Tata Niat! Inilah Tujuan Utama Ibadah Haji dan Umrah

Tata Niat! Inilah Tujuan Utama Ibadah Haji dan Umrah

Arina.id - Ibadah haji dan umrah merupakan dua amalan istimewa dalam Islam yang dilakukan langsung di Tanah Suci Makkah. Keduanya bukan sekadar perjalanan spiritual sesaat, namun sebuah proses penyucian jiwa yang mendalam.

Jika kita mencoba menelisik lebih dalam ke sanubari para jamaah haji dan umrah, nyatanya ada berbagai macam varian motivasi dan niat dalam diri mereka saat melaksanakan ibadah tersebut. Ada yang ingin menuntaskan rasa penasarannya akan vibes seputar Makkah dan juga Madinah, ada yang agar terlihat saleh, ada yang agar mendapat panggilan “haji”, dan lain sebagainya.

Padahal, tujuan utama ibadah haji dan umrah ialah agar seorang Muslim senantiasa mengingat Allah SWT setelah menunaikan ibadah tersebut.

Bukan Sekadar Ritual, Tapi Perubahan Hati

Sering kali orang menganggap haji dan umrah hanyalah sebuah rangkaian ritual: thawaf, sa’i, wukuf, dan lainnya. Padahal, di balik setiap gerakan dan bacaan, terkandung pesan besar: mengembalikan hati kepada Allah dan memperbarui komitmen untuk hidup dalam ketaatan.

Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 200 mengingatkan:

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ

Artinya: "Apabila kamu telah menyelesaikan manasik haji, maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut (mengingat) nenek moyangmu, atau bahkan lebih dari itu."

Ayat ini menegaskan bahwa setelah selesai menjalankan ibadah haji, seseorang seharusnya tidak kembali ke kehidupan duniawi yang melalaikan, melainkan justru semakin giat dalam mengingat Allah.

Haji dan Umrah sebagai Latihan Mengingat Allah

Selama menunaikan haji atau umrah, seorang Muslim dipenuhi dengan berbagai bentuk dzikir dan doa. Dari niat ihram, bacaan talbiyah yang terus-menerus diucapkan, hingga doa-doa saat thawaf dan sa’i, semuanya adalah bentuk kontak hati langsung dengan Allah. Ini adalah latihan intensif agar ketika kembali ke tanah air, hati tetap terhubung dengan-Nya.

Terdapat sebuah hadits Nabi yang menyatakan hal itu, yakni Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّه

Artinya: “Bahwasanya dijadikan (disyariatkan) tawaf di Baitullah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah sebagai penegasan mengingat kepada Allah”

Terkait penjelasan hadits ini, dalam kitab ‘Aun al-Ma’bud, j. V, h. 267 dijelaskan bahwa salah satu hal yang paling ditakutkan ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah ialah lupa kepada Allah:

يَعْنِي إِنَّمَا شُرِعَ ذَلِكَ لِإِقَامَةِ شِعَارِ النُّسُكِ . قَالَهُ الْمُنَاوِيُّ : قَالَ عَلِيٌّ الْقَارِيُّ أَيْ لِأَنْ يُذْكَرَ اللَّهُ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ الْمُتَبَرَّكَةِ ، فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ مِنَ الْغَفْلَةِ ، وَالطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ وَالْوُقُوفُ لِلدُّعَاءِ فيهما فَإِنَّ أَثَرَ الْعِبَادَةِ لَائِحَةٌ فِيهِمَا

Artinya: “Yakni bahwasanya hal-hal tersebut disyariatkan adalah untuk menegakkan syi’ar-syi’ar ibadah. Ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Manawi. Sementara itu, Sahabat ‘Ali berkata bahwasanya hal (pelafalan doa-doa dan pengerjaan peribadatan dalam haji dan umrah) bertujuan agar mengingat Allah di tempat-tempat yang penuh keberkahan. Hal yang paling dikhawatirkan ialah melupakan Allah. Tawaf di Baitullah, wukuf, dan berdoa di keduanya adalah yang paling layak dengan tujuan utama ibadah”.

Tanda Haji dan Umrah Mabrur: Hidup yang Lebih Dekat dengan Allah

Tujuan utama ibadah bukan hanya tercapainya manasik secara sempurna, tetapi perubahan dalam kehidupan setelahnya. Banyak sekali referensi yang menyebutkan bahwasanya seorang haji yang mabrur akan mendapatkan surga dan ia laksana bayi yang baru dilahirkan, dalam arti terbebas dari dosa apapun.

Namun bagaimana tahu haji kita mabrur? Salah satu tandanya adalah jika sepulangnya dari haji atau umrah, seseorang menjadi pribadi yang lebih taat, lebih rajin beribadah, lebih bersih lisannya, lebih lembut hatinya, dan lebih sering mengingat Allah dalam kesehariannya.

Membawa Semangat Ibadah ke Rumah

Setelah kembali dari haji atau umrah, semangat ibadah itu harus dibawa pulang. Jangan biarkan kenangan Tanah Suci hanya menjadi album foto, tetapi biarkan ia menjadi nyala semangat untuk hidup dalam kesadaran akan Allah setiap hari — dalam sholat, pekerjaan, interaksi sosial, bahkan dalam kesendirian.

Haji dan umrah bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang menuju Allah. Tujuan utamanya adalah membentuk hati yang selalu terhubung dengan-Nya. Jika sepulang dari Tanah Suci kita menjadi pribadi yang lebih sering mengingat Allah dalam suka maupun duka, maka sesungguhnya kita telah menyentuh inti dari ibadah itu sendiri. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo