rumah membaca novel sebagai “pengalihan” dan “pelarian” dari buku pelajaran atau tugas-tugas (sekolah dan rumah). Di tatapan mata, pembaca dan buku itu memberi kesan “membuang waktu”. Konon, “kerugian-kerugian” bakal tercipta gara-gara membaca novel di rumah. Ralat atau bantahan itu dapat memperpanjang debat.
Pada saat berdebat, kita perlahan sadar buku-buku tiada lagi di rumah. Kita makin kesulitan menemukan dan melihat buku-buku (cetak) di atas meja, rak, atau lemari. Buku-buku pelajaran masih ada. Kita sekadar ingin kembali mengikuti nostalgia dua intelektual merasa “istimewa” dengan membaca novel-novel di rumah. Kita mengerti itu sekadar nostalgia.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


