7 Keutamaan Menikah, dari Ibadah hingga Miniatur Surga

7 Keutamaan Menikah, dari Ibadah hingga Miniatur Surga

Arina.id - Saat ini, banyak sekali kelompok masyarakat yang menyepelekan arti penting sebuah pernikahan. Bahkan secara ceroboh ada beberapa seruan di media sosial yang mengajak agar tidak usah menikah agar tidak menumpuk dosa. Faktanya, pernikahan adalah salah satu ikatan suci yang tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan dan pahala yang besar dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam Islam, pernikahan sering kali digambarkan sebagai “gerbang surga” bagi laki-laki dan perempuan. Ini bukan tanpa alasan. Melalui pernikahan, banyak aspek ibadah, kesabaran, dan cinta kasih dapat dijalankan, yang kesemuanya dapat membawa seseorang menuju keridhaan Allah dan, insya Allah, jalan ke surga.

1. Pernikahan sebagai Ibadah yang Berpahala

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan emosional atau kontrak sosial, melainkan bentuk ibadah. Setiap tindakan yang dilakukan suami-istri, mulai dari saling memperhatikan, bekerja sama dalam kebaikan, hingga saling mencintai, adalah bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala. Bahkan, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hal-hal kecil dalam pernikahan, seperti bercanda atau berhubungan suami istri, pun bisa berpahala ketika diniatkan karena Allah.

Terdapat sebuah hadits yang menjelaskan hal demikian, yakni:

إن الرجل إذا نظر إلى امرأته ونظرت إليه نظر الله إليهما نظرة رحمة فإذا أخذ بكفها تساقطت ذنوبهما من خلال أصابعهما

Artinya: “Apabila seorang suami memandang istrinya dan istrinya memandang suaminya maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan rahmat (kasih sayang). Dan jika suami memegang tangan istrinya maka dosa keduanya akan berguguran dari celah jari-jarinya”.

Hadits lain dalam redaksinya yang cukup panjang bahkan menjelaskan bahwa hubungan suami-istri bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan baik:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Artinya: "Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah SAW berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka”. Nabi SAW bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah“. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah SAW menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.  (HR. Muslim no. 2376)

2. Menjadi Ladang Sabar dan Kesucian Hati

Pernikahan adalah gerbang untuk belajar kesabaran dan ketulusan. Tidak ada hubungan yang terbebas dari ujian, dan dalam pernikahan, ujian itu mungkin lebih besar karena ada tanggung jawab, kebiasaan, dan sifat yang berbeda. Suami dan istri akan diuji untuk tetap bersabar dan memahami satu sama lain. Kesabaran ini menjadi nilai ibadah yang sangat besar di sisi Allah dan bisa menjadi jalan bagi keduanya untuk memasuki surga.

Seorang suami yang sabar atas omelan istrinya bahkan dijamin Rasulullah SAW akan mendapatkan pahala setara pahala Nabi Ayyub AS.:

وَرُوِيَ عَنِ الَّنبِي صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ مَن صَبَرَ عَلَى سُوءِ خُلُقِ امْرَأَتَهِ أَعْطَاهُ اللّٰهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَا أَعطَا أَيُّوبَ عليه السلام عَلى بَلَاءِهِ 

Artinya: "Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: "Barang siapa sabar atas jeleknya akhlak istrinya, maka Allah memberikan pahala kepada dirinya seperti pahala yang diberikan Allah kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan (yang menimpa)."

Sebagaimana kita maklumi bersama bahwa Nabi Ayyub ialah Nabi Allah yang diuji dengan jalan diberikan berbagai macam penyakit dan kehilangan harta benda serta keturunan. Beliau menjalani semua itu dengan penuh kesabaran.

3. Sarana Menuju Ridha Allah melalui Peran dan Tanggung Jawab

Dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang diamanahkan oleh Allah. Suami memiliki kewajiban sebagai pemimpin rumah tangga yang bertanggung jawab untuk menjaga, melindungi, dan menafkahi keluarganya. Sebaliknya, istri memiliki peran penting dalam menjaga rumah tangga, mendidik anak, dan mendukung suaminya. Ketika masing-masing menjalankan peran ini dengan baik, maka mereka menjalani kehidupan pernikahan yang membawa ridha Allah.

Suami yang berusaha melindungi keluarganya dan membimbing mereka ke jalan Allah memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Sebaliknya, istri yang taat kepada suami dan menjalankan peran keibuannya dengan ikhlas juga akan mendapatkan pahala yang besar.

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Artinya: “Apabila seorang wanita mendirikan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad)

4. Saling Menolong dalam Kebaikan dan Ketakwaan

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa laki-laki dan perempuan adalah penolong satu sama lain. Suami dan istri yang menikah karena Allah memiliki tujuan yang sama: menjadi lebih baik dan lebih taat kepada Allah. Melalui pernikahan, mereka saling membantu untuk menguatkan ibadah, menjaga diri dari dosa, dan terus mengingatkan dalam kebaikan. Dengan saling menasihati dan menjaga, pasangan suami istri bisa bersama-sama meraih keridhaan Allah, yang menjadi jalan menuju surga.

Dalam surat An-Nisa ayat 19, Allah SWT memberikan perintah tegas untuk memperlakukan istri dengan sebaik mungkin (ma’ruf). Sebagian dari kebaikan tersebut ialah dengan saling mendukung:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf” 

Dalam surat Al-Baqarah ayat 228. Allah SWT juga menfirmankan hal yang sama:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”

5. Anak Saleh sebagai Penerus Amal Jariyah

Melalui pernikahan, pasangan suami istri dapat melahirkan keturunan yang saleh dan salehah. Dalam Islam, anak yang saleh adalah amal jariyah yang terus mengalir pahalanya meskipun orang tua sudah meninggal. Orang tua yang mengajarkan kebaikan dan menanamkan nilai-nilai Islam pada anak-anaknya akan mendapat balasan yang besar di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

6. Surga bagi Suami yang Memuliakan Istri dan Istri yang Taat

Bagi seorang suami, memuliakan dan memperlakukan istrinya dengan baik adalah salah satu jalan menuju surga. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwa lelaki terbaik adalah mereka yang memperlakukan istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Demikian juga, istri yang taat dan berbakti kepada suaminya serta menjaga amanah rumah tangga akan mendapatkan balasan surga.

Sayyidah Aisyah RA. meriwayatkan sebuah hadits, dimana Rasulullah SAW menyatakan:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

7. Mewujudkan Rumah Tangga sebagai Miniatur Surga

Pernikahan juga memberikan kesempatan bagi suami dan istri untuk menciptakan “surga” dalam rumah tangga mereka. Rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang, kebahagiaan, dan keberkahan menjadi cerminan kehidupan surga di dunia. Dengan hidup saling mendukung dan saling memahami, rumah tangga menjadi tempat yang penuh kedamaian dan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga.

Dalam surat Ar-Rum ayat 21, Allah SWT berfirman:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” 

Pernikahan adalah gerbang surga yang Allah siapkan bagi laki-laki dan perempuan yang mau menjalankan kehidupan rumah tangga dengan ikhlas, sabar, dan penuh rasa tanggung jawab. Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan dunia, tetapi juga ladang untuk mengumpulkan pahala menuju akhirat. Suami dan istri yang menjalani pernikahan dengan niat ibadah, ketakwaan, dan saling mendukung dalam kebaikan, insya Allah, akan meraih keridhaan Allah dan meraih surga sebagai ganjaran yang indah. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo