Bulu Tangkis: Berita, Puisi, Pengarang

Bulu Tangkis: Berita, Puisi, Pengarang

Berita-berita lama membuat kita bernostalgia. Berita tak harus melulu politik. Kita memerlukan berita olahraga agar hidup tetap berkeringat, bukan bersengketa menggunakan kata-kata menghujat. Di Indonesia, kliping berita-berita lama bertema olahraga bisa membawa kita ke pengenalan tokoh, sejarah, situasi kota, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Berita-berita dibaca lagi cukup memberi petunjuk kesilaman.

Di Pemberita Makassar, 16 Desember 1935, dimuat berita mengenai badminton atau bulu tangkis. Kita mengutip: "Semalem dengen bertempat diroemah toean Oei Soang Goan, Endehstraat, telah dilangsoengken vergadering pendirian bond dengan dihadiri oleh 11 perkoempoelan badminton kota ini. Semoea perkoempoelan jang hadir telah masoek mendjadi anggota Badminton Bond Makassar, jaitoe Lajang, Sunrise, Sultania, Lompobattang, Taripang, Sinar, Mamadjang, Klenteng, Tionghoa, Hwa Kiauw, dan MOS." Berita pembentukan perkumpulan itu mengartikan bulu tangkis digemari publik. Pada masa 1930-an, orang-orang memegang raket untuk berkeringat atau tampil sebagai juara.

Kita membuka lagi berita lama dalam terbitan Olahraga, 21 Mei 1940. Di situ, ada sedikit ulasan sejarah bulu tangkis. Pembaca menemukan keterangan penting meski diharuskan melacak beragam referensi. Kita mengutip: "Permainan badminton telah diimport kesini dari Singapore, dan telah mempoenjai hikajat di Indonesia koerang lebih 10 tahoen lamanja. Lebih djaoeh pembatja tentoe ingin tahoe permoelaanja dari itoe…” Kita mendapat pengetahuan olahraga baru tapi lekas diterima dan digemari.

Dua berita lama itu termuat dalam buku berjudul Wajah Bangsa dalam Olahraga: 100 Tahun Berita Olahraga susunan Hendry Ch Bangun. Kita sejenak bernostalgia mengenai kedatangan dan pertumbuhan bulu tangkis di pelbagai kota. Perkumpulan dan kompetisi diadakan dalam memajukan bulutangkis meski menunggu lama untuk menjadi PBSI pada masa 1950-an. 

Kita sandingkan dengan berita baru. Di Kompas, 19 Maret 2024, kita membaca Kisah di Balik Gelar Juara Jonatan di All England. Indonesia bertepuk tangan dan bangga. Jonatan Christie meraih gelar juara setelah mengalahkan Ginting. Kita membaca pengisahan bapak mengenai Jonatan Christie (Jojo) masa silam: “… capaian Jojo di Inggris tidak lepas dari perjuangan, tanggung jawab, konsistensi, kerja keras, dan dedikasinya dalam latihan. Upaya dan sikap yang ditunjukkan Jojo itu sudah tumbuh jauh sebelum ia masuk pelatnas bulu tangkis Indonesia.” Sejak kecil, Jojo keranjingan bulu tangkis dengan bimbingan bapak. Keberhasilan di All England itu capaian dari ketekunan, pengorbanan, dan kemauan.

Bulu tangkis tak sekadar memicu penulisan berita-berita. Kita mungkin ingin jeda dari berita-berita untuk mengetahui pemaknaan bulu tangkis. Sekian orang memilih membaca buku atau menonton film bertema bulu tangkis. Jeda agak seru jika kita membaca puisi. Orang-orang tak menduga bila bulu tangkis pernah mendapat perhatian besar Taufiq Ismail. Pada 1973, ia menggubah puisi berjudul Bulutangkis. Puisi cukup panjang mengandung hasrat, propaganda, kocak, dan nasihat.

Kita membaca mumpung Indonesia sedang bersukacita bulu tangkis. Taufiq Ismail mengumumkan: Bulutangkis telah lama menggetarkan hati jutaan anak-anak Indonesia, anak-/ anak kecil, anak muda dan juga anak-anak tua.// Sejak sekolah menengah pertama dua puluh tahun yang silam aku sudah/ berlatih bek-hen lewat pinggang belakang, kepingin punya raket/ mahal dan pernah berambisi jadi juara kampung, kecamatan.// Sebagai kanak-kanak kota pedalaman, tatkala enam belas tahun umurku, aku/ tegak-tegak di depan etalase toko sport India di Pasar Baru/ tercengang dan kagum pada raket Dunlop bergagang logam putih/ dan shuttle-cock berkepala merah muda. Ia mengenang masa lalu saat keranjingan bulu tangkis. Indonesia makin bergirang bulu tangkis setelah raihan kejuaraan-kejuaraan dunia. Anak-anak berpikir bakal menjadi pemain bulu tangkis taraf internasional dan memuliakan Indonesia di mata dunia. 

Pada saat dewasa, Taufiq Ismail masih berpikiran bulu tangkis. Ia tak mutlak mengurusi sastra. Pengalaman sebagai pemain dan penonton memberikan bekal dalam obrolan-obrolan berlagak pengamat. Taufiq Ismail mengisahkan: Secara lumayan aku bisa bicara tentang badminton kampung sampai badminton/dunia, juga menilai main net Tan Yoe Hok, taktik Ferry Sonneville, tingkah Svend Pri, smes Rudy Hartono, muslihat RRC, dan/ dukun-dukun Muangthai serta selusin lagi analisa warung kopi di/ Taman Ismail Marzuki. Kita mulai mengetahui orang-orang sastra pun menggemari bulu tangkis, tak selalu sepak bola. 

Puisi gubahan Taufiq Ismail membuktikan kepekaan dalam pengisahan bulu tangkis. Kita masih mungkin menemukan sekian puisi bertema bulu tangkis meski tak mudah diperoleh. Sastra bertema olahraga memberi selera dan pemaknaan berbeda bila dibandingkan kebiasaan kita membaca berita-berita olahraga. Kita berhak mengusulkan agar pemajuan bulu tangkis di Indonesia disempurnakan dengan mengadakan lomba penulis novel, cerita pendek, dan puisi oleh PBSI atau kementerian. 

Kita mengusulkan nama juri: Gola Gong. Kita telanjur mengenali Gola Gong dengan novel berjudul Balada Si Roy. Ia memang rajin menggubah cerita. Ketenaran gara-gara cerita, dilanjutkan membuat Rumah Dunia bermisi literasi. Kita membuka buku berjudul Anak-Anak Matahari (2006) untuk mengetahui kaitan Gola Gong, bulutangkis, dan cerita. 

Gola Gong mengenang: “Hal sulit itu puncaknya ketika di kelas 6 SD. Ada pelajaran olahraga badminton. Semua murid berkumpul di aula sekolah. Guru olahraga melarangku ikut karena aku dianggap tidak akan bisa bermain badminton dengan satu tangan. Aku pulang ke rumah dengan darah bergolak dan mengadu kepada bapak. Aku meminta bapak agar mengajariku badminton. Aku ingin membuktikan bahwa yang dikatakan guru olahragaku itu salah. Bapak tidak marah. Tapi, emak marah dan berencana hendak mendatangi si guru olahraga. Bapak melarang.” Pada saat kelas 4 SD, satu tangan Gola Gong diamputasi. Ia melanjutkan biografi dengan satu tangan tapi enggan putus asa.

Ia rajin latihan dan menonton beragam pertandingan bulu tangkis di TVRI. Ia mengenal nama-nama besar. Bulu tangkis menjadikan Gola Gong memiliki kehormatan setelah sekian kemenangan di pelbagai kejuaraan: “Ketika memasuki SMA, kawan-kawan sudah tidak mempermasalahkan kondisiku yang cacat. Mereka justru selalu memperhitungkanku. Jiwaku sudah tertempa. Orang-orang dan situasi yang baru tidak membuatku minder. Aku merasa sudah bisa bersaing dengan orang lain. Badminton membuatku menjadi seseorang. Badminton menjadikanku orang yang harus diperhitungkan. Mereka tidak akan bisa menganggapku remeh.” Kita takjub dengan keberanian, ketekunan, dan pembuktian. Biografi itu mengesahkan Gola Gong menjadi juri jika diadakan lomba penulisan sastra bertema bulu tangkis. 

Kita makin sadar bulu tangkis tak selesai dengan berita-berita. Gubahan sastra pun mengisahkan bulu tangkis. Biografi pengarang memuat bab mengenai bulu tangkis. Nostalgia berita dan pemaknaan bulu tangkis dalam sastra kita akhiri dengan bait buatan Taufiq Ismail: Aku mesti mengatakan bahwa pemain bulutangkis itu seniman/ komposisi yang amat cantiknya dan secara otomatik mengatur/ sendiri dengan amat seimbang proporsi di arena persegi/ empat tanpa pretensi mau indah sama sekali. Kita dalam bujukan memandang bulu tangkis itu olahraga dan seni. Begitu. 
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo