5 Amalan Utama Awal Muharram: dari Minum Susu hingga Menulis Bismillah

5 Amalan Utama Awal Muharram: dari Minum Susu hingga Menulis Bismillah

Arina.id - Selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab, bulan Muharam termasuk salah satu bulan mulia yang memiliki banyak keutamaan. Bulan ini mempunyai hubungan erat dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi. Di samping itu, Muharam merupakan awal penanggalan Hijriah sekaligus menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak amal saleh.

Berikut 5 amalan utama yang dapat dilakukan pada awal bulan Muharam.

1. Menjalankan Puasa Sunah Muharam

Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Muharam adalah melaksanakan puasa sunah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.” (H.R Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pahala puasa satu hari di bulan Muharam setara dengan pahala puasa selama tiga puluh hari.

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَاَن لَهُ كَفَارَةً سَنَتَيْنِ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا

Artinya: “Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa.” (H.R. Ath-Thabarani).

Adapun niat puasa Muharam adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat puasa Muharam karena Allah ta’ala.”

Sedangkan niat puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharam ialah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’ala.”

Sementara niat puasa Asyura pada tanggal 10 Muharam adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’ala.”

2. Membaca Doa Awal dan Akhir Tahun

Amalan berikutnya ialah membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Doa akhir tahun dibaca menjelang Maghrib pada penghujung bulan Dzulhijjah, yakni tanggal 29 atau 30 Dzulhijjah. Sedangkan doa awal tahun dibaca setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharam. Kedua doa tersebut dianjurkan dibaca sebanyak 3 kali.

Berikut doa akhir tahun:

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Sedangkan doa awal tahun berbunyi:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

3. Membaca Ayat Kursi

Amalan lainnya yang dianjurkan pada tanggal 1 Muharam ialah membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki (wafat 1335 H) dalam kitabnya menukil keterangan bahwa amalan tersebut dapat menjadi benteng dari gangguan setan selama setahun penuh dan memiliki banyak manfaat lainnya.

ذَكَرَ بَعْضُهُمْ : أَنَّهُ يُقْرَأُ فِيْ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ آيَةُ الْكُرْسِيِّ ثَلَاثَ مِئَةٍ وَسِتِّيْنَ مَرَّةً مَعَ الْبَسْمَلَةِ فِيْ كُلِّ مَرَّةٍ ؛ فَإِنَّهَا حِصْنٌ حَصِيْنٌ مِنَ الْشَّيْطَانِ الْرَّجِيْمِ فِيْ ذَلِكَ الْعَامِ ، وَفِيْهَا مِنَ الْفَوَائِدِ مَا لَا يُعَدُّ

Artinya: “Sebagian ulama menuturkan: Bahwasanya barangsiapa yang membaca di permulaan bulan Muharam Ayat Kursi sebanyak 360 kali besertaan membaca basmalah di setiap kalinya maka sesungguhnya itu merupakan benteng yang menjaganya dari gangguan setan pada tahun tersebut serta mengandung faidah lainnya yang tidak terhitung.” (Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki, Kanzun Najah Wa As-Surur, h. 66).

4. Menulis Basmalah Sebanyak 113 Kali

Pada awal Muharam juga dianjurkan menulis basmalah sebanyak 113 kali pada selembar kertas, kemudian menyimpannya di tempat yang layak atau membawanya. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki menerangkan bahwa dengan izin Allah, orang yang melakukan amalan tersebut beserta keluarganya akan dijauhkan dari berbagai musibah sepanjang hidupnya.

مَنْ كَتَبَ الْبَسْمَلَةَ فِيْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ مِئَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ مَرَّةٍ .. لَمْ يَنَلْ حَامِلُهَا مَكْرُوْهٌ فِيْهِ وَلَا فِيْ أَهْلِ بَيْتِهِ مُدَّةَ عُمْرِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menulis basmalah pada secarik kertas di awal bulan Muharam sebanyak 113 kali, niscaya orang yang membawanya beserta keluarganya akan diberikan perlindungan, dijauhkan dari segala keburukan (musibah) sepanjang hidupnya.” (Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Makki, Kanzun Najah Wa As-Surur, h. 76).

5. Meminum Susu sebagai Bentuk Tabaruk

Salah satu amalan yang diajarkan oleh Abuya Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (wafat 1425 H) pada malam 1 Muharam adalah meminum susu putih. Amalan ini dilakukan sebagai bentuk tabarukan dan tafaulan, yaitu mengharap keberkahan serta berharap agar tahun yang akan dijalani menjadi tahun yang bersih, penuh kebaikan, dan dipenuhi keberkahan.

Dalam tradisi Islam, tabaruk merupakan salah satu bentuk tawasul melalui sesuatu yang menjadi sebab datangnya keberkahan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki:

يَنْبَغِيْ أَنْ نَعْلَمَ أَنَّ الْتَّبَرُكَ لَيْسَ هُوَ إِلَّا تَوَسُّلًا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِذَلِكَ الْمُتَبَرِّكِ بِهِ سَوَاءٌ أَكَانَ أَثَرًا أَوْ مَكَانًا أَوْ شَخْصًا

Artinya: “Seyogianya kita menyadari bahwa tabarruk atau ngalap berkah itu tidak lain adalah salah satu bentuk tawasul atau wasilah kepada Allah swt melalui suatu pengantar keberkahan baik itu jejak atau bekas, tempat, maupun sosok orangnya.” (Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Hasani Al-Maliki, Mafahim Yajibu ‘An Tushahihah, h. 217).

Ketika meminum susu, dianjurkan membaca doa berikut:

اللهم بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Artinya: “Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami.”

Doa ini berdasarkan hadits riwayat Imam At-Tirmidzi:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَإِذَا سُقِيَ لَبَنًا فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَزِدْنَا مِنْهُ ; فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إِلَّا اللَّبَنُ

Artinya: “Jika salah seorang dari kalian memakan makanan, maka ucapkanlah: Ya Allah berkahilah kami padanya (makanan ini) dan berikanlah kami makanan yang lebih baik darinya. Jika ia diberi susu, hendaknya membaca: Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami. Karena tidak ada sesuatu yang mencukupi dari makanan dan minuman kecuali susu.” (H.R. At-Tirmidzi).

Menjelaskan hadits tersebut, Syekh Mulla Al-Qari (wafat 1014 H) menerangkan:

فِيْهِ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى أَنَّهُ لَا شَيْءَ خَيْرٌ مِنَ اللَّبَنِ وَلِذَا جُعِلَ غِذَاءَ الصَّبِيِّ فِيْ أَوَّلِ الْفِطْرَةِ مَعَ مَا فِيْهِ مِنْ عَجَائِبِ الْقُدْرَةِ الْبَاهِرَةِ حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: نُسْقِيْكُمْ مِمَّا فِيْ بُطُوْنِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Artinya: “Dalam hadits ini terdapat petunjuk yang terang bahwasanya tidak ada suatu minuman yang baik daripada susu, karena itu susu dijadikan sebagai makanan pokok bagi anak kecil di awal masa pertumbuhannya. Disamping itu juga, susu memiliki kandungan yang mengagumkan yang menggambarkan betapa kuasanya Allah Swt. sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: Kami memberi kamu minum dari sebagian apa yang ada dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah (berupa) susu murni yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya.” (Ali bin Muhammad Al-Mulla Al-Qari, Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Masabih, vol. 7, h. 2754).

Demikian 5 amalan yang dapat dilakukan pada awal bulan Muharam. Semoga berbagai amalan tersebut menjadi sarana untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan penuh keberkahan dan kebaikan. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo