Arina.id - Bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah, kerap kali diselimuti mitos dan kepercayaan tertentu di kalangan masyarakat Jawa. Anggapan tentang "bulan nahas" atau penuh kesialan seringkali memicu berbagai tradisi tolak bala.
Di Jawa Timur, salah satu tradisi yang mengakar kuat pada bulan Safar adalah tradisi Jenang Sapar. Lebih dari sekadar hidangan bubur, Jenang Sapar adalah perpaduan unik antara nilai-nilai keislaman dan kekayaan budaya lokal yang sarat makna.
Safar dalam Perspektif Islam dan Tradisi Jawa
Dalam ajaran Islam, tidak ada satu pun bulan atau waktu yang secara khusus membawa kesialan. Semua hari dan bulan adalah sama di hadapan Allah SWT. Keyakinan akan kesialan di bulan Safar sebenarnya lebih berakar pada tradisi dan kepercayaan pra-Islam yang masih hidup di sebagian masyarakat. Nabi Muhammad SAW sendiri telah menolak anggapan bulan Safar sebagai bulan yang membawa musibah.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR al-Bukhari)
Meskipun demikian, adanya keyakinan ini telah melahirkan berbagai tradisi di masyarakat Jawa, termasuk di Jawa Timur, yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan menolak bala. Tradisi ini umumnya disisipi dengan doa-doa dan amalan baik yang sejalan dengan ajaran Islam, seperti sedekah dan silaturahmi.
Jenang Sapar adalah salah satu manifestasi dari upaya masyarakat untuk menyelaraskan kepercayaan lokal dengan nilai-nilai agama.
Jenang Sapar: Simbol Sedekah dan Doa
Jenang Sapar adalah bubur manis yang terbuat dari tepung beras atau ketan, seringkali disajikan dengan kuah gula merah, santan, atau parutan kelapa. Namun, tradisi Jenang Sapar bukan sekadar membuat dan menyantap bubur. Ia memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai berikut:
1. Sedekah dan Berbagi
Inti dari tradisi Jenang Sapar adalah berbagi. Setelah jenang matang, masyarakat akan membagikannya kepada tetangga, sanak saudara, kerabat, atau bahkan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah bentuk sedekah makanan yang sangat ditekankan dalam Islam, sebagai wujud syukur dan kepedulian sosial. Tindakan berbagi ini sekaligus menjadi sarana untuk menolak bala, bukan melalui perbuatan syirik, melainkan melalui amalan baik yang mendatangkan keberkahan.
2. Doa dan Harapan Baik
Pembagian jenang seringkali diiringi dengan doa-doa keselamatan dan keberkahan. Masyarakat berharap agar terhindar dari segala musibah dan diberikan kelancaran rezeki di sepanjang tahun. Doa ini bisa dipanjatkan secara individu maupun kolektif dalam majelis kecil di rumah-rumah atau mushala.
3. Mempererat Silaturahmi
Proses pembuatan jenang yang kadang dilakukan bersama-sama, hingga proses pembagiannya, menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi. Tetangga saling berkunjung, bertegur sapa, dan berbagi cerita sambil menikmati jenang. Ini adalah nilai budaya yang sangat kuat dalam masyarakat Jawa, di mana kebersamaan dan kerukunan adalah pondasi utama.
4. Mengingatkan Asal-Usul
Ahmad Fatoni dalam tulisannya berjudul “Makna Mendalam Tajin Sappar di Bulan Safar” yang dimuat dalam situs nu.or.id (08/11/2021) menyebutkan bahwa oleh masyarakat Jawa Timur, jenang sapar dianggap sebagai sebentuk makanan yang penuh dengan simbolisasi. Warna merah pada jenang mensimbolkan warna sel telur (darah) dari ibu, bentuk jenang yang padat mensimbolkan bibit atau embrio dan warna putih melambangkan sel sperma ayah. Sehingga secara umum, jenang sapar memberikan ingatan kepada kita tentang asal muasal kehidupan kita.
Pelaksanaan Tradisi Jenang Sapar
Tradisi Jenang Sapar umumnya dilaksanakan pada bulan Safar, seringkali bertepatan dengan Rabu Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar. Pada hari tersebut, suasana di kampung-kampung Jawa Timur akan semarak dengan kegiatan memasak jenang. Aroma manis jenang yang khas akan tercium di mana-mana.
Meskipun terdapat variasi dalam penyajian dan pelaksanaannya di berbagai daerah di Jawa Timur, esensi dari tradisi ini tetap sama: berbagi kebaikan, memanjatkan doa, dan menjaga kebersamaan. Jenang Sapar menjadi jembatan antara keyakinan lokal dan ajaran Islam yang menganjurkan sedekah serta kepedulian terhadap sesama.
Tradisi Jenang Sapar adalah contoh nyata bagaimana masyarakat Jawa Timur mampu menyelaraskan kepercayaan budaya dengan nilai-nilai agama. Ia menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu bertentangan dengan ajaran agama, justru bisa menjadi sarana untuk menginternalisasi nilai-nilai luhur seperti kedermawanan, kerukunan, dan kepasrahan kepada Tuhan.
Dengan terus melestarikan Jenang Sapar, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi mendatang. Ini adalah cara cerdas dan bijak untuk memahami bahwa keselamatan dan keberkahan datang dari Allah melalui perbuatan baik dan kepedulian terhadap sesama, bukan dari anggapan kesialan bulan tertentu. Wallahu a'lam.
Editor:


