Di Indonesia, dini hari itu waktu menonton pertandingan sepak bola. Para penonton tak berada di stadion. Mereka berada di depan televisi. Dini hari dengan keheningan justru “direcoki” teriak dan omelan saat menonton sepak bola.
Kamis, 23 Mei 2024, mereka menonton final Liga Europa. Orang-orang berharap Bayer Leverkusen (Jerman) mengalahkan Atalanta (Italia). Menit-menit berlalu, kecewa mulai terasakan dan sejumput sesalan. Tiga gol dibuat Lookman. Bola itu masuk ke gawang Bayer Leverkusen. Kalah! Klub asal Jerman itu resmi kalah setelah 51 pertandingan selalu menang dan imbang.
Kalah itu memberi sedih. Para penonton menunduk tapi menemukan bukti: kalah. Di sejarah dan perkembangan sepak bola, kalah itu bisa memberi derita dan penghinaan. Kalah pun justru menimbulkan gairah dan keinsafan dalam membuat ralat-latar. Kalah kadang mengondisikan pelatih dan pemain mengerti kehormatan. Mereka memang mendapat ejekan, kutukan, dan sumpah serapah. Kalah memicu “neraka” sejenak, berlanjut alur menuju masa depan.
Kita melihat orang-orang itu murung, menangis, dan menutup wajah. Kalah lumrah disahkan air mata dan permintaan maaf. Kalah menjelaskan menang bukan perkara gampang. Dini hari tanpa bahagia bagi para pendukung Bayer Leverkusen. Matahari mau terbit tapi sedih belum usai. Kamis itu hari libur, orang-orang mendapat kutukan sedih dan kemalasan. Sepak bola memang tak selalu “gairah”. Sepak bola berjudul kalah kadang menimbulkan masalah-masalah.
Pagi telah datang. Kita mendingan berimajinasi sebagai bocah. Tanggal merah atau hari libur dinikmati dengan bermain bareng teman-teman. Di desa, lapangan, kebun, atau pekarangan masih mungkin digunakan bermain oleh puluhan anak. Pagi itu waktu terbaik bermain sepak bola. Kita dalam pengandaian bocah-bocah itu menikmati permainan, bukan turut dalam pertandingan-pertandingan penuh aturan dan industrial. Sepak bola itu permainan.
Bocah-bocah mengerti dalam permainan menghasilkan menang dan kalah. Mereka memilih bergairah dan senang. Pada saat bermain, mereka berhak tertawa dan bergurau. Permainan saat pagi, permainan tak menuntut piala atau medali. Mereka ingin bergembira meski diselingi sewot dan jengkel. Bermain sepak bola dengan siasat-siasat lugu. Kita biasa melihat mereka menaruh dua sandal sebagai tanda gawang. Kaki mereka tak wajib bersepatu. Wasit boleh absen. Bermain itu raihan gembira sambil menikmati lelah dan berkeringat.
Pada masa lalu, bocah dan sepak bola lekas diurusi oleh perusahaan-perusahaan memerlukan iklan-iklan memikat. Perusahaan ingin bocah-bocah menjadi konsumen setelah tergoda iklan dan merasa menemukan gairah saat menghadapi iklan. Sepak bola menjadi tema besar dalam periklanan meminta perhatian bocah-bocah.
Perusahaan margarin bermerek terkenal (BB) pernah mengadakan iklan menampilkan bocah-bocah bermain sepak bola. Di majalah Femina, 17 Agustus 1976, iklan hitam-putih itu sehalaman. Janji disampaikan: “Perhatikan mereka tumbuh dengan BB yang lezat.” Setengah halaman menampilkan tiga bocah bermain sepak bola. Mereka bercelana pendek dan mengenakan kaus. Di kaki, ada sepatu. Mereka berada di lapangan. Di pinggir lapangan, tampak bapak dan ibu memberi semangat. Kita melihat bocah-bocah dalam pertandingan, berbeda dari corak “permainan”.
Selama puluhan tahun, iklan itu seperti memberi “kebenaran” hubungan roti, margarin, dan sepak bola. Keterangan dalam iklan: “Perhatikanlah mereka: berlari, bermain dan giat sepanjang hari. Perhatikanlah bagaimana mereka tumbuh sehat sebab setiap hari mereka menikmati BB dioleskan pada roti atau kue…” Di desa, bocah-bocah bermain di pekarangan, jalan, atau kebun, belum kepikiran roti dan margarin. Mereka tak memiliki ketetapan: roti dan margarin menentukan kekuatan dan keberuntungan untuk menang.
Kita mundur jauh ke masa 1950-an. Bocah dan sepak bola telah ditampilkan dalam iklan. Di majalah Aneka, 20 Januari 1957, iklan dari BB tampak memikat. Empat kotak gambar bercerita sepak bola. Tokoh utama bernama Giman. Kita mengutip cerita: “Murid-murid senang, sebab hari latihan sepak bola. Guru memperhatikan Giman jang nampak lemah sekali. Waktu beristirahat, Pak Guru memberi Giman roti berlapis BB. Kegiatan Giman timbul kembali dan dengan mudah mengalahkan lawannja.”
Di kota terakhir, Giman menendang bola dengan keras. Bola mengarah ke gawang. Gol! Giman memenangkan pertandingan atau permainan. Cerita itu memberi pesan jika roti dan margarin memberi kekuatan. Santapan berpengaruh dalam raihan kemenangan. Bocah-bocah gemar makan roti bisa terhindar dari kalah. Iklan itu legendaris gara-gara tokoh bernama Giman. Kita sulit berimajinasi para pemain Bayer Leverkusen makan roti dan margarin sebelum pertandingan final Liga Europa. Mereka mungkin menang. Mereka bakal mengalahkan Atalanta. Kita mustahil mengetahui Lookman, pencetak tiga gol untuk Atalanta, makan roti berlapis margarin sebelum berlari di lapangan. Kita memastikan Giman dan Lookman berbeda selera makanan.
Pada masa 1950-an, para pembaca buku di Indonesia mengenali tokoh bocah bukan Giman. Mereka menemukan dalam buku berjudul Dikampung, dua susunan Mohammad Sjafei dan Mara Sutan. Pada 1959, buku terbitan JB Wolters itu mengalami cetak ulang ketujuh.
Kita mengutip cerita: “Pada suatu hari, si Ali melambung-lambungkan bal (bola) di halaman rumahnja, maka tampaklah kepada si Azis.” Ali bergembira menemukan rekan bermain bal. Ia pun berucap: “Mari kita main tembak-tembakan gol, Zis! Kau disana, aku disini.” Mereka ingin membuktikan kekuatan untuk mencetak gol. Perubahan terjadi: “Seketika itu djuga keduanja berlari hilir mudik mengedjar bal. Ajam jang ada dihalaman rumah itu berlarian kesana kemari karena takut kena bal. Barangkali disangkanja si Ali dan si Azis berkelahi.” Dua bocah bergembira dengan bermain bola. Mereka tak perlu memikirkan klub-klub besar di dunia. Mereka tak mengetahui kesaktian Ronaldo dan Messi dalam urusan mencetak gol.
Iklan dan bacaan bocah masa lalu sedikit mengurangi sedih bagi kita menjadi saksi kekalahan Bayer Leverkusen dalam final Liga Europa. Kalah tak membuat terhina. Pelatih dan pemain tetap terhormat dengan segala capaian selama semusim.
Di Indonesia, kita mudah mengingat nama-nama tenar dalam sepal bola Eropa. Kita malah sering lupa nama-nama digunakan dalam iklan dan bacaan bertema sepak bola. Kini, kita mengingat lagi bocah-bocah bermain sepak bola tanpa janji menjadi pemain taraf dunia. Mereka bernama Giman, Ali,dan Azis. Tiga bocah pernah menjadi pemicu gairah dan gembira bermain sepak bola. Begitu
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


